Menulis atau terlupakan
“Apabila engkau bukan anak seorang ulama atau bukan anak seorang raja maka jadilah seorang penulis.” (Ali Bin Abi Thalib)
Meski tidak semua penulis memiliki motivasi yang sama, mereka harus memiliki keyakinan yang sama, bahwa setiap manusia akan pergi. Jika gajah mati meninggalkan gading, rusa mati meninggalkan tanduk, setidaknya para penulis mati meninggalkan tulisan.
Sebenarnya kata orang menulis itu mudah, menjadi penulis itu yang tidak mudah, butuh kemauan yang keras dan komitmen yang kuat. Tantangannya banyak, halangan dan rintangan yang harus dihadapi tidak mudah.
Keinginan untuk terus menulis sudah sangat kuat, menjaga konsistensi dan komitmen untuk menulis yang sepertinya masih lemah.
Setidaknya itulah yang saya rasakan, awalnya sangat termotivasi, menulis menjadi sangat menantang, merasa apapun bisa menjadi bahan untuk tulisan.
Kemudian tiba pada sebuah titik, sekedar untuk memulai sebuah tulisan pun terasa sangat sulit, mood yang datang dan pergi, ide yang tidak ketemu-ketemu, istilah passion yang hingga saat ini juga belum dapat, sampai jadwal menulis yang belum konsisten. Pada akhirnya semua menjadi alasan untuk tidak menulis.
Bersyukur karena akhirnya saya menyadari, mencoba mengingat pesan sebuah pepatah lama, "Di mana ada kemauan, di situ ada jalan".
Saya duduk bersandar pada ayunan besi milik anak-anak paud yang belum muncul, catnya berwarna-warni, mirip pelangi, tetes embun pun masih terasa sangat dingin, pengaruhnya mampu menyegarkan pikiran saya yang berusaha menyusun resolusi baru, resolusi untuk mempertahankan komitmen menulis.
Sinar matahari mulai nampak dari sela pohon sekitar rumah, menyilaukan pandangan, saya bangkit dan bergegas memasuki rumah, mengambil smartphone yang masih dalam keadaan dicharge, tak ada pilihan ; menulis dan dikenang.
















