Pada akhirnya, kehidupan mengajarkan untuk menggenggam apa-apa yang kita mampu. Bukan pada sebanyak-banyak yang kita inginkan. Karena rasa banyak, sesungguhnya akan hadir manakala rasa cukup telah mengisi jiwa.
seen from Georgia

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from Ukraine
seen from Yemen
seen from China
seen from Singapore
seen from China
seen from Yemen
seen from Türkiye
seen from India
seen from United States
seen from Türkiye

seen from Netherlands
seen from Serbia
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
Pada akhirnya, kehidupan mengajarkan untuk menggenggam apa-apa yang kita mampu. Bukan pada sebanyak-banyak yang kita inginkan. Karena rasa banyak, sesungguhnya akan hadir manakala rasa cukup telah mengisi jiwa.
Sujudmu lah yang kan membuatmu melangit. Merapikan cintamu, agar tak lagi mengudara dengan ragu. Membuatmu yakin, bahwa ada yang kan terus mendengarkan tanpa jemu
Secangkir Teh & Sepotong Sore
Lambat laun ku sadari,
Beberapa rindu memang harus sembunyi-sembunyi, bukan untuk disampaikan, hanya di kirim lewat doa.
Beberapa rasa memang harus dibiarkan menjadi rahasia, bukan untuk di utarakan, hanya untuk di syukuri keberadaanya.
Biarlah "apakabar" menjadi pengganti "aku rindu".
"jaga dirimu baik-baik" menjadi pengganti "aku sayang kamu".
Tangannya menjadi pengganti tanganku, pundaknya menjadi pundakku untukmu bersandar.
Biarlah gemericik grimis, secarik senja, secangkir teh dan sebait lagu menjadi penggantimu.,
Secangkir Nasehat Ibu
---------
Pembicaraan empat mata ibu dan anak bungsu nya sore itu terlihat seru. Ibu memberi beberapa nasehat yg nggak bisa dibilang singkat. Nasehat panjang yg selalu menenangkan. Seolah aku menyerahkan diri untuk segera diperbaiki dan diingatkan lagi akan hal yang harusnya terpatri dengan baik di setiap langkah ini...
Hal pertama adalah betapa pentingnya menjaga kesehatan, jangan terlalu sering minum es, perbanyak air putih. Ibu sangat bawel kalau soal yg dingin-dingin untuk anak perempuannya, sering khawatir, takut jika terlalu memaksakan diri melakukan apapun hingga lupa minum air putih dan beralih kepada air dingin...
Kedua adalah tentang ibadah. Mengingatkan untuk tidak pernah meninggalkan kewajiban 5 waktuku, kemudian menambahnya di waktu-waktu lain. Tidak lupa sunnah-sunnah yang kini mulai rutin dan menjadi kebiasaan. Ditambah doa yang tidak boleh terputus untukku dan orang-orang yang aku sayangi, kata ibu "terserah, doakan saja siapapun yg ingin kamu doakan"
Kemudian aku bertanya "kok yg kedua malah ibadah? Bukannya itu harusnya pertama?"
Ibu menjawab dengan bertanya balik "kalau sakit, emang ibadahnya enak?"
Iya juga, semenjak merantau rasanya kesehatan adlh hal prioritas
Ketiga dan terakhir, tentang jodoh. "Nggak usah khawatir, semua orang udah ada pasangannya" Ibu kemudian menekankan kembali beberapa kriteria utama yang harus dipenuhi, salah satunya "cari laki-laki yang sayang sama ibunya, banyak diluar sana anak yang udah nggak peduli sama keluarganya. Melihat ibu hanya sebatas ibu. Ingat, tampan bisa hilang. Fisik lambat laun akan melemah. Jadi apa yang tersisa? Kasih sayang".
Perihal anaknya yg tidak pernah dijemput laki-laki setiap malam minggu, ibu bilang "itu adalah salah satu hal yg selalu ibu disyukuri" :) lagi-lagi aku ternsenyum mendengarnya...
Sebenernya banyak hal-hal yang ibu sampaikan hingga larut malam, aku hanya tersenyum dan mengiyakan saja, karena ibu memang selalu benar...
Soal akademik? Ibu tidak pernah menuntut banyak, bagi beliau dengan aku tidak "neko neko" saja sudah cukup...
