Jika takdir dan doa adalah pemisah kita, semoga bait-bait aksara yang dilangitkan, bukan pemisah antara doa kita. Kau siap, wahai tuan ?
Gimana kabarmu, tuan ?
Semoga kau baik saja, terimakasih kau sudah ingin diajak berlabuh bersama, diajak melangkah sejauh-jauhnya meski kita akan kembali, kembali pada pelukannya, atau tempat tinggal yang selamanya.
Segigih apapun usaha kita, sekuat apapun ruas raga kita dalam mengejar yang kita inginkan, ada disana yang bisa menggagalkan. Seburuk apapun takdir itu, bisa jadi baik menurut Allāh, ketika kita memiliki satu permasalahan, Allāh berikan beribu jalan keluar dari masalah itu. Kita harus yakin, Allāh selalu berikan yang terbaik katamu.
Kita harus mengejar, jarak bukan pemisah kita, penghalang kita hanya satu, ketika Allāh benar-benar murka kepada kita. Mengejar, tentu harus dengan cara yang benar. Terima kasih sudah membangunkan dari mimpi-mimpiku, kita harus menguatkan ruas raga kita, menjauhkan lagi langkah kita, bukan hanya jauh tentunya, tapi tak lain juga karena ridho-Nya.
Sungguh menyenangkan bukan, begitu tenangnya jiwa kita nanti, tak saling menyapa, tak saling bertukar pesan, tapi saling mendoakan, lalu sama sama menggapai ridho-Nya.
Ingatlah, bahwa doa bisa mengubah takdir, doa kini adalah cara terbaik, banyak orang berusaha tapi gagal karena dia tak berdoa untuk meminta kelancaran dalam perkaranya, semoga takdir baik benar-benar menghampiri kita.
Ini hanya perkara waktu, tuan. Tinggal kita saja mampu untuk bersabar atau tidak, kuharap jiwa kita benar benar bersabar, untuk yang terbaik, yaitu ridho-Nya.
Selamat berlabuh, selamat untuk menjauhkan langkahmu, kini senjata kita hanyalah beberapa aksara yang terus melangitkan yang terbaik.
Kuharap doaku terus bencengkrama bersama doamu, meninggalkan memori jejak pada masing masing jiwa, menyemangat kan dan menjauhkan dari kata putus asa.
Salamku untukmu.













