Fenomena dan Doa
Ini adalah sebuah catatan perjalanan yang aku hadiahkan tepat saat umurku 30 tahun, iya umur yang kata banyak orang cukup terlambat untuk menikah dan terlalu cepat untuk meninggal. Aku selalu memilih Makkah dan Madinah sebagai destinasi perjalanan penuh makna, bukan apa apa ketenangan dua kota ini membuatku terpanggil untuk datang lagi dan lagi
Di tengah isu banyaknya perceraian dan kurangnya sosok ayah di Indonesia, Allah menunjukkan potret potret bahwa apa yang Dia fitrahkan masih terpampang jelas dan nyata seolah dia membisikkan " Lihatlah sekitar dan jangan Khawatir"
Aku tertegun saat melihat suami renta yang menggandeng tangan istrinya yang sama rentanya saat perjalanan menuju Masjidil haram, begitu juga suami yang berusaha melindungi istrinya dari banyaknya desakan manusia saat thawaf, bercengkrama saat senja di depan kubah hijau di masjid Nabawi, dan banyak hal yang membuatku bertanya bertanya, entah berapa kali mereka saling memaafkan sepanjang pernikahan
Fenomena lain yang membuatku banyak berdoa meminta kepada Allah "Rabbi habli Mina shalihin" Saat Allah tunjukkan sosok ayah yang membimbing dan menggandeng sendiri anak laki lakinya yang memasuki usia remaja saat Thawaf, ayah yang dengan sabar menggendong putri kecilnya, ayah yang merapikan kain ihram putranya yang terlepas sehingga aku berpikir ini cara Allah menenangkan kekhawatiranku
Aku selalu menangis dan berdoa saat melihat fenomena ini dan berkata dalam hati aku juga akan merasakannya kan ya Allah? Aku juga akan kau anugerahi keluarga penuh kehangatan seperti yang kini kusaksikan dan ku do'akan juga kan ya Allah? Dan aku mulai terisak, bukan karena iri namun meski menunggu aku yakin hari itu akan tiba
Makkah, Madinah, anak-anak, dan doa-doa yang aku panjatkan semoga nantinya, saat hari itu tiba, semua doaku menemukan jawabannya. Mengutip kutipan film “Sore” : Meski harus mengulang seribu kali, aku akan tetap melangitkan doa di Makkah dan Madinah. Sebab aku tahu, setiap air mata di tanah suci ini tak pernah sia-sia, dan setiap doa yang terucap di bawah langitnya pasti akan pulang, entah kapan, dalam bentuk terbaik yang Allah pilihkan
Makkah, 12 November 2025 diantara suara adzan maghrib yang menggema di Masjidil Haram
Sazzadiyatan













