Freedom .... or Loneliness?
Beberapa waktu lalu, di salah satu postingan teman, ada mengutip salah satu kata mutiara dari Charles Bukowski.
... dan ketika tidak ada yang membangunkanmu di pagi hari, dan tidak ada yang menunggumu di malam hari, dan kamu dapat melakukan apapun yang kamu mau, kamu menyebutnya apa, Kebebasan atau Kesepian?
Sejenak ucapan itu mengganggu benakku dan mengusik ketenanganku. Mengapa? Karena aku sedang dalam fase seperti itu.
Sejak memutuskan untuk berpisah dengan keluargaku, aku memiliki pikiran campur aduk tentang apa yang aku alami. Ada kalanya aku marah, sedih, lega, dan bersyukur. Di antara kesedihan, ada berkat yang aku alami dan membuatku bersyukur. Ada waktu dimana aku merasa merdeka, bebas melakukan apa saja sendiri .. ya, sendiri, dan ketika menyadari kata itu, aku jadi berpikir tentang kesendirian, dan kadang merasa kesepian. Tapi kembali lagi pikiranku akan mempertanyakan, mengapa kesepian?
---
Sejak kecil, atau mungkin baru menyadari saat remaja, aku punya kecenderungan introvet. Aku berusaha untuk menikmati waktu-waktu sendiri, kadang-kadang merasa lebih enak sendirian daripada rame-rame. Tapi aku bukan introvet murni. Aku masih bisa menikmati juga waktu berkumpul dengan teman-teman atau orang lain, sejauh memang aku nyaman dengan mereka.
Saat SMP aku mulai jarang bermain dengan teman-teman, baik teman di kampung ataupun di sekolah. Aku kurang suka nongkrong-nongkrong, keluyuran atau dolan bareng-bareng mereka. Padahal di rumah juga tidak ngumpul-ngumpul, meski saat itu aku tinggal di satu rumah berisi banyak orang. AKu jarang ngobrol dengan bapakku, karena dia sering tidak ada di rumah. Dengan kakakku juga kurang akrab. Kalaupun pergi bersama teman, biasanya sesekali saja, kalau ada acara tertentu atau ada yang penting.
Ada beberapa alasan yang mungkin mendukung mengapa aku jarang "gaul". Kondisi keuangan (sangat jarang punya uang jajan yang lebih), masalah transportasi (hanya punya sepeda, angkutan umum juga terbatas) dan masalah minat. Kadang aku mikir, ketika sedang bepergian bareng teman-teman, terus ada perbedaan selera, jadinya bingung. Aku cenderung mengalah, tapi secara tidak sadar ini membuatku kecewa. Kalau aku ngotot, temanku yang kecewa, dan aku juga jadi gak nyaman. Makanya sering aku berpikir, mendingan bepergian sendiri, tidak perlu ada konflik dan masalah. Mau kemana saja bebas. Yup, itulah awal mula aku sering menjalani aktivitas soliter.
Saat SMP dan SMA, sepulang sekolah aku jarang berkumpul dengan teman-teman. Minder karena gak punya duit buat gaul dan keluyuran. Sekedar catatan: aku makan di KFC, McD dan restoran cepat saji sejenis, dengan biaya sendiri baru aku lakukan SETELAH AKU KERJA. Yup, sebelumnya tempat-tempat itu terasa mewah bagiku, gak cukup uangku untuk makan ke sana. Jadinya sepulang sekolah, aku pulang saja dan melakukan aktivitas sendirian - bermain ke sungai dan sawah, melukis, membuat prakarya dari kayu atau tanah liat, belajar bonsai (meski gagal) dan olahraga sendiri. Kadang aku malu kalau ada yang memergoki, tapi ya lama-lama santai saja. Pernah suatu hari teman sekolah datang ke rumah dan mendapati rumahku kosong, terus oleh tetangga diberi tahu kalau biasanya aku ke sungai mencari bunga ... dan mereka menyusul. Lah, kepergok deh hehehe. Ya, waktu itu aku sering mencari bunga dan benda-benda menarik lain untuk aku lukis di rumah.
Saat kuliah juga demikian, aku jarang "gaul" dengan teman-teman kampus. Mungkin ada alasan lain, karena aku sibuk di gereja. Tapi biasanya kesibukanku lebih ke acara-acara resmi saja, misal ada ibadah dan pertemuan khusus. Selebihnya aku biasa menikmati waktu sendiri saja di kos, membaca buku, kadang menulis dan sebagainya. Saat kerja, mau gak mau banyak kumpul dengan orang lain, karena urusan kerjaan. Saat hari libur, ya aku kembali sendiri, bisa menikmati saat-saat sendiri dengan membaca buku, nonton film, bersepeda, dan sebagainya. Saat-saat itu aku anggap sebagai saat merdeka, meskipun hanya sendirian. Bahkan setelah pacaran, kadang aku merasa "kecewa", karena hari libur ingin menikmati waktu sendiri, tapi jadi terbebani oleh "kewajiban" menemani pacar. Ya soalnya tidak selalu aktivitas yang kami lakukan sama-sama kami sukai, jadi harus ada yang mengalah. Setidaknya tetap bisa menikmati saat-saat bersama.
