Bagi sebagian orang, memang menjadi sebuah pertanyaan, mengapa ada setting waktu di gadget, pabila waktu tak bisa terulang kembali.
kala itu, tahun dua ribu dua belas, di kota kecilku, aku bertemu dengannya.
Ya, kota kecil, memang, tapi setidaknya ditahun itu ada lebih dari satu juta jiwa disana. Dan Tuhan mempertemukanku dengannya,
Saat itu, aku masih sebiji jagung putri, yang memandang cinta hanya sebuah permainan, sedang dia, setidaknya biji jagung yang sudah mulai meranum.
Aku terbangun dari tidur siang, matahari sudah mau pulang ke asalnya, kudapati rumah tak ada sesiapa, sial! Aku paling tidak suka sendiri saat bangun tidur menjelang Maghrib, seperti biasa, segera kucari handphone-ku, berharap pesan singkat dari orang tuaku, “Teh, Mamah pergi ke rumah Pak Aceng, temen abahmu, meninggal kecelakaan, kepalanya pecah kelindas truk.”, baiklah, itu menyeramkan, tapi memang itu pesan singkat dari ibuku, lalu aku segera menulis status di BBM, entahlah, kukira bukan sebuah status, spesifiknya adalah pesan singkat yang bisa dilihat oleh orang lain, biasanya kalangan orang-orang alay sepertiku dulu, sering sekali memasang pesan singkat dikolom tersebut, kami menyebutnya “status BBM”.
Kutulis status BBM tersebut berupa keluhan kesahku terhadap kesendirian dirumah dan kematian kerabat ayahku yang luar biasa mengerikan, berharap ada yang memberi komentar berupa perhatian.
Benar saja, banyak teman-temanku yang bertanya dan memberi perhatian berupa do’a, namun hanya ada satu lelaki di seberang sana yang menurutku menarik, oh tidak-tidak, bukan do’nya yang menarik, karena setiap do’a adalah berkah, namun, yang membuat satu laki-laki itu menarik hanyalah, lucu saja, kupikir, betapa tidak, kita tak saling mengenal, bahkan, aku benar-benar lupa bagaimana Ia bisa satu kontak denganku di aplikasi chat tersebut, namun beraninya Ia memberiku perhatian seusai do’a-do’a yang telah Ia panjatkan pada Almarhum kerabat ayahku. Yang lebih lucu, Ia menamai dirinya “Mr. Kopet”, Mister Kopet? Perpaduan kata yang menarik, bukan?
Berawal dari status BBM, beberapa hari kami melanjutkan percakapan ringan dan mainstream, entahlah, bagaimana aku bisa merasa nyaman dengan cara pendekatan seperti itu. Ya, aku nyaman, karena aku tidak pernah terus menerus chatting dengan seseorang pabila aku tak merasa nyaman. Kini rasanya ingin sekali aku pergi ke masa lalu, dan menertawakan diriku sendiri, tapi memang itu yang aku rasakan saat ini.
Hari terus berganti, tak seperti yang kupikirkan sebelumnya, kukira obrolan kami di chatting tak ‘kan terputus, ternyata kamu menghilang, tak ada lagi selamat pagi, selamat malam, sudah makan? Dan beberapa pertanyaan mainstream lainnya, tapi jujur, saat itu, aku butuh lagi pertanyaan mainstream dari seorang Mister Kopet, tapi apa daya, aku bukan seorang perempuan yang harus memulai lebih dulu, meskipun untuk membuka sebuah percakapan. Beberapa bulan berlalu.
Sampai datang suatu hari, seorang teman datang meminta bantuanku untuk menghapus luka karibnya, tak kutahui siapa karibnya itu, tapi aku masih memikirkan harga diriku, kupikir ‘tuk apa kudatang hanya untuk menghapus luka seorang lelaki.
Hidup memang penuh kejutan, ternyata karib seorang teman adalah Mister Kopet, tanpa sepengetahuan seorang teman, aku dan Mister Kopet sebelumnya sudah lama mengenal. Seorang teman tertawa mengetahui kenyataan. Dari sana, aku dan Mister Kopet kembali menjalin pertemanan di dunia chatting, sampai pada satu hari Sabtu, Mister Kopet berkata, Ia akan kerumahku. Baiklah, kupikir, kenapa tidak? Hanya seorang karib chatting yang ingin berkunjung ke karib chatting-nya. Meskipun karib chatting, entah kenapa aku gugup, Ia bilang, Ia datang ba’da Magrib, baiklah, saat mentari pulang, aku segera mandi dan merias wajah, aku masih gugup.
