Why Would I? (sebuah usaha untuk tetap ndrengas-ndrenges)
Setelah percakapan singkat kemarin-kemarin-kemarin bersama manusia-manusia lucu, aku akhirnya jadi kepikiran beberapa hal. Tapi, lebih dari itu, aku jadi lebih menyadari aja bahwa beberapa hal yang emang menyebalkan itu ya menyebalkan. Sebuah usahaku untuk memoles hal yang menyebalkan jadi nggak begitu menyebalkan itu ada salahnya juga sih. Mungkin karena pada dasarnya aku nggak berusaha untuk menvalidasi perasaan kesal dan sebal yang tubuhku rasakan. Pada akhirnya, yang tersisa hanya perasaan capek aja setiap harinya.
Selepas usia 23 tahun, aku jadi lebih ngerasa harus lebih tanggung jawab, adaptasi, dan mengolah tubuhku dengan lebih bijak. Menjadi dewasa seperti sudah jadi tuntutan dan harus diusahakan setiap saat. Tapi kadang aku lupa deh. Usaha menjadi dewasa itu nggak serta merta sempurna dan kemudian aku bakal minta diriku sendiri untuk senantiasa menjadi dewasa dengan sempurna.
Hingga usia 25 tahun, aku masih aja terus belajar bagaimana cara menjadi dewasa dengan benar. Aku masih belajar bagaimana cara mengubah pandang dan mengolah perasaan diriku sendiri. Meskipun begitu, hingga saat ini-bakal melepas 25 tahun menjadi 26, nggak membuatku merasa cukup. Masih aja ada hal-hal yang bikin aku kesal dan sebal. Tapi aku juga berusaha setengah mati buat mengatasinya.
Pertama, ternyata mendapatkan paparan negative feelings itu lumayan membuat tubuhku capek. And I think, I had to stop dealings with it. I want to surround myself with a good vibe, positive vibe, and eager to live with full of will. Sebenarnya bukan berarti aku jadi nggak mensyukuri dan berhenti menjadi tempat nyaman untuk orang-orang bercerita dan berkeluh kesah. Tapi kayaknya aku udah mulai menyadari bahwa ada batasan untuk mengijinkan mereka masuk dengan cerita mereka hari ini yang kadang bikin gedeg-gedeg. Aku sangat sadar sih bahwa setiap orang bakal punya pace dan jalan hidupnya sendiri-sendiri. Nggak bakal bisa fit ini ke kehidupan yang lain, begitupun sebaliknya. Tapi kayaknya mereka butuh yang namanya kesadaran. Kesadaran ini bukan hanya sebatas menyadari perasaan emosinya aja, tapi kesadaran untuk secara berdikari mencoba mencari jawaban dan solusi. Menurutku nih ya. Jalan sembuh paling baik adalah bagaimana kita bisa menyadari, mengolah, dan mencoba menyelesaikan masalah diri sendiri. Misal dalam perjalanan kita merasa bingung dan butuh bantuan, maka cari orang lain. Sekali-kali boleh lah. Tapi kalau hampir tiap hari? Kayaknya masalahnya ada di dia, bukan di orang lain.
