Keseimbangan Antara Dunia dan Akhirat
Jika kita mengingat kembali, waktu kita lahir ke dunia ini, kita masih belum bisa berjalan. Pada saat kita belajar berjalan, seringkali kita mengalami jatuh bangun ketika posisi kita belum benar-benar seimbang. Ilustrasi tersebut mungkin bisa menggambarkan kehidupan. Dalam hidup juga dibutuhkan keseimbangan, terutama keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Jika dalam proses menjalani aktivitas-aktivitas kita di dunia tidak diiringi dengan usaha untuk menyeimbangkan waktu dengan urusan akhirat, maka suatu saat kita pun akan terjatuh.
Dalam sebuah ungkapan dikatakan bahwa dunia adalah ladang akhirat (ad-dunya mazra’at al-akhirah). Maksudnya adalah bagaimana kita harus bersikap terhadap dunia untuk menjadikannya sebagai ladang untuk menanam berbagai amal baik yang kelak akan dipanen di akhirat. Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al-Zalzalah 7-8).
Islam menganjurkan keseimbangan dalam menyikapi kehidupan dunia dan akhirat. Tidak berlebihan pada dunia, sebaliknya juga tidak berlebihan pada akhirat. Dalam surat Al-Qashash ayat 77 Allah SWT. berfirman, “Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa akhirat memang telah disediakan sebagai tempat kembali, namun dunia juga tidak boleh kita abaikan. Kita berhak mempunyai impian setinggi langit dan berusaha keras menggapainya, tetapi jangan lupa bahwa suatu saat kita akan dimintai pertanggungjawaban. Dengan begitu, sebagaimana akhirat harus dipersiapkan, dunia juga harus dijadikan tempat mempersiapkan hidup di akhirat kelak.
Bulan Ramadhan ini adalah waktu yang tepat untuk kita mengintrospeksi diri. Mari kita renungkan sudahkah seimbang dunia dan akhirat kita? Apakah ketika adzan berkumandang, kita masih tenggelam dalam kesibukan-kesibukan dunia, atau sebaliknya? Jangan sampai kita terlalu semangat mengejar cita-cita kita di dunia, tetapi lupa untuk mempersiapkan diri menghadap sang Ilahi. Berambisi pada dunia boleh, tetapi harus tau batasannya.
-Bellinda Cindy Audry (Accounting & Tax Proxsis and Synergy Group)
13 Ramadhan 1442H // 25 April 2021









