Berjuang di kampus memiliki banyak makna dan arti. Terlalu umum kalau hanya menjual kata berjuang. Karena yang berjuang dari kesendirian untuk tak sendiri lagi, juga layak disebut berjuang. Yang berjuang demi penghargaan dan pengalaman pribadi juga layak disebut berjuang. Tapi, bukan itu yang ingin saya bahas di sini. Saya tak membesarkan perjuangan yang ini, tapi izinkan saya membahas sedikit hingga alasan kenapa saya menyebutnya jalan perjuangan.
Saya pernah merasakan berjuang sebagaimana mahasiswa umumnya. Berjuang demi akademik, demi prestasi pribadi juga demi ketenaran diri sendiri. Ya, setidaknya saya masih manusia dengan hal itu pernah menjadi orientasi. Tapi semua itu berhenti ketika dihadapkan dengan sebuah kata bernama PENGABDIAN. Tidak ada hubungannya memang dengan judul di atas, namun semoga janji saya untuk menjelaskan jalan perjuangan ini bisa membuat kita memahami bersama.
Saya sudah kenyang dengan pengalaman setahun menjadi ketua himpunan. Mulai dari ancama Drop Out karena harus bertanggung-jawab atas ulah beberapa oknum yang menyebabkan terjadinya pertikaian antara himpunan saya dengan himpunan teknik elektro di kegiatan wisuda. Sampai yang paling besar adalah tragedi semi final futsal yang tidak akan pernah terlupakan. Semua itu lagi-lagi membuat saya kenyang, bahkan tak ingin lagi rasanya menambah porsi meski hanya untuk sesuap pengalaman.
Rencana selanjutnya adalah memantaskan diri untuk bisa lulus dari tahap sarjana dan selanjutnya melanjutkan mimpi yang kemarin sempat tertunda agendanya -kuliah pasca sarjana. Saya sudah meng-azzam-kan diri untuk tidak terlibat lagi. Titik dan tidak ada alasan lagi, cukup sudah perjuangan saya dengan organisasi mahasiswa. Ekonomi keluarga dan desakan untuk segera lulus menjadi alasan utama. Selain itu rencana hidup mengatakan saya harus fokus di tahun ke 4 ini. Fokus! Itu yang tidak saya dapatkan saat menjabat sebagai ketua himpunan setahun kemarin.
Rencana dan tekad itu masih teguh hingga suatu malam, telepon saya berbunyi. Seperti yang sudah saya duga, ini tidak akan mudah. Salah satu senior di kampus memberi sinyal yang tidak saya inginkan, aktif kembali di politik kampus. Alasan demi alasan terus ia sampaikan, namun di dalam hati azzam itu tetap teguh. Sambil berkata mantap, “Maaf saya sudah punya rencana dengan hidup saya”. Berakhirlah komunikasi malam itu.
Besok malamnya senior lainnya datang, menelpon untuk tujuan yang sama dengan alasan yang agak sedikit lebih menohok hati saya. Entah kenapa untuk senior yang satu ini saya tidak bisa menolak. Meski jurus yang sama sudah saya naikkan tingkat keacuhannya, saya tidak bisa berkata apa-apa lagi saat kata-kata pamungkas itu keluar. “Silahkan istikharah dulu. Saya gak mau jawabanmu malam ini. besok saja!”
Tahun ke 4, seharusnya saya sedang asyik dengan skripsi dan tugas rancang untuk menyelesaikan beban studi yang tersisa. Seperti yang sudah saya bilang di awal, rencana saya dengan investasi nilai di awal cukup berhasil. Alhasil, di semester 7 tak terlalu banyak beban studi yang harus saya selesaikan. Namun, semester ini lah yang sejujurnya menentukan bagi nasib akademik saya. Tugas Akhir/Skripsi di peminatan saya tidak lazim diselesaikan dalam waktu 1 semester. Jadi, kalau saja saya memilih untuk “manja” dengan keadaan, maka mungkin ceritanya akan lain. Ya, akan lain!
Saya sedang asik dengan memikirkan konsep Move On bersama Ojan dan kawan lainnya. Jawaban yang saya ambil dari telepon malam itu adalah, mengubur (lagi) mimpi itu demi alasan yang tak tentu. Tak tentu karena memang tak ada hubungannya dengan disiplin ilmu, tak tentu karena saya hanya berharap semua yang saya lakukan, kelak Allah lah yang mengganti dengan hal lainnya. Ya, saya ambil keputusan untuk aktif dalam pemilihan raya Badan Eksekutif Mahasiswa.
Sayangnya ini bukan tentang cerita manja karena ingin menumpahkan cerita. Tidak, saya tidak pernah menyesal memilih jalan ini. Bukankah sudah pernah saya bilang sebelumnya. Kalau Allah tidak pernah salah alamat mengantarkan hamba-Nya. Begitupun dengan saya, mahasiswa teknik yang ke-asik-an dengan dunia sosial politk.
Selepas memutuskan untuk ikut terlibat aktif dalam kegiatan politik kampus di tahun ke 4, maka sejatinya saya telah memutuskan untuk mengambil konsekuensi itu. Lulus tidak tepat waktu! Bagi saya, tidak ada kata setengah dalam berusaha. Sama juga seperti doktrin yang Mas Harris sampaikan di Kantin FTK lalu. Kuliah itu wajib dan setiap mahasiswa harus selesai dengan persoalan itu. Sedang organisasi itu pilihan, tapi kalau kamu masuk di dalamnya. Maka tidak ada pilihan kecuali totalitas!
Garis pembeda, sengaja saya sampaikan dalam tulisan ini untuk mereka yang masih bimbang dengan hidup mereka. Kadang tidak semua yang indah menurut orang banyak, juga indah untuk kita. Kadang yang ideal itu tidak selalu cocok untuk kita. Kadang yang manis pun tidak selalu klop dengan semut yang mencarinya. Satu hal yang perlu kita semua ingat, kita hanya bisa berencana, Tetap Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa-lah yang mampu menentukan hasilnya.
Jalan (mahasiswa) itu jalan yang penuh onak dan duri. Bukan untuk bermain-main apalagi dipilih lantaran alasan ketidak sukaan pada satu pihak! Sekali lagi tidak! Maka kalau kita tercelup di dalamnya, satu-satunya alasan adalah kita lakukan karena mengharap Ridha-Nya, bukan lagi karena imbal manusia apalagi pamrih dari mereka, Juga ingat, di garis pembeda ini kita akan terlihat beda seperti namanya. Siapa yang mampu menjalankan perannya maka akan ‘bahagia’, namun kalau bermain dengannya bukan hanya citra diri pribadi, nama besar “keluarga” juga sedang di-pertaruh-kan disana!