Hidup memang keras dan kejam. Tapi, bukan berarti harus melacurkan cita-cita dan harapan.
Puthut EA dalam Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

seen from Canada
seen from United States

seen from United States
seen from Canada
seen from T1

seen from United Kingdom

seen from Portugal

seen from Bulgaria
seen from United States
seen from Bulgaria

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Australia
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from Brazil
Hidup memang keras dan kejam. Tapi, bukan berarti harus melacurkan cita-cita dan harapan.
Puthut EA dalam Cinta Tak Pernah Tepat Waktu
"Aku orang yang tidak jujur. Bahkan kepada diriku sendiri. Dan sesuatu di luar sana, entah apa, sedang menghukumku. Aku tidak bahagia."
—Puthut EA, Obrolan Sederhana
Orang yang tidak percaya bahwa orang lain bisa berubah lebih baik, mungkin dia sedang pesimistis terhadap dirinya sendiri.
Puthut EA
Mungkin memang ada sesuatu yang datang, terjadi, hanya untuk sia-sia.
Puthut EA dalam "Cinta Tak Pernah Tepat Waktu"
[ULASAN] Cinta Tak Pernah Tepat Waktu
Beberapa buku mengubah hidupmu. Cara pandangmu, caramu berpikir, caramu mengambil keputusan, dan lain-lain. Kira-kira sebulan atau dua bulan lalu, saya mengulas sebuah coffee shop yang ada di Purwokerto bernama Singgah Coffee and Book, lalu mengirimkan ulasannya ke redaksi minumkopi.com demi mendapatkan buku gratis dari Mojok. Dan saya memilih novel berjudul Cinta Tak Pernah Tepat Waktu karangan Puthut EA, yang ternyata adalah pendiri mojok.co dan minumkopi.com (sebelumnya saya hanya tahu beliau pendiri mojok.co). Membaca buku ini di tengah-tengah kemeriahan lebaran tidak saya sarankan, karena dapat menenggelamkan pembaca dalam kesuraman yang hakiki. Seorang teman telah memperingatkan sebelumnya, “Suram banget lho, Ra. Kalau kamu gampang baper mending jangan baca.” Bukankah pembaca yang baper adalah pembaca yang baik dan memiliki potensi tertinggi untuk memahami cerita yang disampaikan penulis? Lagipula, saya toh tidak pernah benar-benar menikmati suasana lebaran sejak….ah sudah lupa. Apalah artinya sedikit bacaan suram di hari yang fitri?
Pada bagian awal, membaca Cinta Tak Pernah Tepat rasanya seperti menonton film hitam putih yang bisu. Seperti menjadi Tom Hansen di 500 Days of Summer kala ia patah hati. Tapi pada akhirnya, tulisan Puthut EA mengajarkan saya beberapa hal. Pertama, kesedihan tak mesti melulu diungkapkan lewat kata-kata yang berlebihan. Kalimat-kalimatnya cenderung pendek dan lugas. Tapi justru lebih sedih daripada kalimat yang mendayu-dayu. Kedua, tidak semua tokoh utama harus diberi nama. Karakter “aku” dan beberapa perempuan di novel ini tak bernama, tapi kita bisa meraba bayangannya. Ketiga, alur waktu yang selalu dipentingkan ketika pelajaran Bahasa Indonesia membahas unsur intrinsik, juga ternyata terbantahkan. Sampai sekarang saya masih belum sepenuhnya memahami latar waktu di novel ini. Karena bukan maju atau mundur saja, melainkan berlompatan dari satu waktu ke waktu lain.
Setiap kali membaca apa saja, terutama fiksi, hampir selalu ada kepingan diri yang bisa kita temukan dalam tulisan. Begitu pula pada Cinta Tak Pernah Tepat Waktu. (bersambung)
Sebagian isi buku ini tentang pandemi yang sama-sama sedang kita alami. Puthut EA sebagaimana Anda, telah kehilangan banyak hal dalam pandemi ini. Tulisan-tulisan dalam buku ini merupakan sebuah komentar ringan yang hadir untuk merespons, mengusik, mencari tahu, dan bertanya-tanya atas segala hal yang terjadi di sekitar penulis. Sebab menulis di saat seperti ini adalah sebuah bentuk untuk tetap menjaga kewarasan. Puthut EA, Ketika Kita Punya Kecemasan yang Sama, Esai, Yogyakarta, Shira Media, Mei 2022, xii+212 hlm, 69.000 #PuthutEA #KetikaKitaPunyaKecemasanyangSama #Pandemi #ShiraMedia (di Jual Buku Sastra-JBS) https://www.instagram.com/p/CfwKK8qJjBE/?igshid=NGJjMDIxMWI=
