Analogi Gelas Aqua
Rejeki kita itu seperti gelas Aqua. Tak akan bisa lebih dan tak akan bisa kurang, sudah pas sesuai takaran.
Mau diusahakan segiat apapun, rejeki kita tetaplah seperti gelas Aqua. Kecenderungan manusia ingin rejeki berlebih, namun kita kadang lupa bahwa kapasitas kita tak akan mampu menampungnya. Meluber dan kemudian tumpah tak terkendali.
Berusaha melalui jalan yang tidak halal misal. Hanya sementara kita akan menikmatinya, dan selebihnya akan dikembalikan rejeki tersebut kepada yang berhak.
Mau korupsi sepuluh miliar pun, atau dua puluh miliar juga akan percuma, karena itu memang bukan rejeki kita.
Masih ada mereka yang baik, yang terus memperjuangkan kebaikan. Masih ada orang-orang baik di pemerintahan yang terus menjaga amanah mereka untuk rakyat.
Tak akan lama, orang-orang yang curang mengatasnamakan rakyat dan menindas. Meskipun tidak tertangkap, saya yakin kehidupan mereka tidak akan menemui rasa aman dan nyaman.
Mungkin saja rejeki tidak halal tersebut malah menjadi ujian tersendiri bagi mereka. Keluarga yang tidak utuh, istri yang nusyuz, atau perkara lain yang diakibatkan oleh mengalirknya darah yang tidak barokah. Naudzubillahimindzalik.
Memang ada, rejeki yang tidak diberikan kepada kita karena memang kita tidak akan sanggup menerimanya.
Cacing tanah tidak membutuhkan mata dan telinga untuk hidup. Apabila mereka memilikinya, mungkin saja malah akan menjadi beban disetiap detiknya.
Jadi cobalah untuk kita menjadi pribadi muslim yang selalu bersyukur, atas nikmat dan ujian yang diberikan.
Karena gelas aqua kita, berbeda. Tapi tetap saja, itu gelas aqua. Tidak lebih dan tidak kurang.
Bogor, 25 Juni 2018 | A. Firmansyah














