Tulisan : Ketika Bulan Bersedih
Tulisan ini bukanlah prosa maupun cerita fiktif pendek yang biasa kutulis. Kali ini bulan ingin mengeluarkan keluh kesah yang selama ini terus menghantui sampai detik ini.
~Singkat cerita akhirnya aku dipertemukan kembali dengan gadis yang berjalan di belakangku, ya langkah kami sudah semakin dekat untuk bersatu, namun...’
Disinilah awal cerita dimulai, yaitu benih keraguan yang masih bersemi. Maaf aku tak bisa berkata jujur kepada sang gadis dan memilih tulisan ini sebagai media penyaluran.
Mungkin akan kuceritakan terlebih dahulu awal mula kita bertemu.
Kami bertemu dalam keadaan yang tidak masuk akal (cerita detail tentang ini dimuat dalam tulisanku sebelumnya). Kami sempat menjalin hubungan selama sebulan, ya selama itu aku sempat bersamanya dan sedikit lebih mengenalnya, sampai saat dimana kami berpisah, dan itu bukan benar benar berpisah karena kami masih sering berkomunikasi, entahlah apa namanya.
Apa yang kuingat tentangnya selama sebulan ? ada beberapa hal seperti mudah sekali kesal, mungkin sensitif terhadap hal kecil, suka membanding bandingkan (nah tentang ini justru yang membuatku kesal :D), tidak berterus terang (sering aku dapati dia seperti ini), dan membagi hati. Apa maksudnya dengan membagi hati ? Ya, sementara dia denganku, diam diam ternyata gadis tersebut menaruh perasaan dengan pria lain. Aku kenal dengan pria tersebut, ya, adik kelasku. Sering kudapati si gadis menulis tentang pria tersebut di blog nya, berbalas chat di twitter (ini dia alasan kenapa sampai detik ini aku tak pernah follow twitter si gadis, karena pasti akan kudapati timeline nya penuh dengan chat yang tak ingin kulihat). Dan bahkan berbalas pesan di BBM. Ingin ku skip menulis tentang ini, karena benar benar sudah tak penting lagi sekarang. Dan harapku semoga dia tidaklah seperti dulu.
Lalu apa sebenarnya yang membuat sang bulan bersedih ?
Terlepas dari kenangan diatas, ada hal lain yang membuatku lebih khawatir. “Apakah si gadis sudah benar benar berubah ?” pertanyaan yang terus saja berputar putar di kepala. Dan kenapa pertanyaan ini terus muncul bukanlah karena kenangan lampau yang sudah basi, namun karena tindakan si gadis yang sering kali mencederai hati. Lemah sekali ~ but that’s I am, lemah terhadap perempuan, mungkin ini yang disebut kekurangan, sementara banyak lelaki diluar sana yang tangguh~dalam arti lain.
Pernahkah kau mendengar pernyataan ini “apa yang kau perbuat akan berbalik kepadamu”, mungkin orang lebih mudah menyebutnya karma. Itu bukanlah bualan, itu nyata. Seperti lingkaran sebat~akibat, dimana kau berbuat sesuatu akan ada hal lain yang menimpamu. Aku sudah tahu ini, sejak saat dimana aku berubah.
“Orang yang mudah dan sering pacaran, apa yang menjadikannya tetap bertahan denganmu ketika menikah, dia bisa saja cari yang lain” kata Ustadz. Penyataan ini juga mengandung unsur sebab~akibat.
Tapi untung saja aku memulai cerita dengannya bukan dengan pacaran, ya, kami telah berubah. Jadi untuk kasus ini tidak ada masalah.
Aku berubah, dia berubah, sebut saja kami berubah sejak kami berpisah. Namun ternyata tak mengubah semua hal, tidak semuanya, ya perilakunya masih kudapati sama, dan mungkinkah aku juga ?
Sejak hari kami berpisah bukanlah akhir, saling kontak masih sering kami lakukan, bahkan bertemu pun masih menjadi rutinitas kami~di kampus. Terkadang dia masih sempat meminta bantuan untuk menjemputnya, mengantarnya, yang otomatis kami akan satu motor berdua. Apa tanggapanku tentang itu ? Selayaknya pria normal, tentu aku senang luar biasa, dan bagaimana mungkin aku menolak permintaan dari orang yang masih kusayangi~inilah kelemahanku. Berkali kali aku mengantarnya sampai saat dimana aku mulai memberanikan diri mengatakan TIDAK, bukan tanpa sebab, hei~what the h*** is wrong with me, bukankah aku sudah berubah, sudah beberapa kali aku menolak mengantar wanita, bahkan temanku. Oke saatnya aku nyatakan tidak, bahkan untuknya, bukan karena apa, tapi demi kebaikannya sendiri. Karena aku yakin perbuatanku ini akan membawaku pada sesuatu yang tak kuinginkan.
