"Aku sempat merasa berdosa merasakannya. Perasaan yang muncul sekelebat kemudian kutikam tanpa ampun saat itu juga. Yaitu perasaan memiliki kesempatan kedua. Kesempatan yang sejak dulu kutunggu-tunggu hadirnya. Kini ketika berita duka itu datang, aku merasa memiliki peluang baru untuk diterima, tapi mana mungkin mana mungkin di hari bersedih ini aku merasa bahagia. Aku pasti sudah tak waras karena pendaman rasa ini. Tidak tidak, ini bukan rasa yang sewajarnya, maka ketika ia berjalan di hadapanku, berpamitan pulang, aku menampakkan wajah sewajarnya. Lebih merasa tak pantas ketika kusadari dan kutahu ia punya rasa yang sangat spesial pada Nathan, ayah dari anak-anaknya, aku belum kuat untuk mengatakan Nathan adalah suaminya. Lagi-lagi aku merasa ini bukan saat yang tepat untuk mengatakannya. Perasaan ragu ini agaknya persis seperti delapan tahun lalu, ketika Nathan mengatakan perasaannya pada Rosie di Rinjani."
Namanya Rosie, Nathan dan pencerita adalah Tegar. Narasi di atas tidak akan kalian temukan di buku Senja Bersama Rosie atau edisi revisinya 'Sunset Bersama Rosie' karya Bang Tere. Hanya karena merasa tidak tahu bagaimana mengungkapkannya, tak tahu bagaimana kutipannya, maafkan aku Bang Tere, kuceritakan salah satu perasaan Tegar dengan bahasa sendiri.
Aku seolah bertemu sosok Rosie di kehidupan nyata, Rosie dengan anak yang cantik, Rosie yang sholihah dan berbakti. Berbeda dengan Rosie dalam novel yang sangat pemurung setelah perginya Nathan. Rosie yang kutemui ini adalah Rosie yang penuh semangat dalam hidup dan selalu mensyukuri keadaannya. Entah bagaimana lagi mendeskripsikan ketegarannya. Rasanya aku tak lagi butuh sosok Tegar Karang atau mencari-cari siapa Tegar Karang dalam Rosie yang kutemui ini, karena 'Tegar' itu sendiri sudah menyatu dalam dirinya.
Jika suatu saat hadir Tegar dalam hidup Rosie, atau barangkali aku tidak tahu sebenarnya memang ada Tegar tanpa kusadari, maka satu harapanku adalah semoga aku bukan Sekar.