Aku menunggunya cukup lama, padahal, Ia bilang, berangkat di empat puluh lima menit yang lalu, sesekali aku berpaling dari arlojiku dan memandang bintang, dan pohon-pohon depan rumahku. Oh ya, depan, dan samping kanan-kiri rumahku adalah lahan kosong, entah beberapa puluh meter rumah tetanggaku berada, selain di belakang rumahku. Ah, lima puluh menit, lima puluh lima menit, enam puluh menit. Baiklah Ia datang tepat di enam puluh menit, Ia datang dengan seorang teman, entah apa yang lucu, kami tertawa, tapi aku masih canggung. Ia datang mengenakan Jaket Baseball hitam dan celana jeans pendek, sangat matching pada zamannya. Dia tampan, senyumnya bagus, pabila Ia senyum, giginya rapih dan putih, rambut sedikit ikal, dan tinggi badan kira-kira seratus tujuh puluh sentimeter, sedikit lebih tinggi dariku.
Tak lama, kupersilahkan mereka masuk, kami di ruang tamu pada saat itu, lalu aku pamit sebentar untuk membuatkan teh manis hangat. Malam itu, kami banyak berbincang segala hal, aku suka, tidak, maksudnya, aku nyaman berbincang dengan mereka. Terutama Mister Kopet, menurutku, Ia lebih tidak mainstream pabila di dunia nyata, maksudnya, obrolannya tidak semainstream di dunia chatting, yang hanya ; “De, lagi ngapain, udah makan belum” Kau tahu, seberapa basinya cara pendekatan seperti itu, entahlah, aku memang sudah berpikir bahwa itu adalah sebuah pendekatan.
Beberapa jam berlalu, Ia meminta seorang teman untuk meninggalan kami, karena ada hal yang akan Ia bicarakan empat mata denganku. Singkat, seorang teman keluar bersama adik kecilku. Aku hampir lupa, selama kita berbincang tadi, seorang teman banyak bergurau dengan adik kecilku, dengan gaya bicara seperti anak kecil, seorang teman seperti kembali ke usia empat tahun.
Baiklah, kembali pada kami, setelah seorang teman dan adikku keluar, Ia mulai membuka pembicaraan, dan mulai mengutarakan isi hatinya, kaget bukan main! Ini adalah alur yang sangat cepat! Tapi, memang beginilah adanya, Mister Kopet memintaku untuk jadi kekasihnya, entah mengapa, mungkin karena jiwaku yang memandang bahwa cinta adalah permainan, bukan untuk konsumsi hati, aku mengiyakan. Sembilan Juni dua ribu dua belas, kami mulai merajut kasih, ada binar bahagia di sorot matanya yang sipit, kupandang wajahnya meranum dibawah remang lampu tidur yang terletak diruang tamu rumahku. Aku masih canggung, kami berdua canggung, untunglah, ada handphone-ku yang memecah kecanggungan kami, segera kuputar lagu A Thousand Years milik Christina Perry, agar suasana bahagia memenuhi seisi ruangan.
Beberapa menit kemudian, seorang teman dan adikku kembali datang, seorang teman tersenyum masam dan meledek kami, meminta pajak jadian, entahlan generasi sembilan puluhan kalau mau menjalin kasih memang harus bayar pajak kepada temannya berupa traktiran.
Kami bertiga kembali berbincang, adikku sudah masuk kamar, ngantuk, katanya. Sesekali perbincangan jadi berbeda, aku dan Mister Kopet yang saat itu jadi kekasihku, sesekali berjumpa mata, lalu tersenyum dan canggung. Celaka! Aku ta pernah merasa secanggung ini dalam sebuah permainan, bagaimana tidak, ada seseorang yang baru kukenal, pada pertemuan pertama sudah mengajakku bermain dengan hati, sudahlah, terima saja, mungkin satu atau dua minggu lagi, jalinan kasih kami juga berakhir. Itulah yang saat itu kupikirkan.
Kubiarkan malam itu seperti air yang mengalir, hatiku yang bahagia, dan pikiranku yang seburuk itu. Biarkan saja. Sampai larut malam kami banyak perbincangan, tak terasa pikiran burukku mulai memudar, yang ada hanya bahagia yang memenuhi ruang hatiku, aku sesak oleh bahagia, bak paru-paru yang mengembung terisi udara segar, seperti itulah bahagiaku.
Jarum jam benar-benar tidak terasa sudah menunjukkan tengah malam, aku tak merasa bosan, pun tak mengantuk, hanya merasakan aku lebih mengenal kekasih baruku, Jangan berprasangka buruk, dia bertamu sampai tengah malam, wajar saja, orang jatuh cinta lupa memandang waktu, lagipula, aku tak punya tetangga. Kemudian, aku memintanya untuk pulang, untungnya ayahku sudah tidur, hanya ada ibuku yang sama cerewetnya. Baiklah, mereka pamit untuk pulang, lalu yang tersisa disini adalah bahagia. Ah, sungguh bahagianya aku, pernahkah kau merasakan kebahagiaan seperti ini?
Mereka pulang dan berlalu meninggalkan jejak-jejak kebahagiaan, kupikir ini akan menjadi suatu bahan materi ‘tuk para penghuni alam mimpiku, terima kasih Mister Kopet, sejak saat itu, alam mimpiku selalu bahagia, pun alam nyataku, “MIster Kopet, aku mencintaimu.”