Takhrij Hadis Riwayat Bukhari Dakwah Tentang Perintah Tabligh Walau Satu Ayat
Teks hadis dan terjemahan Bukhari 3202 :
صحيح البخاري ٣٢٠٢: حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ أَخْبَرَنَا الْأَوْزَاعِيُّ حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي كَبْشَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
Shahih Bukhari 3202: Telah bercerita kepada kami Abu 'Ashim adl-Dlahhak bin Makhlad telah mengabarkan kepada kami Al Awza'iy telah bercerita kepada kami Hassan bin 'Athiyyah dari Abi Kabsyah dari 'Abdullah bin 'Amru bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra'il dan itu tidak mengapa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka."
Teks hadis dan terjemahan Tirmidzi 2593 :
سنن الترمذي ٢٥٩٣: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ عَنْ ابْنِ ثَوْبَانَ هُوَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ عَنْ حَسَّانَ بْنِ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي كَبْشَةَ السَّلُولِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ عَنْ حَسَّانَ بْنِ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي كَبْشَةَ السَّلُولِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ وَهَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ
Sunan Tirmidzi 2593: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf dari Ibnu Tsauban, yaitu Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban, dari Hassan bin Athiyyah dari Abu Kabsyah as Saluli dari Abdullah bin Amru dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat, dan ceritakanlah dari bani Israil, dan tidak ada dosa, barangsiapa berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya dari neraka." Abu Isa berkata: 'Ini hadits hasan shahih.' Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Abu Ashim dari al Auza'i dari Hassan bin Athiyyah dari Abu Kabsyah as Saluli dari Abdullah bin Amru dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam semisalnya, dan ini hadits shahih.
Teks hadis dan terjemahan Abu Daud 3177 :
سنن أبي داوود ٣١٧٧: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ
Sunan Abu Daud 3177: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Ali bin Mushir dari Muhammad bin 'Amru dari Abu Salamah dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Ceritakanlah riwayat dari Bani Israil, dan itu tidak mengapa."
Dari ketiga hadis yang dikutip di atas, hadis tersebut diriwayatkan oleh kedua mukharij yakni Shahih Bukhari, Jami at-Tirmidzi, dan Abu Daud, yang di mana ketiga tokoh tersebut sama-sama merupakan tokoh terkenal dalam perawi hadis yang sudah meriwayatkan ribuan hadis. Dalam periwayatan hadis dakwah tentang perintah tabligh walau satu ayat ketiganya memiliki kesamaan dalam matan hadistnya.
Dalam hadis Bukhori Periwayat pertama yakni Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash bin Wa'il merupakan seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang sudah meriwayatkan sekitar lebih dari 1000 hadis dari Rasulluallah SAW, dan menjadi salah satu sahabat pertama yang diperboleh menulis hadis oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan perawi hadis terkemuka, Abu Hurairah, pernah mengatakan bahwa Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash bin Wa'il lebih berpengetahuan darinya.
Periwayat kedua yakni Abu Kabsyah, Beliau termasuk kedalam tabi’in kalangan tua yang hidup di negeri syam, Abu Kabsyah termasuk termasuk perawi yang mempunyai sifat yang adil dan kuat hafalannya. Kemudian periwayat ketiga yakni Hasan bin 'Athiyah, yang juga termasuk perawi yang adil dan kuat hafalanya dan berasal dari negeri syam, dan juga termasuk kedalam Tabi’in kalangan biasa, beliau mempunyai kunyah atau nama panggilan/julukan yakni Abu Bakar.
Periwayat keempat Abdur Rahman bin 'Amru bin Abi 'Amru, Beliau merupakan seorang Tabi’ut Tabi’in kalangan tua, Abdur Rahman bin 'Amru bin Abi 'Amru merupakan keturunan Al Awza’iy yang dimana tidak perlu diragukan lagi sifat Beliau yang adil dan mempunyai hafalan yang kuat, bahkan selama hidupnya Beliau lebih banyak disibukkan dengan berdakwah dan mengajarkan ilmu.
