CINTA DALAM DIAM
Hawa menyusuri koridor kampus sambil membawa tumpukan buku tebal. Pagi itu, ia baru saja selesai mengikuti kajian rutin di masjid kampus. Udara terasa hangat, dan semilir angin memainkan ujung kerudung lebarnya. Hawa adalah mahasiswi tingkat akhir yang dikenal cerdas dan santun. Namun, di balik senyum lembutnya, ada perasaan yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
Perasaan itu bermula ketika Hawa pertama kali melihat Aiman, mahasiswa tingkat akhir yang aktif di organisasi dakwah kampus. Aiman adalah sosok yang dihormati karena kepribadiannya yang tenang dan ilmunya yang mendalam tentang agama. Ia sering menjadi imam dan penceramah dalam kajian-kajian Islam. Suaranya yang lantang saat melantunkan ayat-ayat suci selalu berhasil membuat hati Hawa bergetar.Namun, Hawa tahu, perasaannya kepada Aiman adalah ujian. Sebagai seorang muslimah, ia memahami betapa pentingnya menjaga hati dan pandangan. Hawa tidak pernah berbicara langsung dengan Aiman. Bahkan, ia selalu berusaha menghindari situasi di mana ia harus berada terlalu dekat dengannya.
Seiring waktu, perasaan Hawa kepada Aiman semakin sulit ia abaikan. Setiap kali Aiman memberikan ceramah, Hawa merasa hatinya dipenuhi harapan. Tapi ia juga dihantui rasa bersalah. Ia bertanya-tanya, apakah ini cinta yang tulus, atau hanya godaan syaitan?
“Ya Allah, jika perasaan ini tidak baik untukku, hapuskanlah,” doanya setiap malam, air mata mengalir di pipinya. Hawa merasa perasaannya mulai mengganggu fokusnya dalam beribadah. Ia takut cintanya kepada manusia akan mengurangi cintanya kepada Allah. Hawa juga mulai merasakan perubahan dalam kesehariannya. Ia merasa canggung saat bertemu dengan Aiman di masjid. Bahkan, ia mulai menghindari beberapa kegiatan dakwah karena takut perasaannya semakin berkembang.
Satu hari, sahabat dekatnya, Nisa, menyadari ada yang berubah pada Hawa. "Hawa, kamu kenapa? Akhir-akhir ini sering melamun," tanya Nisa saat mereka sedang duduk di taman kampus.
Awalnya, Hawa enggan bercerita. Namun, setelah dipaksa, ia akhirnya mengakui bahwa ia menyukai seseorang.
"Siapa dia?" tanya Nisa, penasaran.
Hawa menghela napas. "Aiman," jawabnya pelan.
Nisa tersenyum kecil. "Hawa, wajar kalau kamu menyukai seseorang, apalagi sosok seperti Aiman. Tapi, kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?"
Hawa mengangguk pelan. "Aku sudah mencoba menjaga hati dan berdoa agar Allah memberikan yang terbaik. Tapi rasanya sulit, Nisa."
Nisa menggenggam tangan Hawa. "Cinta yang benar adalah cinta yang mendekatkanmu kepada Allah. Kalau memang dia jodohmu, percayalah, Allah akan mempersatukan kalian dengan cara yang halal. Sementara itu, tetaplah fokus memperbaiki diri."
Beberapa bulan kemudian, Hawa mendengar kabar bahwa Aiman akan menikah. Kabar itu tersebar di kalangan teman-teman dakwah, dan Hawa merasa dunianya runtuh.














