Dengan kekayaan negeri yang melimpah. Langit tinggi bagai dinding. Hutan hijau bagai zamrud. Sungai mengalir panjang bagai naga. Laut biru terbentang luas tanpa batas. Ikan-ikan berenang bebas di kedalaman laut. Gunung-gunung tinggi berdiri menancap kokoh ke dalam tanah. Lembah-lembah luas menjorok ke dalam bagai mangkok.
Tak terbilang kekayaan negeri ini. Sungguh tak terbilang.
Namun, apakah sekiranya harta karun paling berharga yang dimiliki bangsa ini?
Menurut penulis Tere Liye (@tereliyequotes), dalam bukunya yang berjudul Pukat (serial anak-anak Mamak), harta karun paling berharga yang dimiliki sebuah bahsa bukanlah sumder daya alamnya yang melimpah. Melainkan kita, dan anak-anak sebagai generasi penerus.
“Kamilah harta karun paling berharga kampung. Anak-anak yang dibesarkan oleh kebijaksanaan alam, dididik langsung oleh kesederhanaan kampung. Kamilah generasi berikut yang bukan hanya memastikan apakah hutan-hutan kami, tanah-tanah kami tetap lestari, tetapi apakah juga kejujuran, harga diri, perangai yang elok serta kebaikan tetap terpelihara di manapun kami berada.”
Karena kemajuan sebuah bangsa ditentukan oleh generasi yang terbaharukan, mampu menjadi sumber daya manusia yang tidak hanya kaya akan pengetahuan tetapi kaya akan moral dan akhlak.
Oleh karena itu, penting sekali menanamkan sifat kejujuran dan kebaikan di dalam pribadi masing-masing. Tanam sedalam-dalamnya hingga akarnya kokoh dan kuat. Dan kita memiliki peran untuk menanamkannya kepada anak-anak, generasi penerus kita. Karena sejatinya, mendidik bukan hanya tugas seorang guru. Mendidik adalah tugas semua orang yang terdidik. Memastikan agar mereka tumbuh dengan sifat demikian.
Warisan yang baik bukanlah harta yang berlimpah melainkan pemahaman hidup yang baik.