أستغفر الله العظيم
dirt enthusiast
Monterey Bay Aquarium

#extradirty
No title available
TVSTRANGERTHINGS
DEAR READER
I'd rather be in outer space 🛸
Mike Driver
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

ellievsbear
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
🪼

@theartofmadeline

PR's Tumblrdome
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
taylor price

shark vs the universe
AnasAbdin
Misplaced Lens Cap
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

seen from Türkiye
seen from Iraq

seen from United States

seen from France

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Brazil

seen from Australia
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from Japan

seen from United States
seen from Japan
seen from United States
@haizulfa
أستغفر الله العظيم
Surprisingly i wanna cry rn
Baru sehari, sudah ada-ada aja.
Before 2021 ends, thank you for coming into my life, Vic.
Solo, 31 Desember 2021
Di dunia ini, rupanya aku memang punya jatah setidaknya satu hafidz.
Sejak luka menjadi jejak di hatimu, kamu tidak punya ruang untuk menerima harapan-harapan semu dari orang yang baru.
Haizulfa
Tumblr seperti sebuah rumah yang menampung banyak rasa, di masa lalu saat kamu belum dewasa atau saat ini ketika kamu berpura-pura dewasa.
Haizulfa
Merawat Kita Hari Ini dan Segala Rasanya
Kita akan merindukan saat yang sedang kita jalani ini, cepat atau lambat.
Bagi yang sendirian duduk di balkon, melihat langit sorenya berubah dari biru muda bersemburat awan putih menjadi kemerahan pelan-pelan, sambil mendengarkan sebuah lagu yang paling nyaman di hati dan telinga. Tidak dikejar deadline tugas atau memikirkan beberapa tagihan cicilan.
Bagi yang duduk di terasnya bersama pasangan sambil membicarakan harus bagaimana cara membagi perhatian kepada orang tua dan mertuanya nanti ketika pulang. Ada gurauan kecil, ada perdebatan kecil, tapi harus selesai saat itu juga agar malamnya bisa tertidur tenang; baiklah terpaksa kita lanjutkan besok debat kusirnya. Dalam kehidupan rumah tangga ada banyak hal menyenangkan yang tumbuh dan dipelihara, namun tak jarang pembicaraan harus mengarah ke tempat yang tidak nyaman. Menerima kebahagiaan artinya mau menerima hal tersulitnya juga, begitulah nikmat dunia, berkonsekuensi.
Bagi yang melewatkan sore harinya membuat kue meskipun hanya bermodal panduan cookpad atau channel memasak dari youtube. Berdua saja dengan putri kecilnya yang baru berumur tujuh tahun, tertawa sambil memoleskan krim di hidungnya karena gemas atau menanggapi pertanyaannya yang lucu, "Ibu, apakah aku ini dulunya juga telur?" Sosok Ayah adalah figur yang jauh dari putrinya, entah dia tidak tahu atau mulai tahu bagaimana caranya menyembunyikan rasa ingin tahunya, tapi terbesit dalam dirinya mengenai kehadiran Ayah dalam sebuah keluarga.
Bagi yang sedang duduk penuh tawa bersama sahabat-sahabatnya di sebuah kafe dekat kampus, tempat anak-anak muda biasa nongkrong dan tertawa haha hihi, meskipun baru saja dibukanya nilai semester ini, IP tidak juga menembus angka 3. Hari terasa begitu cepat berlalu, masa muda begitu terburu-buru. Masa terbaik saat tidak punya tanggungan cicilan atau tekanan dari bos dan teman sekantor yang siap menikung dari berbagai lini. Kala itu kesulitan terberatnya adalah tagihan revisi dosen pembimbing atau kisah romansa yang kandas padahal sudah berpacaran sejak semester dua, begitu abu-abu tentang asmara serta keributan di dalamnya.
Bagi yang menanti cintanya pulang, meskipun masih tak punya alasan yang lebih kuat dibandingkan cinta. Ternyata secara diam-diam memohonkan matinya rasa, memohon dipalingkan saja karena keyakinannya ternyata tak lebih kuat dibandingkan bisikan tetangga, “Ada yang melihat kekasihmu menikahi saudagar kaya raya di kota”. Sambil membiarkan rasanya pudar perlahan, tak punya labuhan lain yang bisa dijadikan tempat bersandar, hidup harus tetap berjalan, sakit di hati tidak membuatnya kenyang tanpa sandang dan pangan. Segala yang menyakitkan akan berakhir, doa yang baik untuknya.
Suatu hari nanti yang kita jalani ini akan menjadi sesuatu yang akan kita kenang, betapa nyamannya kala itu, betapa tenangnya waktu itu, betapa sulitnya saat itu, dan ternyata betapa sakitnya hari itu. Sulit mengatakan hanya sebagai ‘sesuatu yang ada di belakang’ karena meskipun benar di belakang, pengalaman menjadi kawan yang selalu berjalan di depan kita untuk mempertimbangkan segala hal nantinya.
