Apakah yang ada di benak kalian ketika melihat orang tergulung badannya di pinggir jalan. Meringkuk kaku memegangi perutnya. Berwajah pucat pasi. Bibirnya kaku tak bergerak. Kedua ujung bibirnya tertarik meringis. Menandakan dia sedang kesakitan. Menahan deru dera perut yang menghujam. Seakan meninju dari segala arah. Sambil berteriak lantang. "Mana makanan! Mana makanan! Kami harus bekerja! Kami harus bekerja!" Ah... Membayangkannya saja aku sudah hampir kehabisan kata-kata. Simpelnya. Rasakan saja ketika kita berpuasa seharian. Tidak mungkin jika tidak lapar. Bagaimana rasanya? Sedikit menderita bukan? Lalu? Bagaimana dengan sosok yang meringkuk d pinggir jalan itu. Mereka lebih menderita dari puasa seharian. Satu kesimpulan sederhana. Mereka butuh diberi pertolongan berupa.. Makanan. Ah aku jadi malu. Sesosok manusia tersebut, sebelum aku pindah ke kosanku saat ini, sering aku lihat di pinggiran jalan dekat perempatan Carrefour Soekarno Hatta. Ah sungguh aku merasa tertampar. Ingin menampik dengan alasan kalau aku selalu melihatnya ketika malam tiba dan sulit jika ingin meminggirkan motorku dan membangunkannya memberikan sebungkus nasi. Sulit? Tidak ada yang sulit jika kau mau, Dayu! Baiklah menyesalinya memang terkesan tiada guna. Tapi dari sesal itulah timbul sebuah aksi untuk di kemudian hari lebih berani lagi dalam berbuat baik. Pertolongan dengan sebungkus nasi. Lantas, bagaimana aku bisa menyambungkannya dengan "Semua Manusia Butuh Pertolongan"? Ada sebuah penjelasan sedikit tentang adanya kehidupan saat ini. Ironis memang ketika aku membayangkan kembali bukan hanya aku saja yg melewati orang tersebut. Tapi, ratusan mobil lalu lalang tanpa henti di hadapannya. Puluhan mobil berhenti setiap sekian menit di hadapannya karena lampu merah. Tapi, (mungkin) tidak ada yang turun walau hanya sekedar menyuguhkan air mineral sebotol? Ah, krisis kemanusiaan. Aku sempat berpikir untuk menulis sebuah buku tentang manusia itu sendiri. Judulnya, "Hello Human!" Tapi entahlah aku hanya baru mengirim sinopsisnya saja. Hehe. Baik aku lanjutkan pertolongan apa untuk semua manusia. Moral, perilaku, kebiasaan, pekerjaan, harta, tahta, cinta. Ketika semuanya yang terjadi di dunia ini seakan tidak selaras. Maksudnya? Ada yang di satu sisi dia memang sesuai fitrah (baik). Namun di sisi lain dia minus (buruk). Contoh : berkedudukan tinggi di tempat kerjanya, namun keluarganya terlantar tidak berpendidikan (bermoral). Anak-anaknya tidak diperhatikan tumbuh kembangnya. Menjadi sesosok penerus mungil yang dididik oleh baby sitter. Begitu besar menjadi sosok yang membangkang, kemudian menyalahkan anak karena tidak menurut kepada orangtua. Semua impian anak ditolak, padahal boro-boro tahu bakat anak. Tetiba langsung menolak impian. Bertengkar.. Stress.. Depresi... Kabur dari rumah. Eh contohnya kepanjangan.. Lalu pertolongan apa? Ya, dari contoh tersebut bukankah tidak seimbang antara karir dan keluarga? Abu Bakar ash-Shiddiq adalah seorang khalifah setelah Rasulullaah shallaahu'alayhi wasallam wafat. Dia adalah seorang ayah dengan akhlaq yang baik, seorang pemimpin ummat, seorang suami, seorang pedagang masyhur. Tapi, semuanya seimbang. Mendidik anak-anak menjadi sosok yang shalehah, mengatur nafkah rumah tangga, mengatur kepempimpinan Islam kala itu, berdagang hingga keluar negeri dengan suksesnya. Ada apa? Ada apa rahasinya? Selain itu dia tidak pernah lupa bersedekah, menolong yang tidak mampu. Seimbang begitu. Apa resepnya? Lebih dari sekedar pendidikan moral, pendidikan parenting, pendidikan berkarir. Iman... Iman... Hanya itu kuncinya. Iman adalah landasan setiap perbuatan kita. Iman adalah sebuah arahan, seperti sebuah petunjuk. Iman adalah sesuatu yang mendasar, yang menjadikan setiap insan memiliki kacamata memandang hidup. Kacamata kuda. Iman menjadikan setiap insan memiliki makna hidup yang berarti bukan hanya untuk hidup di dunia, namun untuk hidup di kekekalan nanti.. Iman seperti remote kontrol. Yang memberikan arahan ketika melenceng. Dengan iman manusia lebih berarti. Segala urusan hidup entah itu moral, akhlaq, pendidikan, karir, keuangan, keluarga bahkan cinta semakin terarah, berarti dan bermakna. Iman... Menghujam hingga ke relung jiwa. Layaknya akar sebuah pohon yang menghujam hingga ke dasar tanah. Ya. Pertolongan itu bermana... Iman. Aqidah kita. Aqidah yang lurus hanya kepada Allah. Dzat Yang Maha Agung.. Yang Maha Besar. Yang Maha Kuasa. Yang Maha Pengasih. Yang Maha Penyayang.. Allahu..