Julid tulisan antara Rony yang jadi perpanjangan tangan lembaga (?) dan Rizal yang mewakili suara mahasiswa, Persma lebih tepatnya, menjadi ghibah yang menarik dalam lingkup pertemananku dalam beberapa hari terakhir. Tentunya karena Rony juga teman kita, bahkan pernah satu kolektif denganku.
Saya menikmati tulisan panjang dari Rizal. Mudah dan renyah. Terasa, dalam emosi yang terkontrol, dia menarik benang merah yang sering kita gundahkan sebagai mahasiswa, terutama yang tergerakkan oleh #ReformasiDikorupsi bulan September lalu. Semangat pergerakan zaman yang dihantam dengan sentimen-sentimen generasi serta suara-suara kelompok subultern yang dibungkam oleh mereka yang disebut penguasa, terwakili dalam tulisannya berjudul Rektorat UNY Bau Orde Baru.
Di sisi lain, Rony, seperti biasa, menggunakan diksi-diksi yang jarang dipakai, yang saya harus mengulang kalimat untuk bisa memahaminya, atau bahkan saya harus meminta bantuan mesin pencari daring untuk mengetahui arti dari diksi langka tersebut. Sejujurnya saya suka proses ini, kita dipaksa mengetahui diksi yang tidak (belum) diketahui sebelumnya. Tapi tentunya jadi perlu tenaga ekstra untuk memahami tulisannya.
Dalam tulisan berjudul Perspektif Hiperbolis bla bla bla, Menguji Argumentasi bla bla bla tersebut saya seperti melihat Rony dalam perwujudan yang lebih ganas, cenderung kasar. Bagaimana dia menguliti tulisan Rizal dalam tataran teknisnya, namun mengaburkan isu yang diangkat dari tulisan dengan menghakimi cara analisis dan tulis dari lawan julidnya tersebut. Di akhir tulisan pun Rony menjawab epilog dari Rizal dengan tabu.
Alih-alih menuduh Rizal hiperbolis, tulisan dan argumentasi Rony cenderung menjadi simplifikasi dari isu dan wacana yang diangkat. Pembeberan atau studi kasus dari Rizal hanya “sekadar menjadi ‘anak paragraf’ pendukung ide pokok” bagi Rony. Term ‘generalisasi banal’ digunakan layaknya label kafir atas pertautan sifat yang saya sepakati dari Rizal.
Saya paham posisi dan keberpihakan Rony. Tapi saya amat sangat menyayangkan tulisan jawaban yang mengabaikan substansinya ini.
—Tapi apalah saya dengan “tulisan serampangan” ini. Cuma numpang pansos, ikut campur urusan yang nggak ada kaitannya secara personal. 😢
Tulisan ini dibuat sebelum tulisan balasan lain dirilis, baru Rizal-Rony saja.
Dan akhirnya diposting setelah hari ini (21/1), Rony menyatakan mengundurkan diri dari Pendulum. Bukan apa-apa, biar jadi penanda.