Mungkin bbrp tmn yg pernah kerjasama sama aku hhe pernah merasa kalo aku tuh banyak nanya ya wkwk kaya ga paham-paham gitu, maafkan daku gais :"
Tapi kalo dipikir-pikir ternyata dr dulu gitu juga, suka mempertanyakan banyak hal yang sering nya aku tidak merasa pertanyaan-pertanyaan itu terjawab meskipun sdh dijawab, wkkw
Antara aku yg tidak pandai menyampaikan maksud pertanyaanku atau emg terlalu bebal aja sih selalu butuh jawaban yg lebih :" astaghfirullah
Dan akhir tahun kemarin, serumpun pertanyaan-pertanyaan itu kembali terngiang-ngiang setelah belasan tahun berusaha diabaikan.
"Mbak, katanya manusia udh ditentuin takdir nya kan ya berarti ga bisa milih dong? Tp kok ada yg masuk surga ada yg masuk neraka?"
Haha aku lupa bagaimana kalimat yg ku gunakan waktu itu saat bertanya. Entahlah apakah mbak Atik ingat atau tidak, tp aku ingat betul bagaimana mbak Atik menjawab dg baik di ruang sholat rumah kami hmm belasan tahun yang lalu. Ruang sholat dengan dinding berwarna kuning dan cahaya lampu yang memancarkan warna yg sama.
Beruntung penjelasan mbak Atik saat itu cukup bisa menjawab penasaran anak SD yg banyak nanya ini, meskipun yg tergambar dipikirannya sesederhana peta teka-teki di buku Bobo.
"Manusia memang bisa memilih, tapi dari banyak pilihan itu sudah ada jalur takdirnya masing masing. Allah hanya menyediakan peta nya, manusia yang memilih jalan ke akhir yang mana." kira-kira begitu jawaban mbak Atik saat itu.
Kalo diingat-ingat begini aku jd semakin merasa perlu banyak bersyukur nih wkwk dg keberadaan mbak Atik yang saat itu hampir setiap hari jadi lawanku berkelahi sekaligus kawan berdiskusi, kalo tidak salah ingat mbak Atik waktu itu entah masih SMP atau SMA.
Sampai pada satu pertanyaan,
"Mbak?"
"hmm?" jawab Mbak Atik hanya berdehem.
"Kalo Allah ada, emg Allah tuh dari mana sih? hhe"
Wkwk jujur itu pertanyaan yg berhari-hari sebelumnya sudah aku timbang dan pikirkan kepada siapa harus aku tanyakan. Hanya saja aku tidak cukup berani bertanya kepada guru ngaji, pun kepada orang tua soal ini. Entahlah aku jg tidak tahu kenapa, hanya kepada mbak Atik seorang saja hehe terimakasih mbak Atik sudah mau menanggapi wkwk meskipun jawabannya begini, -,-
"Hush, ga boleh mikir-mikir yg kaya gitu. Dosa."
Aku kaget tentu saja. Lalu dg cepat berusaha membuang pertanyaan itu jauh-jauh, aku tidak mau berdosa.
Tapi sayangnya tidak bisa :(( Aku hanya menyimpan pertanyaan itu seorang diri hingga belasan tahun kemudian, mengganggu lagi.
Baiklah mungkin orang-orang memang tidak tahu dr mana Allah berasal dan akan percuma jg aku bertanya. Atau mungkin mbak Atik benar, manusia tidak boleh memikirkannya. Hmm,
Tapi bagaimana dengan pertanyaan-pertanyaan ini,
"Kenapa Allah ciptakan manusia? Iseng banget."
Kenapa Allah begini? kenapa Allah begitu? dan kenapa Allah kenapa Allah yang lainnya.
Adaa yang menjawab. Dan iya sih, pertanyaan itu terjawab, hanya saja rasa penasaranku masih menolak.
Justru semakin menghantui, hingga sempat beberapa kali muncul pertanyaan baru lagi,
"What if? Bagaimana jika Islam ternyata tidak benar? Bagaimana jika ternyata surga dan neraka itu tidak ada? Bagaimana jika benar kalo ternyata Allah juga tidak ada?"
Hahah. Jangan berhenti disini ya, next story.
Pertama, ternyata semua pertanyaan itu bisa banget dijawab dengan logika gais. Logika yg benar tentu saja, yang rasional, tanpa ada baper bapernya ya hhe. Tapi akan sangat panjang dan riskan jika aku menceritakan jawaban apa yang akhirnya menjawab juga rasa penasaranku.
