Ilusi Sudut Pandang dan Lakon Kegilaan
Manusia adalah serentak tunggal dan jamak di alam semesta ini. Sebagai individu yang bermasyarakat, dalam dirinya terdapat berjuta-juta galaksi mimpi dan fantasi, karakter khayal tak berhingga, dambaan dan cinta yang tak terpuaskan, kesedihan tanpa batas, nafsu kebencian, keserakahan, kesewenang-wenangan, dan lainnya.
Dunia selalu setia menjadi saksi atas semua perkara ini. Gerak-gerik manusia terekam jelas dengan jejak-jejak DNA di setiap langkah, celah juga jeda dalam hidupnya. Setiap detik yang bergulir selalu memberikan cerita tersendiri dalam fragmen kehidupannya. Tanpa terkecuali perihal baik-buruknya suatu peristiwa yang sering menjadi terjangan problema.
“Dimana kaki berpijak, disitu mata membelalak.
Dimana pikir meruah, disitu ingin menumpah.
Dimana rasa bergejolak, disitu emosi menyerak.
Dan dimana tekad membulat, disitulah kehendak bergulat”.
Ini bukanlah sebuah kutipan peribahasa yang dijadikan sebagai falsafah hidup sebagian manusia tentang bagaimana mereka harus membangun kesadaran atas apa yang tengah mereka hadapi dan jalani dalam kehidupan. Melainkan tentang hasrat yang kadang menikam dalam senyap, memperdayai empati hingga melenyap.
Dimana kaki manusia memijak, memang akan memberikan sudut pandang berbeda atas apa yang mereka lihat, juga konsep pemikiran dan tindakan yang beragam ─ senantiasa berubah.
Sebagai makhluk sosial yang berakal dengan trias dinamikanya, kehidupan manusia sangatlah kompleks dan menuai banyak pertanyaan.
Cipta, rasa dan karsa telah menjadi kekuatan penggerak manusia dalam beraktifitas, bahkan dalam membentuk sebuah peradaban. Peradaban merupakan tahapan perubahan dari perkembangan akal budi manusia yang telah berjalan bertahap dan berkesinambungan dengan karakter khas dan didalamnya terdapat norma yang mengatur kehidupan.
Namun, pesatnya perkembangan zaman saat ini menumbuhkan cakrawala pandangan manusia yang semakin terbuka luas, sehingga merubah kondisi dan perilakunya.
Perubahan yang terjadi membuat manusia diperhadapkan dengan fenomena yang menghadirkan dorongan keinginan untuk terus mencapai sesuatu di luar diri mereka, dan selalu ingin mengubah atau memperbaiki apa-apa saja yang ada disekitarnya, disertai atau tanpa adanya pertimbangan.
Hal ini ternyata tak hanya membawa manusia pada kondisi yang menghadirkan kemaslahatan dalam hidup, di lain sisipun turut menghadirkan hal sebaliknya. Sebuah fenomena baru dimana manusia hidup dalam dunia yang semakin meluruh karena letupan kegilaannya.
Perhelatan Kegilaan
Peradaban manusia mungkin bisa dikatakan berjalan beriringan dengan kegilaannya, walaupun kegilaan adalah suatu hal yang terlalu sukar diberi batasan dan definisi pasti, karena dalam setiap fase sejarah kegilaan diukur dengan batas normal yang terus-menerus berubah, berbeda dari masa ke masa, sebagaimana analisa Michel Foucalt dalam bukunya Madness and Civilization (Kegilaan dan Peradaban).
Hari ini, mungkin menjadi babak baru yang menandakan evolusi perwujudan kegilaan manusia. Dunia yang semakin renta menua tak hanya bersedih karena ditimpa penyakit yang mendera, duduk perkaranya adalah melainkan karena beberapa penghuninya semakin mengada-ada, melampaui batas normal, dimana sebagian manusia semakin menampakkan wajah anomie-nya.
Dapat kita saksikan kehidupan benar-benar sedang diuji. Perhelatan akbar tentang kegilaan tengah dipertontonkan di bumi pertiwi ini, dan manusia memang merupakan aktor yang paling ahli dalam memainkan perasaan.
