Pojok Warung: "antara coretan di lembaran kertas dan harapan untuk selesai"
Asap rokok menggantung rendah di bawah lampu warung yang temaram, melingkar dengan gerak lambat seolah enggan naik ke langit. Waktu pada ponsel menunjukkan pukul tiga pagi, dan malam tampak seolah tak mau menyerah pada fajar.
Warung kopi di pinggiran kota itu masih buka;
"Bukan karena ramai, barangkali, karena sepi juga butuh tempat bernaung."
Di bangku pojok paling belakang, duduk seorang lelaki dengan kaos lusuh, rambut sedikit berantakan, dan mata sembab yang menyimpan lelah lebih dari sekadar kantuk.
Di hadapannya, selembar kertas penuh dengan Coretan dari dosennya di Minggu lalu, ketika ia menemuinya di kampus.
Segelas kopi dingin di atas meja dengan rokok yang tinggal sebatang. Tapi pikirannya masih menolak diam. Ia membaca kembali paragraf terakhir yang ia tulis semalam, berharap menemukan kalimat penutup, semacam simpulan besar, atau titik yang bisa membuat segalanya terasa usai.
Namun pikirnya tidak seperti tulisan ilmiah. Ia tidak mengenal simpulan yang rapi, tidak juga selalu memberi hasil yang sejalan dengan hipotesis awal.
“Kenapa kamu masih di sini, ndra? tanya Paq mus pemilik warung”
“Mau nyari penghapus buat menghapus coretan dosen di kertas, Paq.”
"Walah ndra-ndra, kamu ini becanda terus"
Paq mus tak bertanya lebih jauh. Ia tahu, kadang orang tidak benar-benar butuh jawaban, hanya butuh tempat di mana pertanyaan-pertanyaan bisa hidup tanpa dihakimi.
Di luar, orang-orang belum tidur sepenuhnya. Suara motor sesekali memecah sunyi, tawa sayup dari anak-anak muda yang baru pulang nongkrong, dan denting sendok dari warung seberang menambah semacam ironi. Dunia terus berjalan. Namun di dalam ada sesuatu yang diam. Seperti jam yang rusak, atau mungkin seperti harapan yang menunggu untuk diselamatkan.
Satu-satunya yang bisa ia anggap serius malam itu hanyalah sunyi.
Namun, paq Mus yang barangkali masih memperhatikan seolah ia tak ingin diam. di bangku dapur, sambil mengaduk termos air panas.
“Kopi dingin mu nggak kamu sentuh lagi?"
“ndra! Kadang, akhir nggak perlu untuk dipikirkan. Hidup aja terus. Nanti dia datang sendiri.”
Ya,,,,Barangkali seperti itu paq.
"Tapi jika barang ini tak di selesaikan, apa yang harus saya ceritakan pada orang rumah."
Ia menunduk, membaca kembali revisi yang dibuat dosennya. Di salah satu sisi halaman, ada catatan kecil;
Kamu bisa lebih jujur dari ini, seperti "ketika kamu mengkritik kampus." Tulisan yang baik bukan soal benar atau salah, tapi seberapa berani kamu bicara tentang kenyataan yang kamu tahu.
Barangkali benar yang di katakan, "seringkali laporan akhir di buat atas ketergesaan" atau mungkin selama ini kita hanya menulis untuk menyenangkan pembaca, menyusun data agar terlihat rapi, menyesuaikan pendapat agar sesuai teori, tapi lupa ada yang sedang menunggu dengan penasaran.
Di antara momen ini, ia mulai berpikir kembali tentang tulisan-tulisannya dahulu.
Apakah sudah benar yang saya tulis dahulu?
"seolah ragu pada tulisannya nya sendiri"
Tulisan-tulisan berisi tentang kehidupan kota, tentang pendidikan yang cuma jadi simbol, tentang anak-anak yang tumbuh tanpa masa depan, atau puisi-puisi yang terdengar seperti lagu galau. Walau berpikir begitu, ia tak pernah menyesal. Apa yang pernah ia tulis adalah bagian dari apa yang pernah ia pelajari.
Menurutnya "menulis adalah hal paling sederhana dalam menghargai pikiran," dan selama ini ia menghargai pikiran itu.
Rokok terakhir ia nyalakan perlahan. Asapnya melayang naik, menyentuh cahaya kuning lampu warung, lalu menghilang begitu saja. Ia pikir, mungkin begitulah harapan bekerja. Ia tidak harus besar. Tidak harus terlihat. Cukup ada, cukup terus bergerak, cukup untuk membuat orang duduk di warung kopi pukul tiga pagi dan tetap percaya bahwa segala ini ada gunanya.
Kemudian ia mulai menulis lagi. Tidak untuk mengakhiri, tapi untuk memahami. Kata demi kata ia susun bukan sebagai tangga menuju kelulusan, tapi sebagai jalan kembali pada dirinya sendiri. Ia menulis tentang orang tuanya yang sebagai penyemangat, tentang anak-anak yang terpotong harapannya oleh makan bergizi gratis, atau tentang jalanan yang masih terdengar riuh oleh suara perlawanan.
Langit mulai bergeser. Aroma pagi merayap pelan dari kejauhan.
Segelas kopi datang secara tiba-tiba dari Paq mus tanpa diminta.
“Kayaknya kamu udah nemu akhirnya, ya?” kata Paq mus.
“sebenarnya bukan akhir si, paq. Tapi ini sekedar alasan untuk mulai kembali.”
"Ya,, yang pasti tetap semangat ndra"
"Apa yang sudah di mulai harus di selesaikan"