Secarik Kata Penyemangat
Tidak pernah ada rasa bangga atas apa yang dulu kuanggap sebagai suatu “pencapaian”. Rasanya sekarang ini, semua hal itu adalah kebodohan-kebodohan yang merugikan diri sendiri.
Luapan rasa syukur rasanya memang perlu sering-sering terucapkan. Bukti cintanya Allah kepada saya (dan kita semua) sejatinya bukan suatu hal yang perlu dipertanyakan. Bagaimana penjagaan-Nya, perlindungan-Nya. Allah tutupi semua aib tanpa terkecuali, Allah tunggu kiita kembali dengan segala bentuk nikmat dan rizki. Tetap sehat meski berdosa, tetap kenyang meski berdosa, tetap bekerja, berpenghasilan, keluarga, teman, dan juga sahabat yang baik meski kita begitu sangat berdosa.
Dalam keadaan demikian, Allah berikan saya jalan, Allah tuntun saya kembali, Allah beri sinar dari gelapnya hidup yang dulu pernah saya jalani. Suatu perjalanan yang sebenarnya tidak pernah tergambar sama sekali.
Allah kirimkan kepada saya malaikat-malaikat dunia dalam bentuk keluarga dan juga sahabat-sahabat yang senantiasa mendampingi saya menuju pada ridhonya Allah. Berat sekali jalan. Jangan dikira saya tidak pernah tersesat jauh, jangan dikira saya tidak pernah lelah, bahkan berkali-kali memilih berhenti. Meski pada akhirnya Allah tuntun kembali nurani untuk bangkit. Meski harus merangkak dan tertatih, berjuang untuk dapat berdiri di kaki sendiri, pada akhirnya saya memaknai. Tidak pernah ada jalan lurus tanpa rintangan menuju puncak pegunungan, yang ada hanya terjal dan terus mendaki jika kau ingin melihat indahnya kuasa Tuhan.
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?.” (Al-Ankabut/29:2)











