Pesan untuk diriku.
Hai, perempuan mandiri yang tangguhnya tak tersaingi! Kamu hebat telah bertahan dan menjadi dirimu hari ini.
seen from China
seen from China
seen from Yemen

seen from United States
seen from Pakistan
seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Saudi Arabia

seen from Canada
seen from United States
seen from United States

seen from Austria
seen from United States
seen from Canada

seen from Australia

seen from Germany
Pesan untuk diriku.
Hai, perempuan mandiri yang tangguhnya tak tersaingi! Kamu hebat telah bertahan dan menjadi dirimu hari ini.
Lupa mendoakan diri sendiri!
Percakapan singkat ini adalah bagian dari cerita bagaimana Allah mengarahkan do'a-do'a dan harapanmu tanpa tapi. Sementara diriku berdo'a masih sering lupa untuk meresapi.
U : Meskipun hal baru yang kamu pelajari tidak bisa kamu aplikasikan di kepentingan atau tugasmu sendiri, setidaknya hal itu sangat bermanfaat untukku!
M : Ah, I see.. sepertinya itu adalah bagian do'a dan harapku untuk selalu bermanfaat untuk orang lain :).
U : Thanks a lot!
M : No worries! tapi sepertinya do'a itu perlu kurevisi. Aku sepertinya lupa untuk mendoakan kebermanfaatan untuk diriku sendiri.
U : ^_^ NGAKAK! *_*
Gapapa, tahun depan bisa dicoba lagi. Sekarang bukan rezekinya
Mamah
Jangan sampai penyesalanlah yang akhirnya membuatmu sadar karena telah melewatkan sesuatu yang berharga.
Jakarta, 14 Agustus 2020
Rajuami
#tulisansebelumtidur 21: 2019
2019 itu...penuh kejutan.
Jika boleh aku ibaratkan, 2019 seperti jalan menuju Kawah Ijen. Saat akan menuju gerbang pendakian itu penuh kebahagiaan dan antusias. Banyak teman-teman yang terlihat mau saling merangkul dan bergandengan tangan mewujudkan rencana besar di tahun ini.
Lalu, semakin banyak langkah yang kita lalui, tujuan kita masih sama tapi cara menuju tujuannya sudah mulai menemui perbedaan visi. Ada yang ingin cepat-cepat menuju puncak, tapi ada juga yang setengah menahan sesak dan beban untuk berjalan-istirahar-berjalan. Dan, aku sadari, perlahan tangan tidak lagi bergandengan. Banyak yang memilih melanjutkan perjalanan sendiri karena merasa mampu. Sedangkan sebagian lain mencoba membantu teman lain disetiap tanjakkan dan jalan terjal.
Pada pos tertentu, persimpangan kita temui. Ada yang ingin melanjutkan ke tujuan yang sudah direncanakan sejak awal, tapi ada yang berubah tujuan. Tidak bisa dipungkiri ada beberapa kalimat menyakitkan yang menyayat beberapa bagian hati. Tapi, aku tetap mencoba menjalani tujuan awal. Meski nyatanya banyak yang tanpa sengaja membuatku ingin balik saja ke garis start. Syukurlah, ada beberapa kawan yang masih bertahan memegang tangan ini. Bilang bahwa sebanyak apapun tanjakkannya, kita akan lalui bersama.
2019 jadi tahun air mata bagiku. Pernah sampai merasa kenapa sesakit ini. Padahal ini hanya sebuah perjalanan duniawi. Apa sih yang aku cari? Puncak yang sedari awal dirancang tidak akan pergi, bukan? Jalan yang Allah pilih untukku memang tidak hanya track lurus. Allah pilih tanjakkan-tanjakkan terjal dengan keluh yang sesekali aku ucapkan. Entah karena bekal habis padahal baru melalui 1 pos. Entah teman yang dulu terlihat ramah berubah menjadi pemarah. Atau bahkan diri sendiri yang mulai merasa kerdil di hadapan orang lain hanya karena mereka bisa sampai ke tujuan lebih cepat.