Dan hal yang tak kuinginkan pun akhirnya tiba, tanpa dosa si gadis datang bersama pria lain tepat dihadapanku. Oh Tuhan, mungkin inilah karmaku yang lalu, maafkan aku.
Sebetulnya sudah kuberkali kali menceritakan mengapa aku tak berboncengan dengan wanita lain, dengan harap dia pun akan mendapatkan pemahaman itu~hidayah itu. Namun berkali kali aku harus menelan pil pahit karena terlalu berharap. Ya, harapan pada manusia itu palsu. Namun, kita tidak boleh berhenti berharap, karena manusia tanpa harapan hanyalah seonggok daging tanpa tujuan.
Berkali kali menelan pil pahit membuatku kehilangan arah, perasaan suka ini, rasa sakit ini, tak tahu bagaimana aku membedakannya.
Oke singkat cerita aku sudah melupakan kenangan itu, ya, manusia harus terus berjalan maju, itulah yang kupikirkan. Berbulan bulan membeku, akhirnya terpaksa kucairkan kembali dan mencoba cerita baru dengan si gadis. Ya, kami mencoba lembaran baru, namun~
Dibalik kisah manis entah kenapa selalu saja ada sad story behind it, ah mungkin namanya juga twist plot atau plot twist, yang dalam cerita memang sengaja dibuat agar lebih menarik pembaca.
“Hari itu pertama kalinya aku mendatangi kantornya dan saat dimana sad story mulai muncul :)”. Lihat gadis pujaanku disana, tepat di depan mataku kau melakukannya lagi, yah, ini kedua kalinya, entah dia tidak paham, belum paham, atau apa entah tak terbayangkan di benak :v. Berbicara dengan teman sekantor memang normal, ah tapi tidak normal bila bertingkah terlalu over, bertingkah manja, genit, berlari sambil bergelayut di pintu, dengan nada bicara yang ...ahhhhh... sudah membuatku kesal hanya dengan mengingatnya, terlebih membayangkan dia melakukan itu setiap hari ???? what am I suppose to do with that... and moreover, kantornya isinya pria semua, What the f***.... oh yeah inginku kasar, ............ kasar, oke done....
Memang hal terebut normal dilakukan dikalangan wanita yang pendidikan agamanya belum menyentuh ranah tersebut, dan bahkan belum tersentuh dengan hidayah. Tapi bukankah kamu tidak sama dengan mereka ? apa yang kuharapkan darimu bukanlah remah remah kecil seperti ini. Wait a moment, mungkinkah aku yang sebenarnya harus berbenah diri ? ya, kurasakan kadar imanku masih di bawah ambang batas. Aku harus bangkit, dan sebenarnya aku mewariskan harapan itu pada gadis yang kelak jadi istriku, aku ingin dia membuatku kembali bersinar~selayaknya bulan.
Sampai detik ini aku terus saja bertanya, “sudah sejauh mana kau berubah, gadisku ?” masih samakah engkau dengan yang dulu ? haruskah aku yang lebih bersabar terhadapmu ?
Pikiran ini sampai membuatku ingin putus kontak dengan si gadis, setidaknya itu akan menjauhkanku dari hal yang tak diinginkan, but that’s impossible, kontak memang harus dilakukan terutama ketika waktu H sudah semakin dekat. Lalu aku harus bagaimana ???? anyone could help me clear this mess ??
Godaan datang lagi, cobaan macam apa lagi ini ya Tuhan. Berduaan dengannya satu mobil saja sudah salah, kini aku terancam berduaan dalam satu motor. Tentu saja akal sehat menolak keras. Tapi bisikan setan tetaplah membisikan ungkapan nafsu dunia. Dan hei, kenapa pula dia menawari ku hal tersebut ? don’t she remember about the past ? cause I don’t like it, not only because it’s not right but also there is “KARMA”, and Im done enough with that thing.
Yah, jadi itulah kenapa sampai saat ini aku masih belum benar benar bisa percaya seutuhnya, cause she the one who made me like this with her act.
Inilah alasan Bulan bersedih.
@adhityok_1 I Purwokerto, 30 Oktober 2018