Profesional: Orang-orang yang Jatuh Cinta
Tulisan ini adalah tulisan lawas, hasil penugasan beasiswa yang kuikuti sekitar 3 tahun yang lalu (mulanya dimuat di di https://baktinusabandung.wordpress.com/2013/09/25/profesional-orang-orang-yang-jatuh-cinta/). Salah satu keajaiban menulis: kamu bisa menjumpai nasihat dari dirimu di dimensi waktu yang berbeda.
Suatu hari saya terlibat dalam obrolan bersama beberapa teman di kemahasiswaan, “Bagaimana cara membangun dan meng-assess profesionalitas dalam diri seseorang?” Berangkatlah kami dari pertanyaan mendasar, “Apa yang kami maksud dengan profesional?”
Diskusi yang berlanjut kemudian mengarahkan kami pada sebuah kesimpulan, “Profesional adalah bekerja sesuai dengan prosedur-prosedur yang ada dalam suatu profesi.” Dalam kasus kami, profesionalitas ini berkaitan dengan profesi kami sebagai dokter. Oleh karena itu, tugas kemahasiswaan adalah memfasilitasi, atau minimal menyadarkan, mahasiswa untuk memenuhi hal-hal yang diperlukan untuk menjadi dokter yang profesional, baik itu secara hardskill maupun softskill.
Berlanjut pada metode assessment yang mungkin dilakukan, kami beranjak pada kesadaran bahwa proses assessment dari sikap profesional yang sebenarnya adalah tatkala setiap orang terjun ke dunia profesinya masing-masing. Apa yang bisa diberikan melalui kemahasiswaan merupakan bagian dari proses sehingga yang bisa kami assess nantinya berada dalam tataran proses.
Kisah yang saya ceritakan di atas merupakan exposure pertama saya dengan kata ‘profesionalitas’. Saya tidak menyangka bahwa beberapa tahun setelahnya, konsep profesionalitas itu baru menemukan bentuknya yang utuh di benak saya. Bukan, tentu bukan sesuatu yang salah tatkala kita memaknai profesionalitas sebagai suatu keberjalanan profesi sesuai prosedurnya. Namun ada satu hal yang kami lupakan.. bahwa suatu sikap yang profesional memerlukan bahan bakar dalam perwujudannya: passion.
Mengapa harus kata passion yang keluar? Passion erat dengan kecintaan hati dan jiwa. Lantas, sepenting apakah peranpassion dalam suatu profesi atau pekerjaan?
Bayangkan seorang pemuda yang sedang jatuh cinta. Apa saja akan ia lakukan untuk semakin dekat dengan seseorang yang ia cintai. Bila sang gadis menyukai musik, ia akan berusaha untuk mempersembahkan lagu terbaik untuk kekasih hati. Entah dengan suaranya sendiri atau mengundang penyanyi favorit sang gadis. Pemuda itu akan rajin mencari tahu apa yang sang gadis sukai, kemudian bersungguh-sungguh memutar otak untuk memberikan yang terbaik bagi sang pujaan hati. Oh, contoh yang saya berikan picisan betul, ya? Hehe. Saya sengaja menuliskannya agar kita mudah membayangkan pentingnyapassion, atau, sebutlah cinta dalam suatu profesi.
Suatu hal yang biasa tatkala seseorang bekerja sekadar sesuai prosedur. Latar belakang yang biasa terjadi, agar sang pemimpin perusahaan atau institusi memberinya gaji sebagaimana yang telah disepakati. Namun, bisakah kita membayangkan seseorang yang bekerja sesuai prosedur, lantas karena disertai cinta, ia memberikan kinerja terbaiknya dalam aktivitas profesi yang ia jalani? Sudah disiplin, sungguh-sungguh dan inovatif pula.
Nah, setelah membaca pemaparan singkat di atas, masihkah ingin bertahan menjadi profesional yang sekadar memenuhi standar prosedural belaka? Kalau jawabannya ya, maka tidak ada bedanya kita dengan robot yang hanya menjalankan sesuatu sesuai bahasa program yang disetting sebelum ia mulai bekerja. Bagaimana bila kita bersepakat, bahwa profesionalitas juga melibatkan hati dan jiwa? Seseorang yang profesional tidak boleh berhenti pada tataran operasional belaka, ia harus memiliki mimpi dan cinta dalam setiap aktivitasnya. Bila sudah begitu, cita-cita setiap profesi bisa tidak hanya menjadi slogan saja.
Para profesional kesehatan akan mampu bersinergi membangun Indonesia yang sehat. Para profesional di bidang teknologi akan berinovasi mendorong kemandirian teknologi di Indonesia. Para profesional di dunia pemerintahan akan bersungguh-sungguh melahirkan regulasi sekaligus aplikasi yang terbaik bagi Indonesia.
Maka, sertakan cinta dalam aktivitasmu. Cinta yang jujur dan menjernihkan hati. Cinta yang melejitkan potensi.
Cinta yang mampu memberikan cahaya tidak hanya bagi dirimu, tapi juga bagi siapapun yang berkesempatan merasakan manfaat dari optimalisasi kerjamu. Tanpa batas ruang. Tanpa batas waktu.