Sesungguhnya Engkau tahu, bahwa hati ini telah berpadu, berhimpun dalam naungan cintaMu~
kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cinta nya, tunjukkilah jalan-jalannya. Terangilah dengan cahayaMu yang tiada pernah padam...
seen from United States
seen from United States

seen from Sweden

seen from Macao SAR China
seen from Sweden

seen from Canada
seen from Sweden

seen from United States

seen from Canada
seen from United States

seen from United States

seen from Canada
seen from Canada

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Vietnam
seen from United States
seen from Russia
seen from United States

seen from United States
Sesungguhnya Engkau tahu, bahwa hati ini telah berpadu, berhimpun dalam naungan cintaMu~
kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cinta nya, tunjukkilah jalan-jalannya. Terangilah dengan cahayaMu yang tiada pernah padam...
Hati yang Bergetar
Disudut ruang yang tak asing itu, aku duduk menunggu para bidadari penimba ilmu selesai kelas. Ruang yang terletak satu pintu dengan dua 'keluarga' lain. Dengan ukuran ruang yang sama, ruangan ini mendapat nilai plus karena jendela hanya terdapat diruangan ini. Semilir angin, atau pemandangan luar bisa dirasa dan dilihat dari jendela.
Tak banyak yang berubah, hanya barang-barang yang semakin banyak memenuhi tiap sudut ruangan. Sedikit beranntakan, maklum saja, penghuninya yang begitu kreatif, kadang lupa atau begitu sayang untuk membuang hasil karyanya sendiri. Satu kebiasaan yang selalu ku lakukan ketika memasuki ruangan itu, adalah tersenyum senang -terlebih ini sudah lama sekali aku tak kemari-, seperti benar-benar pulang ke rumah. Perasaan riindu pangkuan ibu dan berkumpul dengan keluarga.
Ku pandangi tiap sudutnya, lalu terputar kembali kenangan manis masa lampau. Dulu, ini adalah persinggahan semua kalangan. Meskipun fungsi aslinya bukan untuk itu, tapi sungguh bermanfaat sekali, tidak hanya untuk pemiliknya, tapi juga masyarakat sekitarnya.
Belum selesai bernostalgia, yang ditunggu akhirya datang. Satu per satu bidadari itu berkumpul, membuat lingakaran mini. Iya mini, jumlahnya hanya 4 orang, sudah termasuk diri ku. Tak apalah, ucap ku dalam hati. Toh dulu awal Rasul berdakwah pengikutnya tidak serentak langsung banyak. Nikmati saja, kualitas dan kuantitas memang tetap yang harus dikejar. Tapi itu butuh proses.
Lalu dimulailah ritual rutin kami. Sedikit ku gambarkan kondisinya, dua dari mereka ini baru kali ini bisa hadir dalam lingkaran, entah mungkin memang Allah menakdirkannya begitu, yang jelas pasti ada hikmah dibalik itu semua. Kegiatan berjalan dengan baik, meskipun yang sebenarnya ingin ku sampaikan tak tersampaikan karena kendala waktu dan hal prioritas yang ingin ditentukan saat itu juga.
Manis-manis sekali bidadari ini, ingin rasanya membuat kemanisan mereka ini menjadi lebih berwarna. Menegaskan fungsi mereka sebagai bidadari sesungguhnya. Semoga bisa. Percakapan kami mengalir seperti sudah biasa berbincang banyak sebelumnya. Dan dari percakapan itu, hasilnya bisa langsung terlihat. Apa yang pekan depan harus ku sampaikan sudah terpatri langsung diotak ku.
Dipenghujung pertemuan, kami saling berpegangan tangan seraya melantunkan do'a robithoh. Do'a paling menggetarkan hati karena artinya yang begitu mendalam dan syarat akan makna tentang mempersatukan hati untuk berjuang dijalan Nya. Ketika itu, aku yang memimpin do'a, dan kebiasaan ku ketika melantunkan do'a itu adalah dengan memejamkan mata sembari membayangkan wajah-wajah orang-orang tercinta, berharap semakin didekatkan hatinya satu sama lain dijalan Nya. Selesai diakhir do'a, kulihat dari ujung sudut mata ku, setetes air menetes dipakaian salah satu bidadari itu. Ku kira karena kepanasan atau air wudhu yang masih menempel diwajah. Namun ternyata itu adalah air mata. Sontak aku kaget, apa bidadari ini begitu bahagianya melihat kawan-kawannya akhirnya hadir, ataukah ada hal lain? Urung ku tanyai langsung.
Setelah mengantarkan dua bidadari pergi, sebelum memulai sholat dzuhur, langsung ku tanyakan padanya.
"Kenapa tadi nangis uni?" tanya ku "enggak mba, cuma inget orang-orang aja." jawabnya sambil terseyum sumringah
Aku terdiam sejenak, lalu tersenyum sambil kutepuk pelan pundaknya. Seolah-olah ingin memberikan kekuatan, memberitahukan bahwa aku tahu apa yang ia rasakan. Kesabaran itu membuahkan hasil. Setidaknya satu do'a kami telah Allah kabulkan. Sekali lagi, aku tambah percaya, bahwa kekuatan do'a itu menggetarkan hati, hati yang senantiasa memuji Mu dan bersyukur akan nikmat, segala nikmat.
"Maka, nikmat Tuhan mu yang manakah yang engkau dustakan?"
Selepas sholat, aku jadi teringat pertama kali aku bisa memaknai do'a itu. Menggetarkan hati, mengingat betapa sulitnya menjaga iman, menjadikan takwa sebagai pakaian sehari-hari, menghadirkan taat sebagai kebutuhan hidup. Indah sekali do'a itu.
Pagi dan petang kami lantunkan dzikir dengan diakhiri do'a robithoh, berharap keberkahan hidup senantiasa Allah hadirkan. sekailgus berharap bersatunya hati-hati kami menuju rumah terindah di Jannah. Semoga.
-DM-
Dan masa pun silih berganti. Ukhuwah dan amanah tertunaikan. Berpeluh suka dan duka kita jalani semua. Semata-mata harapkan ridho-Nya. Sahabat... Tibalah masanya. Bersua pasti ada berpisah. Bila nanti kita jauh berpisah, Jadikan Robithoh pengikatnya, Jadikan do'a ekspresi rindu. Semoga kita bersua di Surga
Lirik suatu lagu
Ku sebut namamu dalam doa Robithohku.
adakah hal yang lebih romantis daripada menyebut namanya pada doa dan dalam diam? Indahnya ukhuwah. Jauh, terasa dekat dalam doa.