Merawat Kita Hari Ini dan Segala Rasanya
Kita akan merindukan saat yang sedang kita jalani ini, cepat atau lambat.
Bagi yang sendirian duduk di balkon, melihat langit sorenya berubah dari biru muda bersemburat awan putih menjadi kemerahan pelan-pelan, sambil mendengarkan sebuah lagu yang paling nyaman di hati dan telinga. Tidak dikejar deadline tugas atau memikirkan beberapa tagihan cicilan.
Bagi yang duduk di terasnya bersama pasangan sambil membicarakan harus bagaimana cara membagi perhatian kepada orang tua dan mertuanya nanti ketika pulang. Ada gurauan kecil, ada perdebatan kecil, tapi harus selesai saat itu juga agar malamnya bisa tertidur tenang; baiklah terpaksa kita lanjutkan besok debat kusirnya. Dalam kehidupan rumah tangga ada banyak hal menyenangkan yang tumbuh dan dipelihara, namun tak jarang pembicaraan harus mengarah ke tempat yang tidak nyaman. Menerima kebahagiaan artinya mau menerima hal tersulitnya juga, begitulah nikmat dunia, berkonsekuensi.
Bagi yang melewatkan sore harinya membuat kue meskipun hanya bermodal panduan cookpad atau channel memasak dari youtube. Berdua saja dengan putri kecilnya yang baru berumur tujuh tahun, tertawa sambil memoleskan krim di hidungnya karena gemas atau menanggapi pertanyaannya yang lucu, "Ibu, apakah aku ini dulunya juga telur?" Sosok Ayah adalah figur yang jauh dari putrinya, entah dia tidak tahu atau mulai tahu bagaimana caranya menyembunyikan rasa ingin tahunya, tapi terbesit dalam dirinya mengenai kehadiran Ayah dalam sebuah keluarga.
Bagi yang sedang duduk penuh tawa bersama sahabat-sahabatnya di sebuah kafe dekat kampus, tempat anak-anak muda biasa nongkrong dan tertawa haha hihi, meskipun baru saja dibukanya nilai semester ini, IP tidak juga menembus angka 3. Hari terasa begitu cepat berlalu, masa muda begitu terburu-buru. Masa terbaik saat tidak punya tanggungan cicilan atau tekanan dari bos dan teman sekantor yang siap menikung dari berbagai lini. Kala itu kesulitan terberatnya adalah tagihan revisi dosen pembimbing atau kisah romansa yang kandas padahal sudah berpacaran sejak semester dua, begitu abu-abu tentang asmara serta keributan di dalamnya.
Bagi yang menanti cintanya pulang, meskipun masih tak punya alasan yang lebih kuat dibandingkan cinta. Ternyata secara diam-diam memohonkan matinya rasa, memohon dipalingkan saja karena keyakinannya ternyata tak lebih kuat dibandingkan bisikan tetangga, “Ada yang melihat kekasihmu menikahi saudagar kaya raya di kota”. Sambil membiarkan rasanya pudar perlahan, tak punya labuhan lain yang bisa dijadikan tempat bersandar, hidup harus tetap berjalan, sakit di hati tidak membuatnya kenyang tanpa sandang dan pangan. Segala yang menyakitkan akan berakhir, doa yang baik untuknya.
Suatu hari nanti yang kita jalani ini akan menjadi sesuatu yang akan kita kenang, betapa nyamannya kala itu, betapa tenangnya waktu itu, betapa sulitnya saat itu, dan ternyata betapa sakitnya hari itu. Sulit mengatakan hanya sebagai ‘sesuatu yang ada di belakang’ karena meskipun benar di belakang, pengalaman menjadi kawan yang selalu berjalan di depan kita untuk mempertimbangkan segala hal nantinya.
Merawat saat ini adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan, barangkali suatu saat akan kita rindukan kehangatan di tengah keluarga atau saat menggigil sendirian.
Jakarta, Maret 2021
Haizulfa













