Buah Roh dan Praktek
Menanggapi sebuah postinganku di Facebook, seorang kakak sepupu menyarankan aku agar mempraktekkan buah Roh. Aku sih paham, yang dia maksud adalah agar aku bersabar.
Tapi soal buah Roh, aku gak sepakat kalau buah Roh itu harus dipraktekkan, seperti halnya kita belajar teori, terus praktek. Buah bukan sesuatu yang dilatih, dipejari atau diingat. Buah adalah hasil dari proses, dengan kondisi dan sumber daya yang sudah cukup, pada waktunya akan muncul. Tanpa dipaksa, tanpa direncanakan, tanpa dipaksakan. Sementara praktek adalah sesuatu yang diputuskan, kadang perlu dipraktekkan.
A details of a shop inside Mercado de La Boqueria, in Barcelona. – Download this photo by Jacopo Maia on Unsplash
Contohnya, soal sabar. Kalau memang sudah ada buah Roh, kita akan OTOMATIS sabar ketika menghadapi masalah atau musibah. Tidak dibuat-buat, tidak dipaksa-paksa, ya secara alami bisa mengambil keputusan dengan sabar. Sementara kalau praktek, itu kita harus berjuang agar bisa sabar, kadang harus merasa berjuang dan bersusah payah, dan kemudian mengambil KEPUTUSAN untuk memilih sabar - ini bukan buah. Ibarat getah yang diperas, beda dengan buah yang tinggal dipetik.
Apakah buah Roh mengenal musim, seperti buah durian atau buah mangga yang hanya muncul banyak saat musim tertentu? Entahlah hehehe. Tapi kalau diibaratkan buah yang tidak mengenal musim, pohon juga belum tentu berbuah terus, tergantung nutrisi yang dia terima juga. Jadi begitu juga dengan kerohanian, agar buah Roh tetap bisa selalu ada, nutrisi rohani dan keimanan harus selalu dijaga.











