Jajanan ini terbuat dari singkong yang dihaluskan. Dikukus dalam batang bambu sekitar 10cm dengan diameter 2-3cm. Di tengahnya diberi potongan gula merah yang melumer saat dikukus...hhmmm... Saat penyajian ditambah dengan parutan kelapa. Yang menjadi ciri khas dari jajanan ini selain cara masaknya, juga bunyinya. Dari kejauhan suara nyaring seperti siulan pasti orang sudah mengenali... Mendengar suara khasnya, seperti kembali ke masa kecil. Makanan favorit...tapi kini sudah jarang orang yang berjualan atau membeli si puthu. Pak Sarni, pria paruh baya ini berjualan puthu sudah 26 tahun. Dan masih setia dengan profesinya ini. Pak Sarni tinggal di rumah kost sekitar terminal Purabaya, Bungurasih. Setiap bulan pak Sarni pulang ke desa asalnya, Solo. "Teng nggriyo kulo nggeh tani mbak" (Di rumah saya juga bertani mbak), katanya sambil membolak balik batang bambu. Hasil tani berupa umbi umbian seperti ketela, ubi, dan beberapa tanaman lainnya digunakan untuk konsumsi sehari-hari. "Nggeh mboten kulo sade mbak. Damel piyambak mawon" (Ya yidak saya jual mbak. Untuk dimakan sendiri saja). Dijual dengan harga Rp 500 per buah, sebenarnya tak sebanding dengan dengan perjuanganbpak Sarni yang menjajakan dengan berjalan kaki dan mendorong gerobaknya. Melihat olahan bahan dan uang di laci penyimpanan, belum banyak yang didapat sore ini. Semoga penjualan pak Sarni hari ini laris. Mungkin dibluar sana masih banyak yang punya kenangan dengan jajanan bersiul ini.