Untuk hal-hal esok dan akan datang yang merisaukan, kita doakanlah yang baik-baik. Insya-Allah, Tuhan pasti akan berikan yang terbaik untuk kita.
seen from India

seen from India
seen from China
seen from China
seen from China
seen from Italy

seen from Singapore
seen from China
seen from United States

seen from China
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from China
seen from Germany
seen from Türkiye
seen from Australia
seen from United States

seen from Singapore

seen from Spain
seen from Poland
Untuk hal-hal esok dan akan datang yang merisaukan, kita doakanlah yang baik-baik. Insya-Allah, Tuhan pasti akan berikan yang terbaik untuk kita.
Merawat Kita Hari Ini dan Segala Rasanya
Kita akan merindukan saat yang sedang kita jalani ini, cepat atau lambat.
Bagi yang sendirian duduk di balkon, melihat langit sorenya berubah dari biru muda bersemburat awan putih menjadi kemerahan pelan-pelan, sambil mendengarkan sebuah lagu yang paling nyaman di hati dan telinga. Tidak dikejar deadline tugas atau memikirkan beberapa tagihan cicilan.
Bagi yang duduk di terasnya bersama pasangan sambil membicarakan harus bagaimana cara membagi perhatian kepada orang tua dan mertuanya nanti ketika pulang. Ada gurauan kecil, ada perdebatan kecil, tapi harus selesai saat itu juga agar malamnya bisa tertidur tenang; baiklah terpaksa kita lanjutkan besok debat kusirnya. Dalam kehidupan rumah tangga ada banyak hal menyenangkan yang tumbuh dan dipelihara, namun tak jarang pembicaraan harus mengarah ke tempat yang tidak nyaman. Menerima kebahagiaan artinya mau menerima hal tersulitnya juga, begitulah nikmat dunia, berkonsekuensi.
Bagi yang melewatkan sore harinya membuat kue meskipun hanya bermodal panduan cookpad atau channel memasak dari youtube. Berdua saja dengan putri kecilnya yang baru berumur tujuh tahun, tertawa sambil memoleskan krim di hidungnya karena gemas atau menanggapi pertanyaannya yang lucu, "Ibu, apakah aku ini dulunya juga telur?" Sosok Ayah adalah figur yang jauh dari putrinya, entah dia tidak tahu atau mulai tahu bagaimana caranya menyembunyikan rasa ingin tahunya, tapi terbesit dalam dirinya mengenai kehadiran Ayah dalam sebuah keluarga.
Bagi yang sedang duduk penuh tawa bersama sahabat-sahabatnya di sebuah kafe dekat kampus, tempat anak-anak muda biasa nongkrong dan tertawa haha hihi, meskipun baru saja dibukanya nilai semester ini, IP tidak juga menembus angka 3. Hari terasa begitu cepat berlalu, masa muda begitu terburu-buru. Masa terbaik saat tidak punya tanggungan cicilan atau tekanan dari bos dan teman sekantor yang siap menikung dari berbagai lini. Kala itu kesulitan terberatnya adalah tagihan revisi dosen pembimbing atau kisah romansa yang kandas padahal sudah berpacaran sejak semester dua, begitu abu-abu tentang asmara serta keributan di dalamnya.
Bagi yang menanti cintanya pulang, meskipun masih tak punya alasan yang lebih kuat dibandingkan cinta. Ternyata secara diam-diam memohonkan matinya rasa, memohon dipalingkan saja karena keyakinannya ternyata tak lebih kuat dibandingkan bisikan tetangga, “Ada yang melihat kekasihmu menikahi saudagar kaya raya di kota”. Sambil membiarkan rasanya pudar perlahan, tak punya labuhan lain yang bisa dijadikan tempat bersandar, hidup harus tetap berjalan, sakit di hati tidak membuatnya kenyang tanpa sandang dan pangan. Segala yang menyakitkan akan berakhir, doa yang baik untuknya.
Suatu hari nanti yang kita jalani ini akan menjadi sesuatu yang akan kita kenang, betapa nyamannya kala itu, betapa tenangnya waktu itu, betapa sulitnya saat itu, dan ternyata betapa sakitnya hari itu. Sulit mengatakan hanya sebagai ‘sesuatu yang ada di belakang’ karena meskipun benar di belakang, pengalaman menjadi kawan yang selalu berjalan di depan kita untuk mempertimbangkan segala hal nantinya.
Merawat saat ini adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan, barangkali suatu saat akan kita rindukan kehangatan di tengah keluarga atau saat menggigil sendirian.
Jakarta, Maret 2021
Haizulfa
Siaplah mereka yang berleha-leha tanpa tujuan.
Menganggap esok adalah perjalanan yang masih panjang adalah sebuah kesalahan. Sungguh tak akan terduga misteri pertambahan hari itu. Jangan menyia sesuatu yang seharusnya terlaksana. Sesal tak akan beri kembalian harapmu apalagi iba dengan andaianmu.
-Sri Fafa
Nampaknya langit hari ini belum berpihak. Entah jika esok hari. Entah pula jika lusa. Sabar saja, semua akan ada masanya.
Esok
“Apa agendamu esok hari?” tanyaku kepada Fadjar.
“Entahlah... belum ada sepertinya, paling di rumah aja,” jawab Fadjar.
“Ehh.. kamu kamu kok aneh sih. Hari libur bukannya jalan-jalan, atau main ke mana gitu. Malah di rumah aja,” ledekku.
“Iyaa... terkadang kita terbiasa berpikir ~ apa yang akan kita lakukan esok ~ daripada berpikir ~ apa ya.. yang akan Allaah lakukan untuk kita esok,” jelasmu yang membuatku mengangguk-angguk.
Jadi teringat pesan Imam Ghozali: “Orang yang lalai setiap pagi selalu berpikir apa yang harus dia lakukan. Sementara orang yang berakal, setiap pagi, dia selalu merenung, apa yang akan Allaah lakukan terhadapnya.”
Pati, Jumadil Awal 1441H
#44 Menghadapi Hari Esok
Menghadapi hari esok, nyatanya tak mudah, kadang rasanya ingin pasrah
Melepaskan beban, berlari pada dilematis kehidupan
Tapi sampai kapan? hidup memang tetap harus diperjuangkan, meski rasanya sangat melelahkan
Istirahat dulu, besok mulai lanjut jalan ya
Raga dan hatimu perlu dipulihkan, dinetralkan
Ditulis dimalam ke tujuh belas Dzulka'dah 1441 H
Cilacap, 8 Juli 2020 (23.44)
Esok
hari ini indah sekali, sayangku
aku melihatmu tersenyum
memandangi cerahnya langit pagi hari
kalau saja matahari tak perlu terbenam
kalau saja hari ini tidak bisa berakhir
maukah kau menemuiku lagi esok?
aku tak bisa berjanji akan selalu bahagia
kau juga tahu tak ada yang sempurna, bukan?
masihkah kau menemuiku esok?
Setelah kamu pergi aku selalu meminta waktu malam lebih lama dari biasanya, karena aku takut tak sanggup melewati esok pagi yang tanpa kamu.
- R