Setelah sekian lama mindlessly baca Al-Kahfi, hari ini tiba-tiba terlintas di dalam pikiranku betapa hikmah dan kebijaksanaan Allah itu, terkadang melampaui batas nalar kita yang masih harus banyak belajar.
Kisah Nabi Musa a.s dan Nabi Khidr a.s adalah kisah yang familiar untuk banyak orang. Pertemuan Nabi Musa a.s dan Nabi Khidr a.s adalah tentang hikmah bersabar menuntut ilmu. Ada banyak hal yang sulit untuk kita pahami secara logika, tapi jika terus belajar, suatu saat atas izin Allah, nalar kita akan mengerti hikmah di baliknya.
Tapi sore ini yang tercetus dalam pikiranku adalah bagaimana Allah memilih Nabi Musa a.s sebagai nabi Ulul Azmi. Padahal kalau kita baca terjemahan kisah Nabi Musa a.s dan Nabi Khidr a.s, kita mungkin akan berpikir, rasanya Nabi Khidr a.s punya kebijaksanaan dan kedalalaman ilmu yang lebih baik dari Nabi Musa a.s, tapi kenapa Allah memilih Nabi Musa a.s?
Nabi Musa a.s yang pernah memukul seseorang sampai mati. Nabi Musa a.s yang pernah hidup dalam pelarian. Nabi Musa a.s yang punya kesulitan berbicara. Kalau boleh lantang, kita juga akan berkata Nabi Musa a.s yang banyak maunya, karna menjadi Nabi kaum Bani Israil yang sungguh amat sangat banyak maunya.
Nabi Musa a.s yang bahkan dalam perjalanannya bersama Nabi Khidr a.s tidak menahan diri dari menghakimi tindakan Nabi Khidr a.s. "Bukankah ini perbuatan yang buruk? Kenapa engkau melubangi kapal mereka yang miskin? Kenapa engkau membunuh anak yang tidak berdosa?"
Apa sesungguhnya yang ingin Allah sampaikan?
Nabi Musa a.s seolah diberitakan sebagai Nabi yang dibalik keunggulan akhlak dan keistimewaan mukjizatnya, rupanya adalah manusia biasa juga. Manusia, tempatnya salah dan lupa.
Allah akan memuliakan siapa yang Ia kehendaki. Dan kehendak Allah telah menetapkan Nabi Musa a.s, yang tidak luput dari kekurangan, sebagai Nabi Ulul Azmi.
Mungkin diri yang tak lepas dari dosa ini masih punya kesempatan.
Kesempatan untuk mendapatkan ampunan dan kasih sayang Allah, sebagaimana Allah menolong dan menyempurnakan kekurangan Nabi Musa a.s.