Ternyata, cerita bersama ibu memang selalu bisa membuatku bersyukur menjadi anak perempuannya...
Bicara kita dan secangkir teh
Tiba di persimpangan sebuah toko sore itu dalam gerimis.
Memandang orang saling berpapasan berjalan menyusuri lorong.
Sore itu indah untuk bercengkerama menikmati warna warni hiasan indah.
Alunan musik klasik Etnis Belanda mengiringi langkah kaki kita.
Tibalah kita di sebuah kedai kecil dengan pernak pernik dan bunga cantik.
Bunga itu berwarna Ungu, Butterflypea namanya.
Berawal dari indahnya bunga telang itu.
Menemani sore kita hingga perjalanan selanjutnya.
Perjalanan indah untuk mencintai dan menikmati setiap teguknya.
Secangkir teh hangat dan ketenangan.
Melanjutkan pembicaraan menarik hati tuk mengenal lebih dalam lagi.
Bersamamu menjelajahi lebih jauh lagi.
- 25 Februari 2019
Secangkir Teh Panas Dengan Potongan Jeruk Nipis (Part 1)
Aku akan menceritakan padamu tentang seorang gadis yang selalu memesan secangkir teh panas dengan potongan jeruk nipis di dalamnya. Gadis itu selalu duduk di sudut kedai tepat di sebelah jendela yang menghadap ke jalan raya. Nanti kamu pun akan tahu apa yang sebenarnya ditunggu oleh gadis itu.
͏...
‘Klinting’ bunyi bel yang terpasang di pintu kedai berbunyi ketika gadis itu memasuki kedai dengan baju sedikit basah. Ternyata rintik hujan diluar kedai telah menderas ketika ia melewati pintu. Gadis itu langsung menuju tempat favoritnya. Meja nomor 17 di sudut kedai tepat di sebelah jendela yang menghadap ke jalan raya.
Seorang pelayan datang padanya dan ia hanya melemparkan senyum dan mengangkat jari telunjuknya. Pelayan itu tersenyum dan segera berbalik untuk menyiapkan pesanan gadis itu. Tak lama kemudian, secangkir teh panas dengan potongan jeruk nipis terhidang diatas mejanya. Dia mengucapkan terimakasih dan langsung mengangkat cangkir itu. Gadis itu mencium aroma teh dengan potongan jeruk nipis itu sebelum menyeruputnya sedikit.
‘Hangat’ katanya dalam hati. Kemudian ia memandang kembali ke arah jalan raya yang tak terlalu banyak dilewati orang. Matanya hanya menatap ke satu titik di seberang jalan.
Tiba-tiba kursi di depannya tak kosong lagi. Seorang pemuda telah duduk dihadapannya tanpa ia sadari. Pemuda itu melemparkan senyum, dan gadis itu--seperti telah lama menanti kedatangan pemuda itu--membalas senyum itu. Mereka tak banyak berbicara, hanya sesekali bergurau sambil tertawa kecil. Gadis itu kemudian menceritakan apa yang ia alami hari ini. Pemuda itu mendengarkan dan sesekali menanyakan hal-hal kecil menanggapi cerita si gadis. Gadis itu tetap dengan pembawaannya yang kalem menceritakan banyak hal, tapi matanya sangat antusias dan ekspresif. Itulah yang dicari pemuda itu, rindu akan mata antusias dan ekspresif milik gadis itu.
Malam mulai turun dan hujan telah lama berhenti. Gadis itu selalu pulang sebelum pukul tujuh dan diikuti pemuda misterius itu yang perginya pun tiba-tiba. Gadis itu menuju kasir dan membayar tagihannya, selalu hanya secangkir teh panas dengan potongan jeruk nipis. Gadis itu mulai menjadi pelanggan tetap sejak hampir setengah tahun lalu. Menghabiskan waktu sorenya di sudut kedai dengan secangkir teh panas dengan potongan jeruk nipis. Entah sejak kapan semua pelayan kedai telah terbiasa dengan kehadirannya dan pesanannya yang selalu sama serta meja nomor 17 yang setiap sore selalu diisi oleh kehadirannya.
͏...