Periwayat berikutnya Adl Dlahhaak bin Makhlad bin Adl Dlahhaak bin Muslim, Beliau merupakan seorang Tabi’ut Tabi’in kalangan biasa, Adl Dlahhaak bin Makhlad bin Adl Dlahhaak bin Muslim memiliki kunyah atau nama panggilan/julukan yakni Abu ‘Ashim. Beliau tinggal di Bashrah dan juga meninggal di Bashrah pada tahun 212 H, Adl Dlahhaak bin Makhlad bin Adl Dlahhaak bin Muslim termasuk perawi yang mempunyai kredibilitas yang tinggi, yang terkumpul pada dirinya sifat adil dan hafalannya sangat kuat. Diatas merupakan susunan sanad hadis Bukhori dalam hadis dakwah tentang perintah tabligh walau satu ayat, tidak terdapat permasalahan dari sisi sanadnya, semua perawi dapat dikatakan adil dan dhabit.
Selanjutnya dalam hadis Jami at-Tirmidzi, periwayat pertama Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash bin Wa'il, merupakan seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang sudah meriwayatkan sekitar lebih dari 1000 hadis dari Rasulluallah SAW, dan menjadi salah satu sahabat pertama yang diperboleh menulis hadis oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan perawi hadis terkemuka, Abu Hurairah, pernah mengatakan bahwa Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash bin Wa'il lebih berpengetahuan darinya.
Periwayat kedua yakni Abu Kabsyah, Beliau termasuk kedalam tabi’in kalangan tua yang hidup di negeri syam, Abu Kabsyah termasuk termasuk perawi yang mempunyai sifat yang adil dan kuat hafalannya. Kemudian periwayat ketiga yakni Hasan bin 'Athiyah, yang juga termasuk perawi yang adil dan kuat hafalanya dan berasal dari negeri syam, dan juga termasuk kedalam Tabi’in kalangan biasa, beliau mempunyai kunyah atau nama panggilan/julukan yakni Abu Bakar.
Periwayat keempat terdapat dua orang perawi, yang pertama Abdur Rahman bin Tsabit bin Tsauban. Beliau adalah seorang Faqih dari Damaskus. Guru-gurunya di bidang periwayatan hadis adalah Ubay ibn Ka’ab, Anas ibn Malik, Sa’id ibn al-Musayyab, Malik ibn Yakhamir as-Saksakiy, dan banyak lagi yang lain-lainnya. Sedangkan murid-muridnya di bidang periwayatan hadis adalah Ibrahim ibn Abi Hanifah al-Yamaniy, Usamah ibn Zaid, Ismail ibn abi Bakar, Tsabit ibn Tsauban , dan banyak lagi lain-lainnya, Abdur Rahman bin Tsabit bin Tsauban merupakan seorang perawi yang jujur terhadap apa yang diberitakan, tetapi ia memiliki hafalan yang buruk dan sering keliru dalam periwayatan.
Perawi kedua yakni Abdur Rahman bin 'Amru bin Abi' Amru, Beliau merupakan seorang Tabi’ut Tabi’in kalangan tua, Abdur Rahman bin 'Amru bin Abi 'Amru merupakan keturunan Al Awza’iy yang dimana tidak perlu diragukan lagi sifat Beliau yang adil dan mempunyai hafalan yang kuat, bahkan selama hidupnya Beliau lebih banyak disibukkan dengan berdakwah dan mengajarkan ilmu.
Periwayat kelima terdapat dua orang perawi juga yg pertama dari garis Abdur Rahman bin Tsabit bin Tsauban yakni Muhammad bin Yusuf bin Waqid bin 'Utsman. Beliau termasuk perawi yang mempunyai kredibilitas yang tinggi, yang terkumpul pada dirinya sifat adil dan hafalannya sangat kuat, Muhammad bin Yusuf bin Waqid bin 'Utsman berasal dari negeri syam dan wafat pada tahun 212 H.
Perawi kedua dari garis Abdur Rahman bin 'Amru bin Abi' Amru yakni Adl Dlahhaak bin Makhlad bin Adl Dlahhaak bin Muslim, Beliau merupakan seorang Tabi’ut Tabi’in kalangan biasa, Adl Dlahhaak bin Makhlad bin Adl Dlahhaak bin Muslim memiliki kunyah atau nama panggilan/julukan yakni Abu ‘Ashim. Beliau tinggal di Bashrah dan juga meninggal di Bashrah pada tahun 212 H, Adl Dlahhaak bin Makhlad bin Adl Dlahhaak bin Muslim termasuk perawi yang mempunyai kredibilitas yang tinggi, yang terkumpul pada dirinya sifat adil dan hafalannya sangat kuat.
