Lagu Pengingat Tragedi Bencana Pasigala
Genap satu tahun lalu bencana gempa tsunami dan likuifaksi menimpa Kota Palu, Kabupaten donggala dan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Sangking banyaknya daerah yang terdampak bencana, sampai-sampai muncul dikalangan orang banyak sebuah akronim Pasigala (Palu, Sigi dan Donggala) untuk menyingkat daerah yang dilada bencana 28 September 2018 silam
Masih kental sekali ingatan mengenai kelamnya tentang bencana yang menimpa Pasigala, hingga masih banyak orang yang trauma salah satunya adalah Sukmayanti, warga Kel. Silae, Kec. Ulujadi Kota Palu. Melalui pesan pada aplikasi whatsapp, sampai hari ini pun dia belum berani mengendarai motor karena takut tiba-tiba akan terjadi gempa saat dia mengendarainya. Pasalnya disaat gempa, tsunami dan likuifaksi terjadi, dia sedang berada di Desa Toro Kec. Kulawi Kab. Sigi Sulteng yang tepat setahun yang lalu sedang mejadi relawan untuk mengajar di desa ini.
Kala itu gempa dirasakannya sangat kencang disambung dengan padamnya listrik dan putusnya jaringan komunikasi. Kabar burung menganai terjadinya tsunami di Kota Palu pun mulai didengarnya dari orang-orang yang mulai memasuki Desa Toro membuat dia merasa amat sangat khawatir tentang kabar dan keselamatan keluarganya di Palu. Wanita bertubuh kecil yang kerap disapa Sukma bersama teman-teman lainnya memberanikan diri pergi menuju Kota Palu. Padahal warga sudah memberitahukan bahwa akses jalan terputus akibat longsor yang dipicu oleh gempa tepatnya di daerah Gunung Potong, merupakan sebuah jalan penghubung Kecamatan Kulawi dan Kota Palu. Berbekal kekhawatirannya yang begitu besar hingga sanggup melawan rasa ketakutannya dalam menghalau longsor. Jalan tak berupa seperti jalan lagi saat dia melewati daerah Gunung Potong. Bongkahan batu-batu dari atas bukit yang longsor tak henti hentinya berjatuhan menyertai langkah Sukma dan kawan kawannya. Tanah yang dipijaki sangat sempit diapit oleh jurang di sebalah kiri dan bukit longsor di sebalah kanan. Sekali dipijaki, tanah akan berubah posisi bahkan memicu longsoran kembali. Sangat sulit sekali melalui jalan ini, nyawa sudah menjadi taruhannya. Sesampainya di Kota Palu, semua tabir kabar-kabar burung yang beredar mulai terbuka. Sisa sia bangunan dan jalan yang mengalami tsunami dan likuifaksi pun dilihat oleh Sukma. Beruntung dia tidak mengalami kesulitan saat mencari keluarganya di Silae.
Melihat tanah kelahirannya porak-porandak dengan peristiwa gampa, tsunami dan likuifaksi yang terjadi, tak menghentikan langkahnya untuk membantu berbagai daerah yang masih minim bantuan. Bergabung bersama relawan KMPLHK Ranita UIN Jakarta, pada tanggal 13 Oktober 2018 kami kembali ke Kecamatan Kulawi karena daerah ini aksesnya terputus kembali saat hujan deras terjadi pada beberapa hari sebelum keberangkatan kami kesana.
Tak bisa dipungkiri, raut wajah was-was terpancar dari setiap relawan yang melewati jalan di daerah Gunung Potong. Rasa ini terbayar dengan pancaran kegembiraan warga yang tersenyum saat diberikan bantuan. Berbincang bersama ditemani segelas air putih dan lampu temaram alakadarnya membuat kami berangsur-angsur mulai dekat dengan warga desa Namo Kec. Kulawi Kab. Sigi
Pagi dengan udara segar selalu dirasakan di Desa Namo, anak-anak mulai bermain disebuah lapangan yang disulap menjadi tempat pengungsian. Di tempat ini kami mulai akrab dengan anak-anak Desa Namo. Lama tak belajar karena takut akan gedung sekolah yang akan hancur bila terjadi gempa membuat kami berinisiasi membuat sekolah darurat. Berinteraksi dengan anak-anak Desa Namo, membuat kami sering kali mendengar sebuah lagu yang sangat khas dan sering sekali dinyanyikan dengan amat sangat serius dan khitmat oleh anak-anak Desa Namo.
Bila didengarkan dengan cermat dan menghayati setiap liriknya, membuat anak- anak seolah merekam kembali ingatan kejadian Pasigala 28 Sepember silam. Sampai-sampai kami pun ikut terbawa suasana khitmatnya dari nyanyian mereka. Lirik yang dinyanyikan benar-benar menggambarkan kejadian gempa, tsunami dan llikuifaski di Pasigala secara detail dan dapat menjadi media untuk merawat ingatan. Berikut merupakan liriknya:
Sore itu surya hampir tenggelam
di pantai talise donggala
28 september 2018
di Sulawesi tengah
Tiba-tiba terasa bumi berguncang
meluluh lantakkan tanah kaili
Hiruk pikuk manusia berlari tanpa arah
tak tahu harus kemana
Tanah terbelah rumah rata dengan tanah
air laut meluap seakan marah
Jembatan kuning terpisah dua
masjid agung hampir tenggelam
akibat dahsyatnya bumi meronta
Lebih seribu jiwa jadi korban bencana
banyak yang kehilangan saudara
Pengungsi dimana mana
mengharapkan bantuan kita
Semoga semua ini jadi pelajaran
untuk kita manusia
Setahun sudah berlalu, dan kami kembali mengingat lagu yang dilantunkan oleh anak-anak desa Namo yang bercerita tentang bencana yang menimpa Pasigala. Setelah ditelusuri tidak pula menemukan siapa yang menciptakan lagu ini, namun kami menemukan sebuah kanal youtube bernama Oby Cs yang mengunggah lagu ini pada 2 Oktober 2018 silam.
Sebuah lagu dapat menjadi sesuatu yang berharga untuk mengingat kembali fenomena yang pernah dialami. Dari lagu kita dapat merawat ingatan dan melawan lupa akan segala yang pernah terjadi. Kenangan pahit yang dituangkan dalam lagu ini semoga dapat menjadi pembelajaran bagi siapapun untuk bisa mengurangi risiko bencana, agar dampak yang dialami bisa dikurangi. Tepat setahun sudah berlalunya bencana yang menimpa Pasigala, teriring doa serta semangat pada seluruh warga Sulawesi Tengah untuk segera bangkit dari segala cobaan yang melanda dan mulai melangkah maju menyongsong masa depan yang gemilang.
Oleh: Lien Sururoh
Gambar 1. keadaan pasca likuifaksi di daerah Petobo
Gambar 2. kondisi rumah rusak berat di desa Boladangko Kec. Kulawi Kab. Sigi
Gambar 3. Anak sekolah mencari buku yang masih bisa digunakan di sisa sisa puing sekolah di desa Bolapapu kec. Kulawi Kab. Sigi
Gambar 4. Kondisi pembelajaran di sekolah darurat SD Inpres 3 Bolapapu
Gambar 5. Tim Respon terbaik sepanjang masa (menurut saya)
Gambar 6. Kondisi jalan poros Palu-Kulawi tepatnya di daerah Gunung Potong
Gambar 7. Kondisi Kota Palu pasca diterjang Tsunami