Beberapa minggu kemudian, gadis itu kembali lagi ke kedai, memesan pesanan yang sama, dan duduk di meja yang sama. Namun beberapa menit selanjutnya, seorang perempuan cantik berusia paruh baya memasuki kedai, duduk di seberang meja si gadis kemudian memesan secangkir teh panas. Mulai memperhatikan si gadis yang telah mulai memandang keluar jendela, terdiam sebentar, dan mengalihkan pandangan kearah kursi di depannya dan mulai berbincang dengan laki-laki itu.
Perempuan cantik paruh baya itu mendekati petugas kasir yang tak pernah digantikan orang lain dan bertanya,
“Sejak kapan perempuan itu berkunjung kemari?” tanyanya sambil menunjuk pada meja nomor 17.
“Kira-kira hampir enam bulan ini, Bu. Adakah yang bisa saya bantu?” tanya petugas kasir itu.
“Oh tak apa, saya kebetulan mengenalnya dan ingin tahu kabarnya. Jadi saya mengikutinya kemari.”
Petugas kasir itu berpikir sebentar, ia merasa ada yang aneh ketika mengenal seseorang tapi tak menyapanya secara langsung. Tapi petugas kasir itu mengabaikan pikirannya dan menanggapi perempuan paruh baya tadi.
“Oh gadis itu selalu berkunjung setiap sore tak pernah absen, Bu. Selalu memesan secangkir teh panas dengan potongan jeruk nipis. Kemudian akan menatap keluar jendela kemudian berbincang seolah ada orang.” Petugas kasir itu menjelaskan dengan sedikit perasaan heran akan apa yang selalu ia amati. Perempuan cantik paruh baya itu menggumam dan kemudian mengangguk pada petugas kasir lalu meminta bill untuk pesanannya kemudian membayarnya.
”Terimakasih ya.” Kata perempuan cantik paruh baya itu. Petugas kasir hanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih atas kunjungannya datang di kedai tersebut.
͏...
Satu tahun yang lalu.
‘Braaaakkk’ suara yang tiba-tiba terdengar sore itu memekakkan telinga, menarik perhatian setiap orang yang berada di sekitar jalan itu. Sebuah truk besar telah terguling di tengah jalan raya. Para pejalan kaki berteriak ngeri melihat kejadian yang seperti dalam film tersebut. Mereka saksi hidup kejadian yang menyebabkan beberapa nyawa hilang itu.
Pelayan kedai-kedai sepanjang jalan itu berhamburan keluar untuk menolong orang-orang yang terluka. Mereka melihat beberapa orang yang terjepit kendaraan, segera saja mereka mencoba mengeluarkan korban-korban itu. Hingga akhirnya ambulans, pemadam kebakaran, dan pihak kepolisian datang dan segera melakukan evakuasi. Beberapa jam setelahnya, para korban sudah diangkut ke rumah sakit oleh tenaga medis, tapi truk itu masih melintang di jalan sehingga memutus jalur transportasi jalan. Semua kacau hari itu.
Kecelakaan mengerikan yang tak diketahui sebabnya itu telah membekukan aktivitas transportasi disana selama beberapa hari. Hingga akhirnya petugas pemadam kebakaran dengan banyak bantuan dari kepolisian dapat memindahkan truk itu. Kecelakaan itu telah ramai menjadi pembicaraan disana – sini terutama para pelayan kedai disana. Sebuah kedai yang tepat berada di seberang lokasi kejadian hingga kini masih belum membuka kedainya, namun para pelayannya telah berkumpul untuk merapikan kedai mereka. Kemudian seorang pelayan menunjukkan sesuatu pada teman-temannya.
“Aku menemukan ini ketika kecelakaan kemarin.” Ia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya, sebuah cincin bermata berlian kecil. Jelas itu milik seorang perempuan.
“Semacam cincin kawin.” Kata temannya. “Dimana kamu temukan?”
“Di trotoar depan kedai. Aku tak tahu siapa pemiliknya. Jadi kusimpan saja.”
“Eh kok malah disimpan sih? Kan ada banyak polisi kemarin.” Protes temannya.
“Mungkin saja akan ada yang mencarinya di kedai kita, makanya kusimpan.”
“Sudahlah, terserah kamu saja. Aku gak ikut campur lah.”
