Tulisan : Curhatku pada-Nya
Sekali lagi langit Purwokerto mendung, awan tampak bergumul, petir kecil mulai terdengar sekali dua kali, tetes hujan mulai berjatuhan, awalnya kecil, hingga semakin lama semakin membesar. Suara denting jam dinding tak lagi terdengar, berganti dengan rinai hujan yang terdengar menghentak tanah, dedaunan dan benda apa saja yang mereka lewati. Rencana sore ini sepertinya akan batal, sekali lagi aku menggagalkan jadwal yang sudah aku susun sepenuh hati. Bukan karena hujan, aku bisa saja menerobos kerumunan hujan ini. Namun perasaan yang tak ku tahu apa berkecamuk hebat, membuat diri ini lemah tak bergairah.
Beberapa jam sebelumnya aku masih terlihat produktif, beberapa ketikan tangan tampak mulai mengisi bab terkhir skripsiku, memperbaiki beberapa hal yang kurang. Sayang, itu tak bertahan lama, aku jenuh, kucoba kualihkan rasa jenuhku dengan bermain game, tetapi tetap tak berhasil. Perasaan kosong, ia kerap kali menghantui beberapa minggu terakhir ini, aku tak tahu karena apa, yang pasti perasaan ini kurasakan sungguh berbahaya, aku bahkan sudah tak memiliki gairah terhadap sesuatu yang sangat kusenangi sekali-pun, ketika rasa ini tiba tiba muncul.
Aku menulis ini ketika perasaan kosong itu tengah bangkit, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk mengusirnya, biasanya aku akan menyerah, berakhir dengan bermalas malasan, memandang gadget sampai rasa itu hilang. Namun kali ini aku mencoba untuk menulis, aku berharap dengan menulis rasa itu akan segera pergi.
Langit diseberang jendela kamar, ia masih terlihat redup, sama sepertiku. Rintik hujan mulai tak terdengar, menyisakan tanah dan rumput yang basah, pun sama sepertiku. Aku pun tengah redup dan basah. Satu hal yang terus saja menjadi penghambat segala aktivitasku.
Purwokerto, 12 Januari 2016 | @adhityok_1