Setelah Hari itu
Pagi menjelang, mentari timur datang membawa terang. Mata ku yang sayu akan lelap yang tak menentu, memantik tanya “kenapa?”. Apakah ini benar terjadi? Apa hanya bunga tidur yang tak mengenakan? Lantas mengapa kamar ku begitu berantakan bak kapal yang baru saja menerjang badai lebat di tengah lautan lepas. Bagian kepala ku masih terasa sakit musabab aku tertidur dengan posisi kepala yang tak semestinya.
Tak ada lagi pesan dari mu. Entah berapa kali ku buka aplikasi yang menjadi wadah kita berkomunikasi. Siang menjelang istirahat menjadi waktu aku bergumul untuk memulihkan hati dari jerat perih yang terus menyakiti. Makanan yang biasa ku pesan hari ini kehilangan rasa nikmatnya. Seduhan es kopi menyisakan rasa pahit sepahit kenyataan.
Sore menjelang dan akhirnya bisa ku akhiri segala rutinitas. Aku ingin segera pulang dan mengurung diri dengan rindu yang tak lagi bertuan. Cakrawala dengan guratan warna kuning keemasan menjadi kecemasan akan malam yang bersiap menghampiri. Jalan padat akan penggunanya, tak ku hiraukan dengan gas yang tak lagi bisa ku pelankan menerobos lalu lintas sore untuk mempersingkat waktu kepulangan.
Bagi mu aku menjalaninya dengan penuh kelancaran. Bagi ku adalah sebuah perjuangan untuk segera menyelesaikan segala urusan. Kata mu aku disini dipenuhi dengan kebahagiaan. Kata ku semua ini adalah andil mu untuk ku terus menikmati perjalanan. Meski tak pernah kau dengar kelak kau akan sadar dengan tulisan ini, aku abadikan segala rasa yang pernah berpendar melintas alam bawah sadar.