Merawat saat ini adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan, barangkali suatu saat akan kita rindukan kehangatan di tengah keluarga atau saat menggigil sendirian.
Jakarta, Maret 2021
Haizulfa
Scandinavian apartment | styling by Copparstad & photos by Boukari
THENORDROOM.COM - INSTAGRAM - PINTEREST - FACEBOOK
Jangan merasa paling terluka, di dunia ini setiap manusia punya porsi lukanya sendiri.
Zulf.
31 Desember 2020
Jika suatu kali kamu menemukan sesuatu yang melampaui harapan, kemudian kamu memutuskan untuk menukarnya dengan hal lain. Pastikan alasannya bukan karena rasa bosan.
Haizulfa | oktober 2020
Manusia selalu berubah. Namun, pernahkan kita berpikir bahwa ternyata kita berubah menjadi lebih buruk tanpa kita sadari?
Haizulfa | 2020/07
“Lihatlah telah sejauh apa kita sekarang. Bukankah dulu, akulah yang kau tahan untuk tidak pergi? Bukankah dulu, kau yang berjanji tak akan pernah pergi?”
— (via mbeeer)
Aku menunggu semalaman, kupikir hanya terlambat. Pahitnya, perlahan aku menyadari bahwa kamu sudah pergi ke tempat yang tidak pernah bisa kujangkau lagi.
haizulfa
Pena sudah diangkat dan tinta sudah mengering. Aku 'mendapatkan' dan 'kehilangan' apa yang seharusnya, menjalani cerita yang sudah digariskan oleh-Nya.
Allah sebaik-baiknya Perencana.
haizulfa
IZINKAN AKU MENJADI IMAMMU
Untuk para suami yang dulu berkata kepada calon istrinya, “Izinkan aku menjadi imammu,” Barangkali inilah waktunya untuk menguji kalimat itu. Hari-hari ini, setiap hari kita di rumah, dituntut menjadi pemimpin yang baik di tengah situasi yang tidak baik-baik saja. Bahkan kita benar-benar diuji sebagai imam shalat, dalam setiap rakaat shalat berjamaah. Juga tarawih. Benarkah kita siap menjadi imam untuk istri dan anak-anak kita?
Ternyata menjadi imam itu berat. Tidak sesederhana seperti kita bayangkan dalam adegan sinetron yang pernah kita tonton. Bukan hanya tentang selepas shalat kita menengok ke belakang, kemudian memandang istri kita dalam balutan mukena, meraih tangan kita dan menciumnya. Waktu-waktu sebelum itu ternyata bikin kita deg-degan. Menguji seberapa pantas kita menjadi seorang pemimpin.
Apakah kita yang mengajak istri dan anak-anak kita untuk shalat? Ataukah kita yang berleha-leha ditegur berkali-kali untuk segera meninggalkan handphone dan TV? Apakah kita yang bersiap lebih dahulu, mengenakan pakaian terbaik, memakai peci, menghamparkan sajadah dan menunggu istri dan anak-anak kita selesai berwudhu? Ternyata menjadi imam itu berat, Saudaraku. Tidak semudah kita yang dulu merayu dengan kalimat itu, “Izinkan aku menjadi imammu.”
Saat kita mengangkat tangan dan mengucap takbir, benarkah kita sanggup membimbing keluarga kita untuk selalu mengagungkan nama Allah, besetia kepada tauhid, berserah sepenuhnya dengan iman, bekerja sekuat tenaga menegakkan kalimat takwa? Istri dan anak-anak kita, mereka yang menjadi makmum di belakang, mendengarkan setiap kalimat yang kita ucapkan, mengikuti setiap gerak yang kita lakukan, apakah kita senantiasa mengajak mereka pada kebaikan?
Untuk para suami yang dulu berkata kepada calon istrinya, “Izinkan aku menjadi imammu,” Barangkali inilah waktunya untuk menguji kalimat itu. Benarkah kita sudah siap menjadi imam yang baik? Yang bacaan serta hafalan kita adalah yang terbaik dari semuanya? Yang makhraj serta tajwidnya tidak keliru? Betapa berat ternyata menjadi imam untuk istri dan anak-anak kita.
Selepas shalat, kadang saya memerhatikan istri saya mengajar mengaji anak-anak. Di sana saya merasa malu, ternyata istri saya membaca al-Quran dengan makhraj dan tajwid yang jauh lebih baik dari saya. Benarkah saya siap menjadi imamnya selama ini? Lalu saya mendengarkan anak-anak menyetor hafalan mereka, surat ini dan itu, berlembar-lembar… Apakah sebenarnya saya yang menguji mereka atau sebaliknya? Betapa malu saya setiap kali muraja’ah tiba. Hafalan anak-anak kadang lebih baik dari hafalan saya.
Untuk para suami yang dulu berkata kepada calon istrinya, “Izinkan aku menjadi imammu,” Barangkali inilah waktunya untuk menguji kalimat itu. Untuk belajar kembali. Menjadi lebih rendah hati. Untuk membuktikannya sebaik-baiknya. Meski kadang, kita perlu tahu, imam yang baik adalah yang mengerti dan mendengarkan ma’mumnya juga. Karena mungkin kita memang bukan yang terbaik, yang bacaan dan hafalannya tidak sempurna.
Tabik!
FAHD PAHDEPIE
📷 @rizqapahdepie memakai mukena produksi ibu dan adik saya @laelikirahmah. Untuk lihat, boleh follow dan cek di IG: @minamuqanna (instagram.com/minamuqanna)