Walau banyak koma... kemudian spasi. Akan kuberi titik setiap andai-andai itu datang. Atau sebaiknya kuberpindah pada alenia baru. Ah, tetap saja cerita yang sama. Bahkan dilanjutkan pula. Mungkin harus diganti judul yang baru? Meminta revisi dari orang yang tepat? Oke. Revisi mungkin lebih baik. Katanya, setelah kuajukan revisi, dia bilang. "Ikhlaskan setiap titik kalimat yang kau tulis. Jika ia adalah pernyataan maka ia bagian dari doa. Maka pasrahkanlah. Ikhlaskan... Dan jangan pernah merasa kecewa dalam doamu kepadaNya." *** Kau tahu? Andai untukmu banyak sekali, Nanno. Tapi aku tak boleh menggunakan kata "mungkin" di setiap kalimat. Padahal salah satu penggunaan kalimat andai adalah "mungkin", "seandainya", dan sebagainya. Untuk memunculkan harapan baru. Kalaupun mau kutulis, harus disertai dengan berbagai hipotesa. Agar ada semangat untuk mewujudkan hipotesa tersebut dan bermanfaatlah untuk orang banyak. Atau setidaknya membuatku senang sendiri. Tapi, lagi-lagi harus selalu ada ridho dariNya. Tuhanku. Jika setiap andai itu datang lagi, ingatkan aku untuk selalu menaruh titik keikhlasan ya, Nanno. Biar Ia yang mengatur hasilnya. Agar aku pun tak tenggelam dalam ketidakpastian. Hingga skripsiku pun tak kunjung selesai.