PENGALAMAN SAYA MUNGKIN BISA DIJADIKAN TIPS MENGATASI PROKRASTINASI
Pembaca mungkin memiliki segudang referensi terkait konsep prokrastinasi beserta cara mengatasinya. Saya sempat membaca bahwa istilah prokrastinasi pertama kali diperkenalkan oleh Brown dan Holzman pada 1967, yaitu; kecenderungan menunda-nunda penyelesaian suatu tugas.
Banyak contoh bentuk prokrastinasi yang bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya. Sesederhana menunda penyelesaian tugas mingguan atau bulanan apabila pembaca merupakan seorang mahasiswa, atau hal-hal yang tampak lebih "remeh" seperti; membiarkan barang-barang tak relevan berserakan di meja kerja atau lemari baca, tidak mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa ke kantor esok hari lebih awal, membiarkan gelas-gelas dan piring-piring sisa makan dan minum sebagai peneman nonton serial Netflix teronggok dalam waktu yang cukup lama di dalam kamar.
Saya bukan seorang prokrastinator. Tapi saya menyadari bahwa membiarkan hal-hal remeh tersebut di atas sebagai sebuah kebiasaan bisa menjadi jalan bagi saya untuk melakukan bentuk-bentuk prokrastinasi yang lebih besar dan akut. Jadi, saya berupaya peka terhadap hal-hal "remeh" itu. Saya akan tuliskan contoh-contoh yang saya lakukan dalam keseharian sebanyak yang saya mampu.
Pertama; saya membersihkan debu-debu yang sekiranya menempel pada barang-barang di dalam ruang secara rutin. Saya juga meminimalisir debu-debu masuk ke dalam barang-barang itu, misal; meletakkan gelas-gelas minum dimana posisi bibir gelas menghadap ke bawah apabila tidak sedang digunakan. Apabila gelas sedang digunakan, saya akan menutupnya dengan tutup gelas apabila sedang tidak saya minum.
Kedua; Meletakkan barang-barang dalam ruangan atau "tempat" secara sistematis dan terintegrasi sesuai dengan kreativitas gaya bekerja atau pola hidup saya. Saya akan membagi point ke-dua ini dalam beberapa contoh;
a. Contoh sederhana bisa dilihat dari kebiasaan saya menumpuk piring-piring kotor secara simetris dalam bak pencucian. Saya tidak akan menumpuk piring-piring yang berbeda ukuran dalam satu susunan.
b. Saya meletakkan gantungan baju di sekitar belakang pintu kamar. Apabila saya pulang dari bepergian, saya bisa langsung menggantung pakaian karena geraknya selaras dengan selepas saya memasuki ruangan dan menutup pintu. Sebagian dan tidak sedikit orang punya tata kelola seperti ini. Mungkin pembaca adalah salah satunya? ;)
c. Saya memanfaatkan kantong-kantong di pakaian untuk menyimpan barang-barang penting ketika sedang bepergian dan membiasakan itu. Karenanya, hampir tidak pernah ada kasus atau orang mengetahui saya kehilangan dan ketinggalan kunci motor, kunci mobil, atau kunci rumah.
d. Saya terbiasa menggunakan fitur stopwatch dalam smartwatch untuk mengukur seberapa lama biasanya saya melakukan suatu aktivitas. Data yang saya peroleh bisa saya gunakan untuk mengelola waktu dalam penyesuaian antar satu aktivitas dengan aktivitas yang lain. Contoh; jika memanaskan mesin kendaraan membutuhkan waktu sekitar 4-5 menit, maka selama itu pula saya akan meninggalkan kendaraan kemudian melakukan aktivitas lain seperti membuat kopi sachet, menggoreng telur dadar, memasukkan pakaian-pakaian kotor ke dalam mesin cuci sekaligus mengoperasikannya, atau mencuci beberapa perkakas dapur dan menonton tutorial di Youtube sebentar. Percayalah, ketika kita telaten mengelola waktu, hasilnya akan mengejutkan.
e. Pernahkah mengalami situasi dimana seseorang atau orang-orang rumah menitipkan barang padamu? Saya membiasakan diri menyediakan wadah/ tempat untuk menyimpan barang-barang titipan itu. Ini berlaku tak hanya dalam konteks wadah yang riil, tetapi juga seperti file-file yang saya simpan dalam satu folder di penyimpanan data. Saya juga menjaga kebiasaan untuk melakukan cek titipan-titipan tersebut secara berkala supaya kelak saya tidak lupa di mana saya meletakkan barang-barang sedetail mungkin.
f. Saya berupaya rutin memulai kembali perawatan wajah sederhana setelah sekian lama tidak rutin melakukannya. Apa hubungannya dengan tema tulisan ini? Begini; kebetulan ketika saya membersihkan wajah, saya membaca cara pemakaian yang tertera di belakang wadahnya. "Gunakan dua kali sehari setelah membasuh wajah dengan air"; "Gunakan langsung di wajah tanpa dibasuh air serta biarkan selama 3 menit dan lakukan dua kali seminggu", serta;"Gunakan langsung di wajah tanpa dibasuh air. Biarkan selama 5 menit dan lakukan seminggu sekali". Ini mengajarkan saya untuk mengelola waktu tak hanya dalam perawatan wajah, tetapi juga membayangkan apa hal-hal penting yang belum sempat dilakukan dan saya berpikir untuk lebih ketat lagi dalam mempraktikkan pengelolaan waktu dengan baik.
g. Berupaya menanamkan kuat-kuat dalam diri;"Sekarang atau tidak sama sekali".
Mempraktikkan cara-cara di atas secara rutin dalam kehidupan sehari-hari membuat saya tak hanya lebih waspada bahwa ada pembiaran-pembiaran yang tidak bisa ditolerir, tetapi juga menempa diri untuk membangun pondasi kedisiplinan diri serta sistem tata kelola waktu yang apik di masa depan.
Tertarik mencoba cara-cara di atas?