Aku adalah gadis kecil kemarin. Si pemimpi lagi si pengkhayal. Mimpiku adalah melihat senyumku sendiri dan khayalku ialah dapat memetik salah satu bintang di langit agar aku dapat melihat senyumku di balik cahaya bintang itu. Maka dari itu, aku harus dapat menemukan tangga yang bisa menghubungkanku ke langit.
Setelah menelurusi jalan yang panjang dan waktu yang lama, akhirnya aku sampai di gerbang impian. Akankah mimpi dan khayalku terwujud?
Seketika gerbang itu terbuka perlahan. Aku takjub dibuatnya. Pandangan mata ini cerah berbinar. Indah. Mempesona. Ku sapu semua pemandangan di dalamnya, namun aku tak dapat menemukan tangga untuk dapat memetik salah satu bintang itu.
Pandanganku pun kosong. Aku jatuh tersungkur. Hilang. Sirna. Semua asa seperti tak berarti apa-apa.
Aku terpuruk dalam kesunyian. Mengumpat masa. Membenci cahaya. Khayalku sirna. Rasanya aku hancur. Aku sudah jauh melangkah, tapi apa hasilnya? Kesia-sian!
Aku tersedu menangis. Menangisi semua kenyataan yang ada. Tapi aku masih memiliki satu hal lainnya. Yaa aku masih memegang mimpi. Akankah kuleyapkan saja mimpi itu? Dimana dan kapan mimpiku akan terwujud? Aku ingin mimpiku terwujud dalam khayalku.
Aku pun larut dalam isak tangis. Semua ini sungguh memilukan.
Tiba-tiba, seseorang datang ke arahku. Tangisku pun terhenti. Tanpa kata, ia memberikanku sebatang lilin. Wajahnya tersenyum ke arahku dan sorot matanya memintaku untuk tidak menolak lilin itu. Setelah ku terima lilin itu, dia pun pergi tanpa kata. Menghilang.
Kuseka air mataku. Aku termenung. Apa yang harus aku lakukan dengan lilin ini???
Akhirnya aku memutuskan meneruskan perjalanan. Entah sampai kapan perjalanan ini berakhir. Aku tak tau dimana ujungnya. Aku tak tau siapa yang harus aku temui. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan lagi selain terus berjalan.
Ketika dipersimpangan jalan, aku bertemu seorang gadis kecil. Ia menangis dipinggir jalan. Aku pun menghampirinya. Aku bertanya kepadanya apa yang membuatnya menangis. Ia menjawab bahwa ia kehilangan lampu yang baru saja ia beli dengan uang keringatnya sendiri. Aku terdiam sejenak seraya bertanya dalam hati “untuk apa lampu itu?”
Dia menuturkan bahwa lampu itu untuk ia gunakan menerangi ruang belajarnya dikala malam. Ia akan menghabiskan malam untuk belajar dan membuat orangtuanya bangga. Aku pun terenyuh.
Seketika aku teringat dengan lilin itu, dan kuberikan lilin itu kepadanya. Dia pun menerimanya seraya berkata, “Dengan lilin ini aku akan dapat membuat orang tuaku bangga. Mimpiku seperti sudah dekat.” Dia menyeringai lalu memandangiku sambil melontarkankan senyuman. Seketika aku pun tersenyum.
Etss… sebentar? Aku berkata apa tadi? Aku tersenyum?
Hey.. kini aku dapat melihat senyumku dari pantulan senyumnya. Senyumnya yang tergurat dari wajahnya, menular kepadaku dan aku pun ikut tersenyum. Kini aku dapat melihat senyumku walau tanpa dibawah cahaya bintang. Mimpiku terwujud walau tidak sesuai khayalku. Kini aku menyadari bahwa mimpi itu dekat dan khayalanku yang membuatnya seperti jauh. Aku terlalu sibuk dengan khayalanku yang menuntutku untuk memikirkan diri sendiri. Berkemauan dan bertindak hanya untuk kepentingan diri sendiri. Aku egois dalam bermimpi, dan khayalku membenarkan keegoisanku.
Teman-teman! Kita sering kali tertipu dan tidak dapat membedakan mana mimpi dan mana khayalan. Sering kali sesuatu yang kita mau adalah yang membuat kita tersiksa tanpa kita menyadari bahwa bekal “usaha” saja tidak cukup untuk mewujudkan mimpi dan khayalan kita. Terkadang, kita ingin menjadi orang besar, hebat, terpandang dan bergelimpah penuh pujian. Tapi kita lupa bahwa semua keinginan itu hanya khayalan. Dunia ini hanya khayalan. Khayalan hanyalah fatamorgana yang menipu. Sampai manapun, khayalan tidak akan memberikanmu kebahagiaan sejati, kebahagiaan yang utuh bahkan malah bisa menghancurkan dirimu. Khayalan dapat membuatmu lupa akan dirimu sendiri.
Kita harus memahami bahwa fitrahnya manusia itu pemimpi. Pencari. Pengembara. Mencari hakikat kebenaran. Berambisi menemukan kepastian. Dan itu terangkum dalam mimpi bukan khayalan. Mimpi berbeda dengan khayalan. Mimpi dapat membangun diri kita menjadi pribadi yang layak mendapatkan mimpi itu. Mimpi menuntun kita menjadi manusia yang memiliki arah dan tujuan hidup. Mimpi memberikan puzzle-puzzle keajaiban yang tidak pernah kita sadari. Mimpi menyadarkan kita betapa berharganya hal yang sederhana. Mimpi membenarkan bahwa tidak ada hal sia-sia yang Tuhan ciptakan. Sedangkan khayalan hanyalah tipuan. Dan dalam khayalan, kita tak akan menemukan kebenaran.
Maka mulai hari ini, bagi mereka yang belum mempunyai mimpi, bermimpilah! Hilangkan banyak berkhayal! Mimpi itu amat dekat! Bermimpilah setinggi langit atau bahkan sesederhana memunculkan senyuman di wajah orang lain, itu lebih baik dari pada tidak memiliki mimpi sama sekali. Buatlah hidup yang singkat ini benar-benar memiliki arti khususnya untukmu, keluarga dan orang yang tercinta!