'Fada. Maaf selama ini aka tidak ada kabar. Aka sedang tidak apa-apa. Hanya tidak ingin diganggu saja, terlebih sama fada. Maaf jika perkataan aka ini membuatmu berkecil hati. Bukan aka tak ingin menjadi bagian dari hidup fada. Tapi sepertinya, Allah punya rencana lain untuk kita. Untuk saat ini, kita jalani hidup kita masing-masing. Perihal nanti akan seperti apa, biar Allah uang tentukan. Jadi, tetaplah menjadi fada yang aka kenal. Selamat menjalani hidup baru'.
Duaaaar ! Rasanya hancur hatiku. Terjawab sudah. Ya. Terjawab ketidakpeduliannya selama 3 hari ini. Perhatiannya yang kurang. Sikapnya yang dingin. Dan rasa enggannya untuk mengangkat telfon.
Aku masih termenung dalaam ayunan. Tempat dimana menjadi saksi percakapanku hari ini. 'Kenapa? Kenapa harus sekarang? Padahal aku disini untuk membuat dia bangga atas prestasiku? Kenapa harus sekarang? Kenapa dia pergi disaat rinduku membuncah untuknya..', batinku dengan tangis yang tertahan.
Aku berusaha tetap tenang. Tegar. Dan kembali ke kamar seperti tidak ada apa-apa. Namun sesampainya dikamar...
'Fada kenapa? Kok nangis?', tanya jilly.
'Tadi perasaan dia gak apa-apa pas pergi keluar. Mukanya ceria', sahut mufi.
Aku tak memperdulikan pertanyaan mereka. Yang aku tahu, hingga titik dimana aku berada. Selalu ada dia dalam keseharianku. 'Mungkinkah Tuhan menegurku dengan cara seperti ini?', batinku.
'Ya. Mungkin. Karena aku terlalu mencintai manusia-nya dibanding penciptanya', lirihku.