Periwayat keenam juga terdapat dua perawi yg pertama berasal dari garis Muhammad bin Yusuf bin Waqid bin 'Utsman yakni Muhammad bin Yahya bin 'Abdullah bin Khalid bin Faris bin Dzu'aib, Beliau termasuk kedalam Tabi’ut Atba’ kalangan pertengahan, yang tinggal di Himsh dan wafat pada tahun 258 H. Muhammad bin Yahya bin 'Abdullah bin Khalid bin Faris bin Dzu'aib memiliki sebuah kunyah atau nama panggilan/julukan yakni Abu ‘Abdullah dan memiliki nasab Adz Dzuhally An Naisaburiy, beliau termasuk perawi yang mempunyai sifat 'adil dan kuat hafalannya.
Perawi kedua dari garis Adl Dlahhaak bin Makhlad bin Adl Dlahhaak bin Muslim yakni Muhammad bin Basysyar bin Utsman, Beliau termasuk ke dalam Tabi’ut Atba’ kalangan tua. Yang hidup di negeri Bashrah dan wafat di Bashrah pada tahun 252 H, Muhammad bin Basysyar bin Utsman memiliki kunyah atau nama panggilan/julukan yakni Abu Bakar dan memiliki nasab Al ‘Abdiy. Muhammad bin Basysyar bin Utsman merupakan seorang guru dari para mukharij terkenal yakni al- Bukhari, Muslim, Abu Dawud ,al- Tirmidzi, al-Nasa‟I.
Dari susunan sanad riwayat Jami at-Tirmidzi hampir seluruh perawi termasuk kedalam perawi yang adil dan juga dhabit, walaupun ada satu perawi yakni Abdur Rahman bin Tsabit bin Tsauban yang lemah hafalanya namun masih ada perawi satunya yakni Abdur Rahman bin 'Amru bin Abi' Amru yang juga meriwayatkan hadis tersebut.
Selanjutnya dalam hadis Abu Daud periwayat pertama yakni Abdur Rahman bin Shakhr, Beliau termasuk ke kalangan para sahabat yang hidup di Madinah dan juga wafat di kota madinah pada tahun 57 H. Abdur Rahman bin Shakhr memiliki kunyah atau nama panggilan/julukan yakni Abu Hurairah, dan memiliki nasab Ad Dawsiy Al Yamaniy. Umar bin Khattab pernah mengangkat Abdur Rahman bin Shakhr menjadi gubernur wilayah Bahrain untuk masa tertentu. Ketika Umar bermaksud mengangkatnya lagi untuk yang kedua kalinya, dia menolak. Ketika perselisihan terjadi selang Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Debu Sufyan, dia tidak berpihak untuk salah satu di selang mereka. Beliau termasuk sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Muhammad, yaitu sebanyak 5.374 hadits. Di selang yang meriwayatkan hadist darinya yaitu Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah, dan lain-lain.
Periwayat kedua yakni Abdullah bin 'Abdur Rahman bin 'Auf, Beliau termasuk Tabi’in kalangan pertengahan, yang hidup di madinah dan wafat di madinah pada tahun 94 H. Abdullah bin 'Abdur Rahman bin 'Auf memiliki kunya atau nama panggilan/julukan yakni Abu salamah, dan memiliki nasab Az Zuhriy. Selama Nabi Muhammad SAW hidup, Abdur Rahman bin Auf selalu ikut andil di garda terdepan dalam perjuangan dakwah Islam melalui harta dan tenaganya. Bahkan hingga setelah Nabi Muhammad SAW wafat, Abdur Rahman bin Auf menjadi penanggung jawab kesejahteraan istri-istri mendiang Rasulullah dan menjaga keselamatan mereka. Bahkan sebelum beliau wafat ia berwasiat bahwasanya seluruh hartanya disumbangkan untuk kepentingan dakwah islam, Beliau juga terkenal sebagai perawi yang mempunyai sifat 'adil dan kuat hafalannya.
