Menghindari Model Dakwah yang Menimbulkan Kejenuhan Dalam Hadis Muslim No 5047
Pendahuluan
Seperti kita ketahui dakwah murapakan suatu usaha-usaha menyerukan dan menyampaikan kepada individu dan seluruh umat konsepsi Islam tentang pandangan dan tujuan hidup manusia di dunia ini, yang meliputi amar ma’ruf nahi mungkar, dengan berbagai macam media dan cara yang diperbolehkan akhlak dan membimbing pengamalannya dalam peri kehidupan masyarakat dan perikehidupan bernegara. Mengajak kepada kebaikan dan memberi nasihat tidak bisa langsung memakai cara-cara yang instan. Karakteristik mad’u tentunya berbeda-beda. Maka dari itu, banyak indicator-indikator yang harus diperhatikan seorang da’i ketika berdakwah, salah satunya adalah harus menghindari model dakwah yang menimbulkan kejenuhan.
Secara harfiah arti kejenuhan ialah padat atau penuh sehingga tidak mampu lagi memuat apapun. Selain itu jenuh juga berarti jemu atau bosan. Tentunya hal ini menjadikan suatu tantangan tersendiri yang harus dilewati oleh pendakwah, ketika terlalu sering dalam menyampaikan nasihat dapat menjadikan seseorang jenuh dan bosan Ketika dinasihati karena melakukannya secara rutin dan kontinyu, dengan tanpa diselingi variasi dan penyegaran.
Pembahasan
Nasihat adalah “ajaran atau pelajaran baik”. Atau dapat disebut sebagai “anjuran (petunjuk, peringatan, teguran) yang baik”. Pengertian nasihat dari segi islam dibagi menjadi beberapa macam. Pertama, nasihat bagi Allah yakni iman kepada-Nya, mentauhidkan, menjalankan perintah serta menjauhi laragan-Nya. Kedua, nasihat untuk Kitabullah adalah mentadaburkannya. Ketiga, nasihat bagi Rasululah artinya beriman kepadanya dan kepada semua yang dibawa dan mengikuti beliau. Maka bagi siapa pun, menasihati atau menasihatkan pasti pesannya baik dan sesuatu yang positif serta terdapat ajaran moral yang baik dari nasihat tersebut, jika mad’u merasakan rasa bosan dan jenuh, maka akan berdampak bagi da’I dalam menyampaikan dakwahnya. Namun hal ini bisa diatasi dengan melakukan variasi dalam hal strategi dan metode dakwah yang digunakan oleh da’I. Berikut teks hadisnya :
صحيح مسلم ٥٠٤٧: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ وَأَبُو مُعَاوِيَةَ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ شَقِيقٍ قَالَ كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ بَابِ عَبْدِ اللَّهِ نَنْتَظِرُهُ فَمَرَّ بِنَا يَزِيدُ بْنُ مُعَاوِيَةَ النَّخَعِيُّ فَقُلْنَا أَعْلِمْهُ بِمَكَانِنَا فَدَخَلَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَلْبَثْ أَنْ خَرَجَ عَلَيْنَا عَبْدُ اللَّهِ فَقَالَ إِنِّي أُخْبَرُ بِمَكَانِكُمْ فَمَا يَمْنَعُنِي أَنْ أَخْرُجَ إِلَيْكُمْ إِلَّا كَرَاهِيَةُ أَنْ أُمِلَّكُمْ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَخَوَّلُنَا بِالْمَوْعِظَةِ فِي الْأَيَّامِ مَخَافَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ حَدَّثَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ ح و حَدَّثَنَا مِنْجَابُ بْنُ الْحَارِثِ التَّمِيمِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ مُسْهِرٍ ح و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَعَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ قَالَا أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ كُلُّهُمْ عَنْ الْأَعْمَشِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ وَزَادَ مِنْجَابٌ فِي رِوَايَتِهِ عَنْ ابْنِ مُسْهِرٍ قَالَ الْأَعْمَشُ وَحَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ مُرَّةَ عَنْ شَقِيقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ مِثْلَهُ
Artinya :
