Tadi malam, kita bertemu dalam mimpi. Entah mengapa, kita selalu menjadi manusia yang sangat dekat di dimensi itu.
Tak seperti di Oktober tahun lalu, untuk pertama kalinya kita bertemu di dalam nyata setelah beratus-ratus hari hidup dalam maya.
Jantungku berdegup kencang. hujan yang menghiasi senja kala itu tak sedikitpun membuatku kedinginan, malah sebaliknya, suhu tubuhku merespon berlawanan.
Didalam maya, aku menunggumu. Pun dalam nyata, kau meminta ku tuk menunggu "tunggu sebentar ya.." begitulah kiranya pesan yang kau kirim padaku kala itu. Aku pun mengiyakan pesanmu, walau sebenarnya dalam hatiku bergumam "gapapa.. udah biasa nunggu ko."
Tanpa kompromi, tiba-tiba seorang laki-laki berpenampilan sederhana datang dari arah luar gerbang Mesjid. Pandanganku tertuju sebentar padanya, lalu sadar bahwa ia adalah orang yang ku tunggu. Jantungku bukan lagi berdegup kencang, tapi rasanya hampir hancur.
Aku mendekat ke arahnya, laki-laki yang menjinjing dua kantong kresek hitam berisi makanan yang aku pesan. Percakapan itu dimulai dari permintaan maafnya kepadaku
"Maaf udah nunggu lama ya.." katanya
"Oh iyaa ini uangnya pas yaa" kataku
Dan percakapan kita di dunia nyata kala itu diakhiri dengan ucapan terima kasihnya kepadaku
"Makasih ya, mangga duluan.." katanya
"Iya sama-sama.. mangga" jawabku
Percakapan yang berlangsung sekejap itu, percakapan kikuk dari dua manusia yang sebelumnya hidup dalam maya, tiba-tiba bertemu dan bersua dalam nyata dan itu membuat pikiran dan perasaanku campur aduk. Disela percakapan kita, aku tak berani melihat wajahnya, menatap matanya pun sesekali aku tak berani. Yang aku ingat hanyalah kewajiban seorang muslim untuk menundukkan pandangan. Walau sebenarnya, aku ingin menghentikan waktu, bercerita lebih banyak dengannya, melepas..