Satu hal yang aku ingat. Tujuanku adalah menikmati hasil dari usahaku. Melewati tanjakkan luar biasa menuju kawah ijen sama dengan jalanku menuju cita-citaku di awal tahun. Kakiku telah sampai di ijen, meski nyatanya di puncak ijen aku tidak bersama dengan semua yang bersamaku digaris start. Tapi, Allah mempertemukanku dengan teman-teman baru di garis finish. Mereka yang sama-sama berjuang tanpa teman. Mereka yang sama-sama menahan sesak bau belerang sendirian. Dan mereka yang sama-sama tersenyum ketika melihat langsung ciptaan Tuhan, Kawah Ijen.
Aku percaya, Allah sedang menuntunku menuju garis finish untuk 2019 yang banyak rasa ini. Tidak sabar menanti kejutan manis apa yang Allah kirimkan untukku atas semua yang terjadi di 2019. :)
Kemanggisan, 26 Desember 2019
Rajuami
#tulisansebelumtidur 19: Yaudah gpp
Dulu, setiap kali kecewa pasti bilang gpp kok. Padahal semuanya dusta. Dibalik gpp ada nangis semalam suntuk dengan harapan bisa segera sembuh tapi nyatanya hanya memperburuk keadaan.
Sekarang, setiap kali kecewa ya bilang kecewa, tapi kalo gpp ya beneran gpp. Bukan sok tegar, bukan. Tapi lebih ke yaudah emang udah takdirnya kayak gitu. Baru sadar aja gitu kalo sekarang jadi pribadi yang berbeda.
Buat jadi kayak sekarang emang engga gampang, perlu waktu panjang ya buat si perasa macam aku ini. Perlu kasih penguatan-penguatan ke diri sendiri dan yang pasti belajar jujur sama apa yang dirasakan. Minimal ke diri sendiri.
Aku anggap ini sebuah proses menuju lebih baik.
8 November 2019
Rajuami
#tulisansebelumtidur 18: rencanaku bukan rencanaNya
Beberapa jam telah berlalu sejak putusan itu aku ketahui. Rasanya campur aduk. Sejak awal memang salah menaruh harapan pada manusia. Tapi, dasar manusia tetap saja berharap selain padaNya.
Teguran lagi. Allah sayang banget sama hambaNya yang satu ini.
Rencanaku ternyata bukan rencanaNya.
Kecewa pasti. Tapi entah ada dorongan apa di dalam tubuh ini untuk berpikir bahwa setiap rencana pasti menemui jawaban, terlaksana atau tertunda.
Lihat beberapa waktu ke depan, akan aku tulis rencanaNya yang lebih luar biasa dari yang aku rencanakan. Aku ini si perencana kelas bawah. Sedangkan Penciptaku Maha Perencana.
Aku percaya Allah memberikan ini semua agar hambaNya ini lebih rajin berdoa padaNya, lebih percaya padaNya, lebih lagi menggantungkan harapan hanya padaNya, dan lebih dekat denganNya.
Aku berencana, Allah yang menentukan.
Kemanggisan, 13 Oktober 2019
Rajuami
#tulisansebelumtidur 14: Lepas.
Allah menyadarkan hambaNya yang keluar jalur bisa dengan berbagai cara. Bisa melalui mimpi, teguran langsung dari seseorang, atau mengalami suatu hal. Mengapa Allah menyadarkan kita? Agar kita bisa kembali kepada Allah, kembali ke jalan Allah, dan kembali hanya memohon segala harapan padaNya.
Teguran kali ini rasanya seperti pernah terjadi beberap waktu lalu. Entah tahun berapa. Hanya ingat melalui siapa, namun sudah enggan untuk menyebutkannya. Hikmahnya adalah Allah memiliki banyak cara untuk mendekap hambaNya agar tidak masuk ke dalam jurang.
Melepaskan yang belum pantas digenggam adalah salah satu cara Allah memeluk hambaNya yang hampir saja masuk ke jurang dosa. Tidak mudah melepaskan sesuatu yang sedang digenggam. Namun, rasanya aneh jika kita tetap memaksakan genggaman itu. Karena semakin kuat malah semakin melukai.