Sejak Kapan?
“𝙺𝚊𝚔𝚎𝚔, 𝚌𝚎𝚙𝚊𝚝 𝚜𝚎𝚖𝚋𝚞𝚑. 𝙰𝚢𝚘 𝚔𝚒𝚝𝚊 𝚖𝚊𝚒𝚗 𝚙𝚕𝚊𝚗𝚎𝚝-𝚙𝚕𝚊𝚗𝚎𝚝𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚝𝚒𝚜𝚜𝚞𝚎 𝚙𝚊𝚗𝚓𝚊𝚗𝚐 𝚕𝚊𝚐𝚒.”
“𝙱𝚒𝚜𝚜𝚖𝚒𝚕𝚕𝚊𝚑𝚒𝚛𝚘𝚑𝚖𝚊𝚗𝚒𝚛𝚘𝚑𝚒𝚖. 𝚈𝚊 𝙰𝚕𝚕𝚊𝚑 𝚜𝚎𝚖𝚘𝚐𝚊 𝚔𝚊𝚔𝚎𝚔 𝚌𝚎𝚙𝚊𝚝 𝚜𝚎𝚖𝚋𝚞𝚑, 𝚊𝚊𝚖𝚒𝚒𝚗!”
Aku tersenyum memperhatikan voice note yang sengaja ku kirim untuk papah. Ku minta anakku untuk mengisi voice note itu. Kemarin mamah menelepon agar kami saling memberi semangat untuk papah yang sedang diisolasi.
Kemarin malam aku coba untuk melakukan video call, namun sepertinya papah sudah tidur. Sebagai gantinya ku kirimkan gambar anakku memegang tulisan “Semangat sembuh, Kakek!” dan juga mengirimkan video anakku juga dengan kata-kata yang mirip, menyemangati agar lekas sembuh.
Lalu tadi pagi, ku coba melakukan video call lagi. Tersambung, namun jaringannya jelek dan video lebih banyak berjeda. Aku melihat rambutnya yang putih dan pipinya yang tirus. Yang membuat hatiku sedikit mencelos adalah sinar matanya. Ia begitu redup, bahkan tidak fokus.
Padahal belum sampai satu bulan lalu kami masih seperti biasa. Sejak enam tahun yang lalu, saat mamah kelelahan dan minta istirahat di tangga mall di pusat grosir terbesar di ibu kota.
Aku menyadari satu hal, sejak kapan kedua orang tuaku sudah tua? Biasanya mamah tak pernah meminta istirahat ketika berbelanja, namun saat itu ia terlihat begitu letih, berjalan pun sedikit tertatih. Rasanya aku terlalu sibuk dengan urusanku, hingga tak menyadari bahkan di tahun depan aku akan menikah.
Kemudian, beberapa tahun yang lalu, aku menyadari hal lain. Aku bertanya sesuatu pada papah, namun papah tak menghiraukanku, seolah aku tak ada di sana. Aku diam, merenung, lalu kuulangi lagi pertanyaanku, hanya saja nada suara kutinggikan, barulah terdengar jawaban dari papah. Lagi-lagi aku tertegun. Sejak kapan kedua orang tuaku sudah tua? Aku benar-benar tak menyadari waktu berlalu begitu cepat.
𝑩𝒆𝒏𝒂𝒓 𝒌𝒂𝒕𝒂 𝑹𝒂𝒊𝒉𝒂𝒏, 𝒅𝒆𝒎𝒊 𝒎𝒂𝒔𝒂, 𝒔𝒆𝒔𝒖𝒏𝒈𝒈𝒖𝒉𝒏𝒚𝒂 𝒎𝒂𝒏𝒖𝒔𝒊𝒂 𝒌𝒆𝒓𝒖𝒈𝒊𝒂𝒏.
Lalu, beberapa minggu ini pun aku kembali tertegun, sesuatu yang paling aku takutkan terjadi, sesuatu yang aku bahkan tak mau membayangkannya. Sesuatu yang memanggil kewajiban kita sebagai seorang anak untuk berbakti.
Allah mulai mengambil sedikit kenikmatan papah, ia mulai sakit. Untuk BAK dan BAB sulit. Sakitnya tak kunjung membaik sehingga mengharuskan ia dirawat. Kemudian di sinilah aku, bertanya-tanya. Semoga saja hal menakutkan lain tidak akan terjadi. Semoga saja waktu kami masih panjang. Semoga dan semoga yang lain.
𝑺𝒆𝒌𝒂𝒓𝒂𝒏𝒈, 𝒂𝒌𝒖 𝒊𝒏𝒈𝒂𝒕𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒎𝒃𝒂𝒍𝒊, 𝒑𝒆𝒓𝒕𝒂𝒏𝒚𝒂𝒂𝒏 “𝒔𝒆𝒋𝒂𝒌 𝒌𝒂𝒑𝒂𝒏” 𝒊𝒕𝒖 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 𝒔𝒆𝒈𝒆𝒓𝒂 𝒅𝒊𝒔𝒂𝒅𝒂𝒓𝒊. 𝑺𝒆𝒈𝒆𝒓𝒂.
Pah, kita memang tak pernah dekat, tapi aku tahu, segala keberuntungan, segala kebaikan yang terjadi dalam hidupku. Bahkan semua kebaikan yang menyentuh hatiku, itu tak lain karena doamu. Doa papah dan mamah.
Ayolah Pah, setelah tertunda satu tahun, tahun ini waktunya kalian pergi menjadi tamu Allah. Ayolah, Pah! Tinggal beberapa bulan lagi, jangan menyerah.













