Barangkali, perpisahan memang seluka itu—membekaskan ragu di dalam dada. Menyelimutinya dengan segala sesal dan kesepian. Di hadapanmu, aku ingin menjadi yakin bahwa harapan ialah satu-satunya jalan keluar dari kegelapan.
Namun, apakah segenap harap untuk kau dan aku itu sudah cukup? Ketika bekas ragu lamat-lamat menjelma peluru yang berdesing melumat kisah kita hingga tak lagi pernah utuh. Di dalam keyakinanmu, aku adalah pertanyaan dan sebuah tanda tanya tanpa jawaban.
Aku tidak membunuhmu di dalam keyakinanku sendiri—di sanalah, aku merangkaimu sebagai kata-kata yang ingin kutiupkan bahagia ke dalamnya. Yang ketika kaubaca lagi, hanya cinta yang kelak kaurasakan.
Mungkin, bagimu aku mencipta tanda tanya. Sedangkan bagiku, kamu ialah harapan yang nyata.
Aku curiga, jika kebahagiaan yang ingin kauletakkan dalam segala rangkaian kata-kata, hanya sebagai pengampunan dari rasa bersalah belaka. Sebab kau pasti tahu, jika aku tak baik-baik saja dalam cinta ini. Sekalipun kubaca lagi di kemudian hari, kisah kita seperti tragedi dengan tanda luka paling perih—dan hingga saat ini aku bertahan dengan tertatih.
Namun bibirku tak pernah mau berkata jujur—kalimat selamat tinggal itu terkubur—sebab tak tega, sungguh tak sampai hati melihat harapanmu hancur.
Jika luka ialah batas yang kautakutkan, mari kita bicarakan kembali perihal rasa untuk mengobati.
Bahwa, aku taklagi sekadar ketiadaan di kedua bola matamu—melainkan sebagai sebuah kapal yang berlayar menuju dermaga di dalam dadamu.
Katakan bagaimana caranya harapanku benar-benar berlabuh di keyakinanmu. Jangan biarkan detik yang telah lalu menelanmu.
Aku tak lagi menemukan bara yang hangat dalam sepasang matamu—hanya keegoan untuk bertahan. Tentang kita telah telanjur luka, apakah mampu untuk tetap melangkah tanpa terpincang? Kau seperti takut kehilangan, dan aku seperti terus merasa kurang.
Sudahkah kau bertanya pada dirimu sendiri tentang aku yang belum sepenuhnya melengkapi? Tak perlu disangkal, perjalanan kita memang sedang terjungkal.
Aku mohon, telaah lagi perasaan ini Bukan hanya saling mengobati karena pasti ada bekas yang tak mungkin dipungkiri
Percayalah, Puan, siapa pun bisa kehilangan arah—selalu ada jalan untuk kembali. Jika kehangatan itu telah padam, izinkan aku meluruhkan ego dan membiarkanmu merasai lagi apa yang dulu pernah kaucintai dari segala tatapku.
Telah lama aku merutuki segala penyesalan setelah kepergian darimu, telah ribuan detik aku selami untuk mencari jawaban atas dari segala luka yang kucipta untukmu.
Namun, aku telah menyematkan segenap keyakinan di kedalaman hatiku, bahwa mencintaimu ialah kemantapan yang akhirnya kusungguhi. Gapailah jemariku lagi, Puan. Kali ini takkan pernah kulepaskan lagi.
Sekarang dan selamanya.
Maka, kembalilah dengan segenap keyakinan yang kau punya. Suguhkan aku alasan, penyesalan, kekecewaan atau apa pun yang membuat harapanmu kembali bernyawa.
Tapi, maafkan aku tuan.
Akan selalu ada celah untuk hati ini merasa lelah dan pasrah atas segala peristiwa yang ternyata salah arah. Percayaku mungkin telah pudar sebab apa yang pernah kaulepas adalah yang kuperjuangakan tanpa gentar.
Bila mencintai pada kesempatan kedua adalah cara semesta membuatmu jera dan seakan ku didera. Biarlah satu sama lain mencari lagi kebahagiaannya masing-masing dengan tetap beriring meski merasa saling asing.
Sebuah kolaborasi, @ariqyraihan dan Rena Kharisma
Jakarta - Sidoarjo,
10 Februari 2020