Kedua, ternyata melihat sesuatu yang nggak sesuai prinsip hidup kita kadang lumayan bikin irritating ya! Sesimpel mendengar jawaban anak-anak remaja lucu tentang konsep kerja dan masa depan, rasanya pengen nampol ya. Tapi begitulah, kalau kujawab dengan jiwa marah-marah, maka apa bedanya kan ya? Konsep kerja sendiri menurutku adalah hal-hal yang perlu kulakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Embel-embel SOP dan budaya kerja yang emang kadang bikin agak geleng-geleng ya tetep aja kudu dilakuin karena emang kita udah terikat. Sebagai budak korporat, tentu saja hal-hal seperti itu sudah kusadari dengan sungguh-sungguh dari awal sebagai bagian dari konsekuensi kerja. Kalau nggak sadar apa yang namanya konsekuensi kerja, kayaknya ya mending balik kanan bubar jalan. Hal-hal lucu lainnya adalah usaha kecil, keingingan selangit. Pengen kerja enak, nyaman, sesuai keinginan, tapi kok usahanya nggak sebanding? In my humble opinion, kerja itu udah jadi kebutuhan realistis. Asli! Makin hari, kita butuh nih yang namanya pemasukan dan itu bakal bisa didapat kalau kita bekerja. Sebagai seseorang yang lahir di keluarga tanpa privilege koneksi, harta, dan tahta. Aku jadi tahu seberapa susahnya cari pekerjaan dan seberapa kerasnya bertahan. Meski pengalamanku nggak bisa jadi tolak ukur untuk kemudian membandingkan nasib, tapi ya tolong sadar gitu lo! Di dunia ini nggak ada yang namanya kerja menyenangkan. Selalu ada hal-hal yang baka bikin kita kejedot. Bisa lingkungan kerja, bisa gaji, bisa bos, bisa aturan yang nggak ngotak dan banyak lagi. Jadi, why dont we try to understand fully before talking shit?
Ketiga, gempuran pertanyaan yang cukup bikin hati istighfar bolak-balik ini lumayan bikin kesel. Sederet pertanyaan “kapan nikah?” udah jadi keresahan umum sih dan aku salah satunya. Lambat-laun pertanyaan semacam itu udah jadi lagu lama yang nggak terlalu bikin kesel. Tapi, tapi kok ada juga ya ternyata manusia drama yang kayaknya kekurangan drama di hidupnya. Beneran! Seneng banget gitu ya liat perjodohannya sukses atau mengurusi love life orang lain atau bikin doktrin dan sekte baru bahwa nikah itu dipancang usia. Ya Tuhan. Keknya aku udah pengen nampol dengan slay.
Keempat, kadang lucu sih ngeliat orang-orang bikin asumsi-asumsi sendiri dan mengcreate aku dengan versi mereka, tapi kadang juga lumayan bikin kesel ya. Lumayan seru dan capek juga ngeliat orang-orang berusaha mati-matian untuk menembus batas. Kalau udah ketemu orang-orang begini, jurus andalannya emang kudu dengan becandaan sarkas, kalau perlu perjelas! Mungkin rasa sadar itu yang akhirnya bikin aku jadi dengan sadar untuk menjaga rasa kepo dan ingin tahuku tentang hidup orang lain. Mungkin hal itu juga yang akhirnya aku jadi bebas aja bilang rasa nggak nyamanku ke senior dan bos sekalipun. Aku cukup berterima kasih dengan kemampuan komunikasiku yang lumayan cantik dalam mengolah kata sih! Terima kasih, Tuhan.
Sebenarnya ada banyak hal yang kadang bikin kesel, tapi pertanyaan selanjutnya adalah why would i? Kenapa harus begitu mikirnya sih? Kenapa harus kebawa arus mereka sih? Kenapa harus iya-iya-iya ke hal-hal yang sebenarnya bikin kesel? Kenapa nggak bilang “nggak dulu ya"?
Akhirnya, aku jadi sadar bahwa prioritas utama dari diriku ya diriku. Kenapa harus dengerin kalau kamu lagi gamau dan capek? Kenapa harus direspon kalau keliatannya bakal sama dan sia-sia aja? Kenapa harus kesel sama prinsip hidup orang lain sih, nggak bakal ngaruh juga? Kenapa harus kesel sama sesuatu yang emang dari awal nggak bisa kamu benerin? Kenapa harus kesel kalau emang bukan kamu orangnya sih? Kenapa harus kesel jelasin hal-hal yang emang dari awal mereka nggak peduli dan cuman kepo aja?
Jadi, kenapa kamu nggak fokus sama dirimu aja dan bukan orang lain?
Sembari ditemani list lagu berikut: Biru Baru (Sejenak dan Selamat Datang).