Seorang pelatih sepakbola yang sarat dengan prestasi, harus menghadapi tahun-tahun yang menyedihkan dalam kariernya. Ditendang oleh tiga kesebelasan besar secara berturut-turut. Publik menganggap semua itu akan menjadi akhir kariernya sebagai pelatih dengan cara yang tragis. Sebuah klub semenjana, merekrutnya. Sebuah klub yang hanya punya modal para pemain dengan kemampuan yang tak begitu bisa diandalkan, keuangan dari pemilik klub yang juga tak begitu besar. Satu-satunya modal yang dimiliki klub itu hanyalah barisan suporter loyal, kreatif, dan punya sejenis cinta yang ganjil. Dua pihak yang sama-sama sedang di titik terendah itu mencoba berkolaborasi. Seorang pelatih yang nyaris sedang terpuruk, dan sebuah klub sepakbola yang hampir kehilangan harapan untuk tumbuh. Penulis novel ini, mencoba merekam segala situasi dari berbagai sudut, terutama dari sisi psikologis, tanpa tendensi untuk menjadikan novel ini sebagai kisah tentang keajaiban. Namun di sisi lain, kita akan diajak untuk menyelami setiap peristiwa sepakbola, dengan pendekatan dan cita rasa yang berbeda. Mengambil sosok pelatih sepakbola, mungkin saja sebuah pertaruhan yang besar. Sebab kita terbiasa dengan kisah-kisah heroik, yang sepertinya sangat dihindari oleh penulis. Justru karena itu, novel ini punya daya pikat yang unik. Puthut EA, Cinta Bisa Menipis dan Rasa Sayang Bisa Habis, Novel, Mojok, Mei 2022, viii+247 hlm, 88.000 #PuthutEA #CintaBisaMenipisdanRasasayangBisaHabis #Novel #BukuMojok (di Jual Buku Sastra-JBS) https://www.instagram.com/p/Cekg71-hdt8/?igshid=NGJjMDIxMWI=
Para Bajingan yang Menyenangkan karangan @puthutea terbitan @bukumojok Saya bisa mengatakan ini seperti buku biografi. Menceritakan tentang kehidupan penulis bersama kedua temannya. Membaca buku ini saya seperti terbawa pada kehidupan saya pribadi. Kehidupan bersama teman-teman saya. Sebuah kisah kehidupan yang menarik di mana ada beberapa di antara kita yang dinilai tidak punya masa depan, akhirnya mencari jalannya sendiri menghadapi masa depan. Menjalan hari demi hari untuk kesenangan sendiri. Apa yang terjadi dengan tokoh-tokoh di dalam buku ini, beberapa di antaranya saya pun mengalami. Menjalani masa mabuk-mabukan, menghabiskan waktu dengan keisengan, melakukan hal-hal konyol yang tak pernah terpikirkan. Bedanya, saya dan teman-teman saya tidak menghabiskan banyak waktu dengan berjudi. Kami menjalani kisah asmara yang terus berganti. Dari semua hal tersebut, kita - saya dan teman-teman serta tokoh dalam buku ini - akhirnya menyepakati satu hal sepertinya. Kekecewaan, kesialan, kegagalan atau apapun itu disebutnya, merupakan hal-hal yang membahagiakan kita yang lainnya - tentunya yang tidak mengalami hal tersebut. Tapi, dari situ pula akhirnya kami menyadari bahwa menertawakan hal-hal buruk yang menimpa kita, merupakan cara lain menyelesaikan masalah. Ya, perlahan kita terbebas karenanya. Terima kasih untuk buku yang sering kali mengocok perut ini, sebab beberapa di antaranya saya juga mengalami. Mengingat kembali hal tersebut, tentu sangat menyenangkan. #pengenceritaaja #masihpengenceritaaja #parabajinganyangmenyenangkan #bukumojok #puthutea https://www.instagram.com/p/BmdPqdPhWcn/?igshid=f493k2nu78q6