Malam ini dingin
Sedingin hatiku yang menahan rindu
Tapi ruang rindu itu tak lagi menjadi milikku
Maka aku hanya bisa diam menganyam perasaan yang semakin sulit terurai
seen from United States

seen from Norway

seen from United States

seen from United States

seen from T1

seen from United States

seen from Türkiye
seen from China
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Netherlands

seen from Malaysia
seen from China

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Yemen
seen from Brazil
seen from United States
Malam ini dingin
Sedingin hatiku yang menahan rindu
Tapi ruang rindu itu tak lagi menjadi milikku
Maka aku hanya bisa diam menganyam perasaan yang semakin sulit terurai
Another Level of Perang Batin
Hi!
Malem ini, sebelum tidur, aku scroll tiktok dan nemu satu kalimat yang cukup deep buat aku. Konon,
“Menahan diri untuk tidak menghubungi seseorang yang sebenarnya sangat ingin kamu hubungi adalah level tertinggi 'wakafa billahi syahida'”. -Ustaz Hanan Attaki
Menarique untuk dibahas. Kadang tuh ya, hidup suka ngasih kita challenge yang absurd banget: nahan diri buat nggak ngehubungin orang yang sebenernya kita pengen banget ajak ngobrol. Rasanya kayak ada perang batin di kepala. Jari udah mau ngetik “Assalamu’alaikum”, “Hai”, ... tapi hati dan otak tetiba nge-rem, “Eh, no, hold on, this ain’t it.” T_T
Ini tuh nggak cuma soal rindu atau kangen biasa, tapi lebih ke pelajaran hidup tentang letting go dan trusting the process.
Sulit? Ya jelas, bangettt malah. Tapi di balik itu semua, ada satu hal yang diam-diam kita dapetin: kekuatan buat mencintai diri sendiri.
Proses ini ngajarin kita buat percaya, kalau rindu yang nggak terucap, doa yang cuma Allah dengar, itu cukup. Dan yang paling penting, kita jadi sadar kalau nggak semua pintu perlu kita ketuk. Kadang, dengan nggak ngetuk, kita justru nemuin pintu lain yang lebih pas buat kita. 😎
Jadi, buat kamu (dan khususnya aku, lol) yang lagi berusaha nahan diri ini, inget aja: nahan rindu itu bentuk lain dari self-love. Kita nggak kehilangan apa-apa kok, malah lagi membangun sesuatu yang lebih berharga—diri kita sendiri. 🤗
Merajut rindu dalam kabut kehidupan. Iya, kau yang dalam rindu.
aku harap Tuhan tidak mulai lelah mendengar namamu dalam barisan doaku :))
Ada Rindu dalam “Diam”
Jika matahari mulai malas terbuka,pasti bulan tak kan lagi terlelap,bukan karena ia ingin menggantikan matahari tetapi karena mereka selalu berdampingan dan saling membutuhkan.Mereka saling terdiam tak banyak bicara, tapi mereka saling mengerti satu sama lainnya, tak seperti kita,coba lihat diri kita sekarang seperti apa? Ya,, kita. Kita yang terlalu naif tak berusaha saling sapa.
Andai saja diam ku dapat kau mengerti mungkin kau dengan sigap akan bertanya dan aku, akan sangat merasa menang dari mu.Tapi kau tak melakukan ituu.Akupun sama, jika aku tau maksud diam mu itu mungkin tak begini jadinya, Riuh jalanan tak kan terdengar lagi karena kita akan bercengkerama dengan bahasa lucu kita seperti dahulu kala.Saat ini tak seperti itu, keras nya suara klakson saja tak mampu memecah hening kita berdua, lalu untuk apa kita bersua???
Aku ingin sekali kau tau jika dalam diam ku ini ada Rindu, harga mati sebuah rasa yang harus kau bayar mahal, dan sangat mahal karena beberapa waktu ini kau selelu terdiam.Tidak kah kau tau jika banyak hal ingin kutanyakan,tidak kah kau tau jika aku tak mampu lagi menelan ludah ku karena kesal ku telah memenuhi ruang tenggorokan ini.Kapan kau bisa mengerti raut muka ku, wajah berlipat yang hanya ingin sekedar kau sapa “ Kau ini kenapa” jika itu kau ucap mungkin semua akan berbeda, aku akan menangis dan berani keluar dalam Diam senyap ini.Bahkan mungkin aku akan rela meminta maaf terlebih dahulu.Tapi sayang nya kau tak melakukan itu.Kan hanya diam.Dan dalam Diam ku ini ada Rindu yang kau tak tau.