Periwayat ketiga yakni Muhammad bin 'Amru bin 'Alqamah bin Waqash, Beliau termasuk Tabi’in kalangan pertengahan yang hidup di madinah dan wafat di madinah pada tahun 145 H. Muhammad bin 'Amru bin 'Alqamah bin Waqash memiliki kunyah atau panggilan/julukan yakni Abu Abdullah dan memiliki nasab Al Laitsiy. Sebagai seorang perawi beliau termasuk perawi yang mempunyai sifat 'adil dan kuat hafalannya, hal ini bisa dilihat dari hadis yang beliau riwayatkan yang melebihi 300 hadis.
Periwayat keempat yakni Ali bin Mushir, Beliau merupakan Tabi’ut Tabi’in kalangan pertengahan yang hidup di kufah dan wafat pada tahun 189 H. Ali bin Mushir memiliki kunya atau panggilan/julukan yakni Abu Al Hasan dan memiliki nasab Al Quraisyiy. Sebagai seorang perawi beliau termasuk perawi yang mempunyai sifat 'adil dan kuat hafalannya. Beliau adalah lautan ilmu dan dijadikan contoh dalam kekuatan hapalannya. Di antara yang meriwayatkan hadits dari beliau adalah Syaikhain (Bukhari dan Muslim), Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i, dan para rekan Beliau.
Periwayat kelima yakni Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah Ibrahim bin 'Utsman, Beliau merupakan Tabi’ut Atba’ dari kalangan tua yang hidup di Kufah dan wafat pada tahun 235 H. Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah Ibrahim bin 'Utsman memilik kunyah atau panggilan/julukan yakni Abu Bakar dan memiliki nasab Al ‘Absiy. Sebagai seorang perawi Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah Ibrahim bin 'Utsman termasuk perawi yang mempunyai kredibilitas yang tinggi, yang terkumpul pada dirinya sifat adil dan hafalannya sangat kuat, hal ini dapat dilihat dari berapa banyak beliau meriwayatkan hadis, kurang lebih 2500 hadis yang beliau riwayatkan. . Diatas merupakan susunan sanad hadis Abu Daud dalam hadis dakwah tentang perintah tabligh walau satu ayat, tidak terdapat permasalahan dari sisi sanadnya, semua perawi dapat dikatakan adil dan dhabit.
Untuk selanjutnya menganalisis isi matan hadis dari ketiga mukharij hadis diatas, Dari pemaparan diatas bisa dipahami bahwa hadis yang diatas memiliki kualitas shahih dari segi kandungan dan muttashil dari segi sanad, kemudin setelah diperiksa dapat dipahami bahwa sanad dari hadis diatas merupakan hadis yang shahih sebab periwayat hadis telah melengkapi persyaratan, diantara persyaratan itu adalah ketersambungan sanad, dhabit, adl, tidak terdapat Syadz dan ‘illat. Kesinambungan sanad hadis diatas bisa dipahami pada penilaian sanad, yang menunjukkan bahwa terdapatnya ketersambungan periwayatan dari perawi dan ada hubungannya antara guru dengan murid, dengan wilayah tempat tinggalnya yang dekat dan mudah dijangkau memungkingkan untuk bertemunya antara guru dengan murid. Langkah selanjutnya adalah memeriksa hadis dari susunan lafal matan hadis. Susunan lafal ini dilihat dari berbagai riwayat, dalam riwayat Abu Daud terdapat perbedaan lafal, kemudian dalam riwayat At-Tirmidzi juga ada kesaaman dalam lafalnya, dalam riwayat Imam Ahmad juga ada kesaaman dan dalam Riwayat Musnad Darimi juga terdapat kesamaan.
Dapat disimpulkan bahwasanya hadis dakwah tentang perintah tabligh walau satu ayat yang diriwayatkan Shahih Bukhori merupakan hadis yang shahih, hal ini dapat dilihat dari susunan sanad maupun matan yang dimana tidak terdapat illat maupun syadz. Oleh karena itu hadis dakwah tentang perintah tabligh walau satu ayat yang diriwayatkan Shahih Bukhori bisa dijadikan landasan hukum islam maupun sebuah Hujjah.