#26 — Tangguh, Perlu Teguh
Langkah kian jauh, syarat dengan daya tabah yang perlu ditambah. Banyak hal yang ternyata tak semudah itu melaluinya.
Mencoba, jatuh, lalu bangkit layaknya roda yang berputar, terus menerus.
Tanpa ujung, boleh jadi, itulah aturan mainnya.
Diri ingin sekali menyerah.
Ingin menyudahi apa-apa yang telah menjadi jalan, ada kalanya tidak bisa lekas meninggalkan begitu saja, akhirnya seperti harus dijalani, tidak ada pilihan yang lebih baik, terjebak.
Apakah itu yang dinamakan sebuah takdir?
Sulit mendefinisikan rasa penuh kecamuk, tertahan. Entah terhambat dengan realitas, kondisi yang nano-nano, beserta pikir dan rasa yang sulit dikendalikan.
Tidak ada alasan adalah alasan itu tersendiri.
Suatu saat diri menikmati proses dengan sepenuh hati. Ada bait-bait perjalanan yang memaksa untuk menuju yang lebih baik. Lantas segera mencarinya, menemukan, ternyata tidak lebih baik dalam kira.
Kemudian, bertanya-tanya sekali lagi:
Apakah ini takdir bagiku atau sebuah ujian dengan bentuk lainnya?
Menjalani sesuai kemampuan sebagai daya juangnya. Menaruh banyak atau tinggi ekspektasi, boleh saja, tetapi jika sulit mencapainya lantas bersiap untuk menanggung tidak enaknya. Tanpa tapi, tanpa alasan.
Untuk berdaya jadi tangguh,
Sedini mungkin perlu kayakan daya teguh, keteguhan hati dan pikir yang kadang sukar penuh kendali. Entah faktor dalam atau luar diri yang meminta untuk segera ditanggapi. Seperti nada yang kadang memberi teka-teki, dorongan ke jalan keluar. Padahal solusi kadang masih berupa mentahan yang bahan bakunya perlu ditumbuhkan terlebih dahulu.
Itulah rumitnya jalan hati-pikir yang perlu bersahabat dengannya. Dengan sering-sering bersama dirimu sendiri, mengenalnya lantas menyelami untuk memahami pola solusi yang semestinya disederhanakan.
Menerjemahkan satu demi satu akan teka-teki selama ini, semakin jauh melangkah, semakin rumit bentuknya, jika tak lekas memahaminya.
Sesekali diri perlu rehat sejenak untuk kembali sadar bahwa:
Apa-apa yang telah berlalu perlu dijadikan bahan baku untuk bekal masa kini, semua-semua yang relevan.
Masa depan yang penuh misteri kita hanya perlu berbaik sangka kepadaNya disertai daya iman yang seiring sejalan.
Memerdekakan hasrat kebaikan dan kebermanfaatan, tanpa perlu alasan yang mempersulit vibrasinya.
Tak lupa, daya materi yang perlu pula diperkuat agar daya baik dan manfaat bisa terus dicitakan. Tanpa halangan.
Salam Tangguh! Selamat bertumbuh bersama semesta!
[c] Muhammad Sarifin | @muhsarifin