Ada orang-orang yang tengah berjuang mengais rezeki demi sepotong senyuman keluarga, namun begitu saja terhenti paksa. Ada yang tengah bergelut dengan cucuran keringat mencari nafkah, namun tetiba saja harus berdiam di rumah, mengusap air mata atas rintihan suara perut yang mereka rasa.
Bahkan iring-iringan mobil jenazah malah di lempari kayu dan batu kerikil, mayat didalamnya ditolak untuk dikebumikan.
Dalam scene kegilaan yang ditayangkan. Ada orang-orang yang masih terus memainkan lakon kebodohan dengan ambigu kepanikannya, menimbun banyak barang sebagai upaya memperkaya diri.
Belum lagi korporasi besar yang masih menikmati subsidi, pun para petinggi-petinggi negeri dan koleganya (oligarki) yang masih sibuk sana-sini nyeleneh dengan isi kepala mereka beserta ambisinya, saling serobot mencari panggung, dengan pandangan saling berseberangan.
Juga mengenai keadilan yang masih dipaksa bungkam serta kebijakan yang selalu saja ditulis atas dalil kepentingan penguasa. Alih-alih merumuskan jalan keluar, malah semakin menambah masalah yang mengakar ─ sebuah ilusi dengan kesan oase tentang kepedulian.
Tapi yah, beginilah hidup dengan semesta perspektif dan hasrat yang terus mempengaruhi manusia dengan balutan subyektivitas penilaiannya. Suatu hal yang dipandang benar belum tentu dipandang serupa oleh manusia lain, begitupun sebaliknya.
Titik Terang
Sebagai makhluk yang telah dianugerahi kebebasan, hidup adalah proses pengembaraan pada setiap fase kehidupan yang ada dengan segala lika-likunya.
Kehidupan yang berarti pun tidaklah mudah, selama manusia bernafas, tinta hidupnya akan selalu basah diatas kertas dengan coretan-coretan peristiwanya.
Sejauh mana akal manusia menyibak tanda-tanda kehidupan, disitupula mereka dihadapkan dengan kontruksi pemaknaan dan kebenaran yang senantiasa berlainan — melahirkan banyak perspektif.
Terus mengejar kebenaran akan membawa diri kepada ketegangan yang berkelanjutan dan kehidupan yang diwarnai dengan ketidakharmonisan.
Hingga membiarkan kebenaran untuk mendapatkan kebaikan adalah jalan yang mungkin akan membawa manusia mencapai sebuah titik terang.
“Perbedaan pandangan adalah suatu hal yang lumrah dan ketegangan sudah menjadi keniscayaan dalam kehidupan, namun menyerah terhadap keadaan yang mencekam tanpa pengendalian diri dan usaha memperbaiki adalah sebuah tindakan pengerdilan akal budi.”
Selain itu narasi tentang perbedaan sudut pandang dalam memahami hidup sudah menjadi ihwal yang sangat purba dalam proses kehidupan manusia. Perbedaan senantiasa akan menghadirkan pertentangan, pun sebaliknya perbedaan juga kadang menjadi pondasi kekuatan, jika didalamnya disertai dengan penerimaan— ketulusan hati dan kebesaran jiwa.
Ketulusan hati dan kebesaran jiwa menawarkan sukacita, jika suatu hal dapat dipandang dan ditempatkan dengan tepat.
Hal ini dapat ditempuh dengan memadukan pemaknaan personal dengan pandangan-pandangan yang lebih luas dalam kehidupan. Menepis gerogotan ego yang kadang membutakan — jalan pengendalian diri.
Kemudian hal ini tidak hanya akan membuka titik terang dalam gelap kegelisahan, pun juga akan membawa manusia pada sebuah jendela pemahaman.
Tuk menengok ke arah luar, bahwa ternyata di dunia ini, tak ada yang mutlak — tiada kesusahan yang kekal dan tiada kegembiraan yang abadi —tiada kefakiran yang lama dan tiada kemakmuran yang tetap (-Imam Syafi'i).
Sehingga suatu hal tidak selalu hanya diukur dari satu sisi saja (holistik).
"Rapuh bukan berarti selalu berujung pada keputusasaan. Begitupun keteguhan tak selalu menjadi jaminan kekuatan. Tugas kita tak hanya mengumpulkan bekal pemaknaan, tapi juga mengaktualkan penghayatan."











