Dari manusia awal Menuju Kemanusiaan: cerita hawa dan adam
Hawa dan Adam adalah kedua sosok yang telah hidup dalam ingatan manusia selama berabad-abad. Bukan sekadar tokoh dalam kisah penciptaan, hawa dan adam adalah simbol perenungan tentang siapa diri kita sebagai manusia. Dalam beberapa tradisi, Hawa dan adam dipahami sebagai awal dari perjalanan manusia di dunia; "perjalanan yang tidak hanya dimulai dengan kehidupan, tetapi juga dengan kesadaran."
Yang sangat menarik, kisah mereka bukan hanya tentang asal-usul laki-laki dan perempuan, lebih mendasar dari itu; "yaitu, kemanusiaan." Sebelum manusia mengenal perbedaan status, budaya, bangsa, atau sebelum manusia mengenal berbagai identitas yang kini melekat pada dirinya, manusia terlebih dahulu hadir sebagai makhluk yang sadar akan dirinya sendiri dan sadar akan keberadaan yang lain.
Seiring perkembangan jaman dan perbedaan pandangan, Perempuan dan laki-laki mulai dipandang melalui lensa perbedaan; Dari perbedaan biologis, psikologis, sosial, bahkan kultural. Yang kemudian meninggikan satu sosok dan melemahkan sosok lain. Padahal tidak ada perjumpaan tanpa dua keberadaan saling mengakui, "Artinya bahwa, antara laki-laki dan perempuan memiliki kelemahan dan kekuatan masing-masing yang saling mengisi kekosongan." Dan bila di pahami lebih dalam, perbedaan bukan sesuatu yang melemahkan ia justru syarat bagi lahirnya hubungan.
Dalam buku "tahsil al- sa'adah" Al-Farabi menyatakan bahwa tujuan tertinggi manusia adalah mencapai kebahagiaan melalui penyempurnaan akal dan kebajikan. Artinya Dalam pandangan Al-Farabi, perempuan dan laki-laki memiliki potensi yang sama menuju kesempurnaan insani. Sehingga perbedaan bukan Lahir dari perbedaan jenis kelamin atau perbedaan lain yang melemahkan satu jenis, melainkan sejauh mana manusia mengembangkan kebijaksanaan. Dalam pandangan lain oleh Ibnu Sina, yang menurutnya hakikat manusia terletak pada jiwa rasionalnya bukan pada tubu/fisik. Artinya manusia tidak di nilai dari bentuk lahiriahnya melainkan kualitas jiwanya.
Dari kedua Pandangan tersebut mengingatkan bahwa keberadaan perempuan dan laki-laki bukan untuk saling mengalahkan, melainkan saling menyempurnakan. keduanya memiliki peran yang berbeda tetapi berada dalam satu kesatuan kosmis yang sama.
Namun perjalanan sejarah manusia menunjukkan bahwa relasi antara perempuan dan laki-laki tidak selalu berjalan dalam keseimbangan. Sering kali salah satu pihak berusaha mendominasi pihak lain, seolah-olah kemanusiaan dapat tumbuh dari kekuasaan. Padahal dominasi hanya melahirkan ketakutan, sedangkan kemanusiaan tumbuh dari penghormatan. Ketika seseorang diperlakukan sebagai objek, maka yang hilang bukan hanya martabatnya, tetapi juga sebagian dari kemanusiaan orang yang memperlakukan. Dalam kerangka ini, sudah seharusnya perempuan dan laki-laki berdiri pada pijakan moral yang sama; keduanya dipanggil untuk menyempurnakan akhlak dan mengendalikan ego yang sering menjadi sumber ketimpangan dalam hubungan antar manusia.
Dari persoalan di atas muncul pertanyaan yang cukup penting; apakah tujuan akhir dari keberadaan perempuan dan laki-laki adalah sekadar mempertahankan perbedaan mereka? Ataukah perbedaan itu hanyalah jalan menuju sesuatu yang lebih besar?
"Barangkali jawabannya terletak pada kemanusiaan itu sendiri."
Menjadi perempuan bukanlah berhenti pada identitas perempuan. Menjadi laki-laki bukanlah berhenti pada identitas laki-laki. Keduanya adalah cara yang berbeda untuk menjalani pengalaman yang sama, yaitu pengalaman menjadi manusia. Pengalaman mencintai dan dicintai, kehilangan dan menemukan, gagal dan bangkit kembali, berharap dan berjuang.
Dalam bahasa spiritual Jalaluddin Rumi, manusia pada hakikatnya adalah pencari yang sedang kembali kepada sumber asalnya. Semua perbedaan yang tampak di permukaan pada akhirnya mengarah pada satu tujuan yang sama; menemukan makna keberadaan dan mengenal Tuhan. Karena itu, perempuan dan laki-laki bukanlah dua kutub yang harus dipertentangkan, melainkan dua jalan berbeda menuju kebenaran yang sama.
Sehingga Pada akhirnya, Hawa dan Adam bukan hanya kisah tentang perempuan dan laki-laki. Mereka adalah metafora tentang dua sisi kehidupan yang saling melengkapi dalam perjalanan menuju kesadaran yang lebih utuh. Sebab yang paling mendasar dari seorang perempuan bukanlah jenis kelaminnya, dan yang paling mendasar dari seorang laki-laki bukanlah kelelakiannya. Yang paling mendasar adalah kemanusiaan yang berdenyut di dalam diri keduanya.
Dari perjalanan Hawa dan Adam, sesungguhnya bukan perjalanan menuju perbedaan yang semakin tajam, melainkan perjalanan menuju kesadaran bahwa di balik segala perbedaan, kita berbagi hakikat yang sama; menjadi manusia, "Melawan penindasan dan melawan kedzaliman" Sebab, pada akhirnya kita akan kembali pada akar yang sama sebagai hamba.
#mhenlw


















