Harus ada niat yang senantiasa diperbaharui pada setiap masanya
Niatan baik tentunya sesekali terbesit dalam hati setiap hambaNya, sekalipun kepada mereka yang terpandang kurang baik di kalangan hamba-hamba yang lainnya.
Niatan yang baik merupakan fitrah manusia yang masih memiliki hati dan kebaikan. Sebagai manusia yang sama-sama tak memiliki daya dan upaya kecuali atas kehendakNya, tidak selayaknya kita mudah untuk menghakimi baik-buruknya seseorang.
Niat yang baik saja sudah bernilai satu pahala, walau terkadang belum mampu untuk terealisasikan. Jika kita mampu dan siap melangkah, maka lakukanlah saat itu juga. Apabila menurut kita berat (padahal pikiran kita sendiri yang memberatkan), ada tekad yang harus dipupuk kuat dalam keyakinan. Seperti yang kita ketahui, hati manusia tidak lebihnya seperti air bejana yang sedang mendidih, begitu mudah berubah-ubah.
Banyak teori yang kita pelajari
Banyak pula teori yang lalu lalang, nyaris terabaikan
Sudah sekian banyak argumen yang terepresentasikan, demi mematahkan argumen-argumen lainya, sampai kita sendiri pun tak mampu memahami esensi dari realitas argumen tersebut.
Sudah sekian kalinya kita berproses, tanpa ada tindakan aplikatif dari proses-proses yang kian tak berujung.
Boleh kita berteori, walaupun suatu saat teori tersebut akan terpatahkan oleh teori lainnya. Setidaknya kita memahami teori tersebut, yang kemudian diterapkan di dalam diri, dan kita merasakan manfaatnya sendiri.
Harus ada niat yang segera diperbaiki
Niat yang baik akan ada pada sosok yang baik pula. Berusahalah untuk menjadi baik, meski sejatinya tak ada yang lebih baik dariNya.
Harus ada niat yang senantiasa ditata kembali
Sadari bahwa kita senantiasa memerlukan perbaikan diri. Berusahalah untuk mengenali diri, meski sejatinya hanya Ia yang mampu mengerti bagaimana hati ini.
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?