Mengubah Orientasi
“Untuk apasih jadi guru, gajinya cuma sedikit, mending bikin usaha sendiri mengembangkan sendiri” tiba-tiba kata-kata ini terlontar dari ustadz smpku. Pernyataan itu ku jawab senyum, dan dilanjut dengan kalimat yang terngiang kali ini di benakku dan cukup untuk diambil pelajaran. Kata beliau;
“Jangan mengorientasikan diri dengan sesuatu yang terbatas yaa”
Setelah kalimat ini beliau pamit meninggalkanku untuk meneruskan agendanya. Ku jawab dalam hati semua kata-kata beliau tadi, dengan kata lain beliau sendiri kan sebenarnya juga guru kenapa malah tidak mendukung muridnya menjadi sepertinya. Pemikiran itu lewat begitu saja sampai akhirnya ku ingat kembali kalimat terakhir beliau tadi..
Tentang mengorientasikan diri dalam hidup, di sisi lain beliau mengingatkan profesi apapun yang nantinya diemban jangan berorientasi dengan sesuatu yang terbatas, salah satunya uang. Beliau sendiri guru, beliau sendiri bilang kalau gaji kecil, lalu orientasinya kemana? Yap! Ridho-Nya, Pahala-Nya, Surga-Nya.
Kelak membentuk anak-anak yang dititipkan di sekolah dengan baik dan dari sini mereka menjadi anak yang sholeh dan sholehah nantinya akan menjadi amal jariyah seorang guru. MasyaAllah ya :’)
Sekarang jadi suka mikir ulang, tentang niat, tentang orientasi apalagi soal kehidupan yang tanpa disadari suka lupa akhirnya berujung kemana.
Kunci dari segalanya cuma satu: karena-Nya. Mulai dari tindakan yang kecil pun hingga menjalani sebuah profesi, dimulai dengan niat yang Lillah, orientasi hidup untuk menjadi versi terbaik sebagai hamba-Nya. Sisanya kenikmatan dunia? Ya bonus.
Walau kali ini belum benar-benar menjadi guru, setidaknya menjadi guru untuk diri sendiri dulu, mengontrol setiap langkah, mengembalikan niat semula, menata ulang orientasi kehidupan.
Meskipun nantinya juga nggak jadi guru yang di sekolah, tapi kewajiban menjadi guru untuk anak keturunanmu kelak nggak bisa ditinggal kan?
Klaten, 10 Juli 2020














