Otomaton
Aku tahu ini salah.
Di atas sajadah, di dalam keheningan yang paling suci, aku telah memohon untuk diubah. Aku telah mengadukan perang di dalam diriku sendiri kepada-Nya. Aku telah berjanji pada diriku, pada Tuhanku, bahwa aku akan menjadi lebih baik. Niat itu ada, begitu tulus, begitu murni.
Tapi niat hanyalah bisikan, sementara luka adalah gema yang mencekam.
Ada dua diriku. Yang satu adalah aku yang berlutut dalam doa, yang mendambakan kedamaian, yang tahu jalan mana yang benar. Yang satu lagi adalah sistem yang berjalan otomatis di dalam darahku. Sebuah mesin yang dibangun dari tumpukan amarah, kekecewaan, dan kebencian masa lalu. Mesin ini tidak butuh niat. Ia hanya butuh pemicu.
Dan pemicu itu sesederhana melihat bayangannya dari balik kaca.
Saat itu terjadi, diriku yang berdoa lenyap. Mesin itu mengambil alih. Monolog penuh sumpah serapah mulai berputar di dalam kepala, sebuah katup pelepasan tekanan yang tak bisa kututup.
Aku menjadi penonton dari amarahku sendiri,
terperangkap di dalam tubuh yang bergerak tanpa persetujuanku.
Ini bukan lagi soal 'mau' atau 'tidak mau' . Ini adalah pertarungan antara siapa aku ingin menjadi, dan siapa luka-lukaku telah menjadikanku.
Dan setiap hari, aku kalah dalam pertarungan itu. Temboknya terlalu tebal. Lukanya terlalu dalam. Dan doaku, entah bagaimana, terasa seperti gema yang tak pernah sampai ke langit.
Roni. | 13 Agustus 2025