Kemudian mereka bekerja kembali, merapikan kedai mereka yang berantakan akibat kecelakaan itu. Mereka tak menyadari bahwa apa yang telah ditemukan tersebut merupakan satu garis kehidupan yang telah redup.
͏...
Satu hari sebelum kecelakaan.
“Rhe, kamu bisa menemui manajer real estate itu untuk menggantikanku tidak? Sepertinya aku harus pergi ke luar kota selama beberapa hari.”
“Kapan?” Jawabku singkat. aku sudah menduga Ky akan melimpahkan tugas itu padaku.
“Lusa jam makan siang.”
“Tapi tak gratis.” Kataku mulai menggodanya.
“Hmmm baiklah kau mau apa?” Katanya sambil melingkarkan lengannya ke pingganggu. Aku berpura-pura berpikir. “Bagaimana kalau kita berkencan besok, kau ingat kan besok tanggal berapa?” usulnya.
“Memang tanggal berapa?”
“Dua-puluh-lima.” Ia menekankan setiap katanya dan mengeratkan lengannya pada pinggangku. Wajahku semakin mendekat pada wajahnya, pipiku sudah panas, kurasa sudah sangat merah.
“Hmmmm” aku sudah tak bisa konsentrasi. “Memang ada apa dengan tanggal itu?” kataku pura-pura lupa.
“Wah berani-beraninya kau melupakan ulang tahun pernikahan kita. Kau harus dihukum.” Tiba-tiba ia merenggangkan lengannya, dan tangannya menggelitiki pinggangku. Aku tak bisa menahan geli, aku tertawa dan menggeliat berusaha melepaskan diri.
“Ampuuun. Cukup Ky.” Aku masih berusaha melepaskan diri. “Iyaaaa iyaaaa ayo kita bertemu di kedai biasa.” Aku menyerah dan dia tertawa. Ia menghentikan serangannya dan mencium pipiku.
“Oke istriku, jangan terlambat ya.” Katanya sambil mengedipkan mata.
Kami bahagia dengan pernikahan kami, walaupun baru satu tahun kami bersama. Kami banyak belajar bahwa menikah bukan hanya tentang kami berdua, tetapi juga keluarga kami. Selain itu banyak hal yang baru tentangnya dan tentangku yang baru kami ketahui masing-masing setelah menikah. Kami sama-sama bersyukur kami diciptakan untuk satu sama lain. Kami berharap hanya mautlah yang dapat memisahkan kami. Kami selalu berusaha untuk saling mengerti dan memahami, karena dalam satu perahu tak mungkin kami abai satu sama lain. Namun, kami tak tahu takdir apa yang menunggu kami di depan sana.
Yo pro koncoo dolanan neng njobo... Padang mbulan padange koyo rino... Rembulane sing ngawe-awe... Ngelikake ojo podho turu sore... • Sepenggal tembang Jawa (ntah bener apa salah liriknya) yg dulu sering dinyanyiin anak2 dgn gaya metal pecicilan... • Terang bulan memang asiknya bercengkrama diluar, digunung, pantai, sawah, halaman... Ngomongin masa depan.. kapan nikahnya, nikah dimana, tinggal dimana...bla bla sambil tentu saja ditemani cemilan dan secangkir kopi atau seteko teh...co cuiit.. 💏 • #fullmoon #padangmbulan #bulanpurnama #terangbulan #masadepan #secangkirkopi #secangkirteh #kedaitehkalasan (at Kedai Teh Kalasan)
Menguatkan Niat
Semoga Allah menguatkan semua niatan baik. Memupuk dengan keberkahan-keberkahan milikNya. Menjadikan kebaikan-kebaikan kemudian bercabang dan melahirkan buah-buah yang manis.
Semoga doa-doa yang tulus dan ikhlas senantiasa menemani setiap ikhtiar. Menjadikan setiap langkah adalah jalan ibadah. Menjadikan semua harap melaju dengan tenang, di tengah hingar bingar yang mencoba melalaikan.
Dan semoga keyakinan terus bertumbuh. Tatkala meniti jalan-jalan yang penuh dengan warna keridhoanNya. Lantas menjadi sebab, lengan-lenganNya menggenggam erat dan menuntun kala sedang tertatih.
Kokohkan niat.
Tetaplah tabah, demi mendulang berkah.