Shahih Muslim 5047: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki' dan Abu Mu'awiyah. Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dan teks hadits miliknya, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Al A'masy dari Syaqiq berkata: Kami duduk di dekat pintu Abdullah seraya menantinya, lalu Yazid bin Mu'awiyah An-Nakha'i melewati kami, kami berkata padanya: Beritahukan keberadaan kami padanya. Ia masuk, tidak lama kemudian Abdullah keluar lalu berkata: Aku telah diberitahu keberadaan kalian dan tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian kecuali karena aku tidak ingin membuat kalian jemu. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam mengatur (penyampaian) nasehat bagi kami dalam beberapa hari karena khawatir kami jemu. Telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al Asyuj telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris. Telah menceritakan kepada kami Minjab bin Al Harits At-Taimi telah menceritakan kepada kami ibnu Mushir. Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Ali bin Khaysram keduanya berkata: Telah mengkhabarkan kepada kami Isa bin Yunus. Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan, semuanya dari Al A'masy dengan sanad ini dengan matan serupa. Minjab menambahkan dalam riwayatnya: Dari Ibnu Mushir. Al A'masy berkata: Telah menceritakan kepadaku Amru bin Murrah dari Syaqiq dari Abdullah sepertinya.
Hadits shahih Muslim nomor 5047 ini menjelaskan bahwa Rasulullah SAW dalam menyampaikan dakwahnya yang berupa nasihat menggunakan metode yang berangsur-angsur selama beberapa hari. Metode ini digunakan karena beliau khawatir para shahabat akan merasa jenuh dengan apa yang beliau sampaikan sehingga nasihatnya tidak sampai dan tidak dapat diterima. Selain dengan cara tidak senantiasa memberi nasihat setiap hari, ada hal lain yang dapat dilakukan oleh para da’I Ketika menyampaikan dakwahnya agar tidak menumbuhkan kebosanan bagi para mad’u. Da’I dapat melakukan variasi dalam hal strategi dan metode dakwah yang digunakannya. Metode dakwah saat ini memiliki beragam macam sehingga dianjurkan bagi da’I agar secermat mungkin dalam memilih metode dakwah, walaupun sering memberikan nasihat yang sama tetapi tidak mengakibatkan kejenuhan.
Selain untuk tidak menimbulkan kejenuhan para mad’u, cara ini juga memberi da’I untuk dapat melihat serta merasakan perubahan dari mad’u tersebut. Da’I pun memberikan kesempatan kepada mad’u untuk berproses setelah menerima nasihat serta ajaran agama darinya. Karena dalam dakwah kunci utama da’I ialah pesan dakwah yang telah disampaikan dapat dilaksanakan oleh mad’u sehingga terjadi perubahan kepribadian menjadi pribadi yang lebih baik dan benar sesuai dengan definisi dakwah sendiri.
Kesimpulan
Menjadi seorang da’i bukanlah sesuatu yang mudah. Banyak yang harus dipelajari mulai dari metode berdakwah, cara berdakwah, dan juga harus memahami kondisi mad’u. Pada hadits shahih Muslim nomor 5047 ini ada salah satu metode dakwah yakni menghindari model dakwah yang menimbulkan kejenuhan. Karena sudah bisa dipastikan jika seorang mad’u merasa jenuh, maka pesan dakwah yang disampaikan tidak bisa diserap dengan baik. Hadits shahih muslim nomor 5047 ini telah ditakhrij dan sudah terbukti keshahihannya. Tentunya hadits ini bisa jadi pedoman bagi da’i agar tidak menggunakan model dakwah yang menimbulkan kejenuhan. Hadits ini juga memiliki hadits-hadits penguat yang cukup banyak. Maka dari itu, bisa dikatakan hadits ini marfu’ dan bisa dijadikan pedoman.














