Anak: 5 cm
Kedua tanganku terkembang. 8 jari tegak. Hitungan ke 8. Ini yang ke delapan dalam seminggu ini.
"code blue. Code blue. Code blue. Melati 2 kamar.... " Rasanya sangat sering terdengar. Ketika aku dalam jadwal jaga, maupun tidak. Ketika aku di moewardi, atau tidak. bahkan tak jarang terdengar dari kamar kosku.
Kuperkenalkan. Bangsal melati 2, bangsal anak anak di rumah sakit moewardi. Dalam 1 lorong bangsal melati 2, terdapat beberapa kamar pasien, ruang bermain, kamar 8&9 (kamar khusus kemoterapi), dan kamar thalassemia.
Satu minggu ini sudah berkali-kali aku mendengar code blue melati 2. Sebagian besar pasien code blue nya adalah anak anak penderita kanker dalam kemoterapi yang mengalami perburukan. Ada juga seorang adik yang sudah lama koma dan kejang-kejang karena gangguan neurologis dalam otaknya. Selain itu, ada satu anak yang dalam sehari bisa 3 kali code blue. Adik kamar 5A itu dengan penyakit jantung bawaan. Sering sekali apnea.
Pernah satu hari, ketika aku jaga dan mendapat jadwal pengawasan, aku memutuskan bedside disamping pasien.
"Dok, saya bedside aja ya pasiennya" "wah, monggo."
Aku menarik secarik kertas monitoring adik M dari meja nurse station, berjalan menuju kamar 2, dan duduk di samping pasien bed B. Sempat bingung sesungguhnya apa yang akan aku lakukan disamping pasien selain memperhatikan tanda vitalnya.
Sesekali, akhirnya aku mengajak si ibu berbincang. Kuminta si ibu untuk semangat agar adeknya pun semangat. Tak lama, si ibu memutuskan untuk istirahat. Sudah dua hari ia kurang tidur, ungkapnya.
Sementara si ibu tidur di dekat bed si adek, aku menghidupkan hape kemudian membuka aplikasi quran. Aku menggulirkan layar hape, memilih surat apakah yang akan kubaca. Aku memilih as-shaffat. Kumulai dengan ta'awudz dan basmalah. Ayat demi ayat kulantunkan lirih, agar tak membangunkan orang tua si adik yang kelelahan dan tetangga kasur yang istirahat.
Sesekali aku berhenti mengamati tanda vital si adik. Sesekali aku berhenti untuk pindah ke kamar lain untuk memeriksa tanda vital adik adik lain yang dalam pengawasan. Sesekali aku berhenti lantaran ayat yang kubaca.
"sungguh, Tuhanmu benar benar Esa. Tuhan langit dan bumi, dan apa yang berada di antara keduanya, dan Tuhan tempat-tempat terbitnya matahari"
Di ayat ayat berikutnya, as-shaffat mengisahkan tentang keadaan orang musyrik di akhirat, juga kemudian menceritakan keadaan orang mukmin di surga.
Aku terus membaca ayat demi ayat, dengan beberapa kali harus terjeda. Hingga akhirnya sampai pada ayat-ayat terakhir surat.
"Mahasuci Tuhanmu, Tuhan Yang Maha Perkasa dari sifat yang mereka katakan. Dan selamat sejahtera bagi para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam."
--:--
Denyut jantung dan saturasi oksigen tak lagi terdeteksi di alat pulse oxymeter yang aku pasang di jarinya. Napasnya terhenti.
Apnea.
Sungguh epic. Ia tepat tak lagi bernapas dan jantungnya tak lagi berdetak saat aku selesai membaca satu surat as-shaffat.
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (Al-’Ankabut:57)
Allahumaghfirlahu warhamhu wa afihi wa'fuanhu. Surga menunggumu dek...
Pemandangan seperti ini hampir jadi biasa bagiku. Melihat pasien mengalami perburukan, hingga akhirnya menjemput ajal. Tak jarang melakukan usaha bantuan napas dengan bagging, bantuan pompa jantung dengan kompresi jantung, dan lain sebagainya. Aku sesungguhnya khawatir. Khawatir kalau pemandangan seperti ini akan menjadi "biasa" bagiku. Tak bermakna.
Padahal, harusnya aku sadar bahwa sewaktu waktu mungkin adalah giliranku. Giliranku bertemu malaikat izrail. Padahal harusnya aku selalu mengingat kematian dan mempersiapkannya. Kalau bisa, letakkan kematian itu 5cm di jarak pandang, agar selalu ingat bahwa kematian itu hakikatnya dekat dan setiap insan pasti menemuinya. agar tiap hari, tiap jam, adalah satu upaya untuk menjemputnya dengan keadaan yang baik.
ربنا أفرغ علينا صبرا وتوفنا مسلمين "Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).” (QS. Al-A’raaf: 126)
يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu." (HR. Ahmad dan at Tirmidzi)
Sadarlah akan hal-hal yang terjadi di sekitarmu. Peka, dan petiklah hikmah sebanyak banyaknya.
©farha