Nah, kalau selama ini (saat masih muda dan belum berkeluarga), aku menganggap saat-saat sendiri adalah sebuah kemerdekaan atau kebebasan yang aku sukai, mengapa saat ini aku merasa hal itu sebagai suatu KESEPIAN? Bukankah seharusnya esensinya sama, aku bisa melakukan apa saja, tanpa kuatir orang lain kecewa karena harus mengikuti seleraku, atau sebaliknya? Bukankah aku bisa bersantai-santai tanpa merasa bersalah, tanpa diganggu orang lain, dan artinya merdeka?
Satu kata kunci yang mungkin bisa menjadi alasan adalah KESENDIRIAN. Ya, harus aku akui, ada berbedaan makna dari kata itu, dulu dan sekarang. Dulu aku tidak pernah merasa SENDIRIAN. Mengapa? Karena aku masih punya keluarga tempat aku pulang (meskipun saat kuliah dan kerja aku jarang mudik). Meski aku sering memilih aktivitas sendiri, tapi masih ada teman-teman yang begitu mudah aku temui dan ajak berbincang. Dalam aktivitas rutin sehari-hari, aku masih akan berjumpa dengan orang lain - teman kuliah atau teman kerja, dan juga teman gereja. Meski sejak SMA sudah merantau, tetap saja aku punya opsi untuk pulang dan bertemu dengan keluarga. Apalagi setelah pacaran. Intinya, aku tidak merasa sendiri, aku selalu punya opsi untuk berbincang-bincang, jadi meskipun aku tetap menjalani hidupku yang introvet, tapi kebutuhanku untuk berkomunikasi dengan orang lain masih terpenuhi.
Sekarang, KESENDIRIAN itu punya makna yang beda.
Salah satu kerugian dari bekerja di rumah (Work from Home) adalah tidak ada komunikasi intensif dengan rekan kerja. Meski bisa komunikasi secara online, tetap saja jarang, dan biasanya hanya ngobrolin kerjaan. Beda dengan kalau sama-sama ngumpul di kantor, bisa ngobrol di waktu-waktu luang.
Aku sudah tidak lagi aktif di gereja, dan pergi ke gereja saja lebih sebagai tamu, datang terus pulang, tanpa ada komunikasi dengan sesama pengunjung.
Keluarga? Ya karena sudah pisah, komunikasi jelas jarang. Orangtua juga sudah sangat jarang ketemu, kalaupun komunikasi lewat telpon sudah agak sulit, tidak bisa buat ngobrol leluasa. Apalagi sejak Bapak meninggal. Dengan anggota keluarga lain juga kurang nyaman untuk ngobrol santai kalau lewat telpon, kalau ketemuan sih bisa. Tapi ya itu, kami semua sudah mencar dan agak sulit ketemu - lagi-lagi uang jadi salah satu masalah.
Masih mending bisa ketemu dengan anak-anak hampir setiap hari. Tapi kan mereka masih belum bisa jadi "tandem" seimbang untuk ngobrol. Jadi lebih banyak aku hanya menemani mereka. Mau gak mau, suatu saat mereka juga bakal sibuk dengan aktivitas dan hobi mereka masing-masing.
Di sinilah aku merasa SENDIRIAN. Bukan karena tidak ada orang lain di sekelilingku, tapi karena jarang ada "teman sparring" yang cocok untuk ngobrol, atau sekedar menemaniku.
Jadi? Haruskah aku berkeluh kesah dan meratapi kesendirian dan kesepian ini? Atau justru bersyukur dengan kebebasan yang aku miliki?
DI SINILAH SENINYA.
Saat googling soal kata-kata mutiara, aku temukan kata-kata mutiara yang lain, kali ini dari Ariel Gore.
Everything is freedom and everything is loneliness. Make your choice and let the rest fall away.
Jadi kuncinya adalah pada pilihan kita. Kita bisa memilih merasa kesepian, tapi juga bisa memilih merasakan kebebasan. Ah, itu kan menghibur diri dan menyangkal realitas? Bisa ya dan bisa tidak, karena pada dasarnya keduanya seperti dua sisi koin yang susah dipisahkan.
Aku bersyukur, sejauh ini, dalam setiap kesulitan ataupun kondisi yang tidak menyenangkan, ada saja hal-hal sepele yang bisa dinikmati dan dijalani dengan damai. Termasuk dalam kesendirian dan kesepian yang aku rasakan, di sisi lain memberiku kesempatan untuk bisa melakukan apa saja sendirian tanpa merasa bersalah. Aku punya banyak hobi - berkelana, motret sana-sini, nonton film/serial, baca buku, melukis, menulis dan banyak lagi - yang selama ini jarang bisa aku nikmati ketika aku tidak sendiri. Tapi dibalik semua kebebasan itu, aku juga diingatkan agar tidak terlena, dan tetap bertanggung jawab.