Jadi, jika kalian merasa pertanyaan-pertanyaan itu juga mengganggu pikiran kalian, maka aku sarankan kalian ikut ngeslow gais hhe insyaallah semua pertanyaan semacam itu akan terjawab rasa penasarannya, cari aja infonya di akun ig @ngefast atau cek yutub nya Weemar Aditya, feel free to discuss with me :)
Kedua, pertanyaan tersebut wajar muncul karena manusia dikaruniakan akal. Karena Allah ciptakan akal, pasti akan ada jawaban yang memuaskan akal. Maka jangan mengambil kesimpulan apapun sebelum kita menemukan jawabannya, bukan juga dihilangkan pertanyannya tetapi dicari tahu jawaban yang benar nya.
Dicari tahu jawabannya ya, bukan ditebak jawabannya.
Tp setidaknya ada beberapa jawaban yang ingin aku ceritakan yg semoga bisa diambil banyak hikmah nya.
Jawaban pertama, ketika aku terus menanyakan kenapa Allah kenapa Allah dan merasa tidak pernah puas dengan jawaban yang ada. Analogi yg cukup menohok.
"Isna, tau kue? Oke. Kue yang buat manusia ya. Jadi posisinya ‘manusia’ adalah pembuat dan ‘kue’ adalah yang dibuat.
Sekarang, kira-kira bisa ga kue itu memahami manusia yang membuatnya? Tidak bisa. Jangankan kue, robot saja yg dirangkai manusia tidak akan bisa sepenuhnya memahami bagaimana manusia.
Maka sama hal nya dengan Allah sbg Sang Pencipta (pencipta lho ya tidak hanya membuat atau merangkai dari bahan-bahan yang sudah ada tp menciptakan bahan itu juga) dan manusia sbg makhluk yang diciptakan. Manusia tidak akan bisa sepenuhnya memahami penciptanya, seperti halnya kue memahami pembuatnya.
Jadi Naa, kadang ga semua pertanyaan tentang Allah bisa diterima akal manusia, bukan karena ga ada jawabannya sehingga Allah blm tentu ada.Tapi karena terbatasnya akal kita yg tidak sanggup memahami Allah yang Maha Sempurna."
Astaghfirullah, iya juga ya aku yg belajar relativitas aja bisa pusing, rasanya ga kuat otaknya ngimbangin Einstein gitu kan. Kok ngeyel buat bisa memahami tentang dzat nya Allah, yang nyiptain Einstein :((
Jawaban berikutnya, jawaban dari Bang Fuadhnaim :)) banyak orang memanggilnya Sajangnim. Baiklah.
Jawaban spontan Sajangnim ketika ada pertanyaan ‘Kenapa Allah menciptakan malaikat untuk membantu Nya, bukankah Allah Maha Berkuasa?’
"Kalian tuh ya, sering ngatain gue julid padahal kalian yang julid sama Allah. wkwk"
Eh? Astaghfirullah, iya juga ya kok aku julid banget nanya kenapa ini kenapa itu seolah Allah ga boleh ngelakuin ini itu wkwk
"Ya suka-suka Allah lah, bukan berarti Allah tidak berkuasa dan butuh bantuan. Justru karena Allah berkuasa jadi suka-suka Allah. Bisa ajaa Allah lakuin semuanya tanpa bantuan malaikat, tp pengen aja Allah dibantu malaikat karena Allah berkuasa. Orang kalian aja juga bisaa kan ngerjain tugas nya hari ini tp kalian pengen ajaa ngerjainnya besok-besok, deadline. Masak Allah engga boleh Wkkw,"
Hmm iya juga wkwk sebagai penganut paham 'tidak deadline tidak bisa mengerjakan tugas' aku merasa sangat tertampar :”
Dari dua jawaban itu serta perjalanan panjang yang mengikutinya aku menyadari sesuatu, bahwa ternyata agama bukan semata mata doktrinasi seperti yang disampaikan di kelas filsafat semester lalu. Tapi memang ada beberapa pertanyaan yang tinggal dijawab, sehingga bisa memahami keimanan itu datang nya dari mana.
Maka orang atheis akan menjadi agnostik ketika pertanyaan "Apakah Tuhan ada?" bisa terjawab.
Orang agnostik akan menjadi believer ketika pertanyaan "Siapa Tuhannya?" terjawab.
Dan orang believer (yang beragama tp belum taat menjalankan perintahNya) akan menjadi pribadi yang taat ketika pertanyaan "Apa Buktinya?" terjawab.
Dan soal bukti, it's never ending story, jadi harus selalu di cari supaya keimanannya semakin membawa pada ketaatan. Tapi..