Mawar di Langit Romansa
"Kamu sakit Fatimah?" tanya Faris khawatir sekilas melihat Fatimah yang terlihat pucat dan matanya seperti mentari yang kehilangan sinarnya. Redup, tak bergairah.
"Dan apabila aku sakit, Dialah (Allah) yang menyembuhkanku," batin Fatimah ketika melihat raut wajah khawatir Faris yang tergambar di wajah teduhnya dan berusaha dia palingkan.
"Aku baik dan sehat kok Ris, Eh maaf ya aku mau ke kantin,"
"Aku juga mau ke kan ...."
"Eh maksudku aku mau ke perpus, maaf ya aku duluan," ulang Fatimah mengubah haluan ketika dia tahu bahwa Faris memiliki tujuan yang sama dengannya. Entah mengapa untuk saat ini tidak bertemu Faris adalah tujuannya kedua dalam daftar diary menuju kelulusan.
Rasanya Fatimah ingin sekali menanggalkan apa yang sedang menggantung dan tinggal di hati dan pikirannya, sesuatu yang harus dia ikhlaskan, hal yang harus dia lemahkan rasanya.
Rasa untuk terus kagum dengan Faris yang diyakininya telah membuahkah hasil yaitu "Cinta".
"Ya Allah jika ini sulit, maka kuatkanlah aku melaluinya. Jika ini bakal menyakitkan, maka tegarkan dalam aku membawa laranya," batin Fatimah berbalik arah meninggalkan Faris.
Faris pun mematung menatap punggung wanita yang dia yakin sedang tidak baik-baik saja.

















